Friday, September 21, 2018
Home Blog

Warung-warung Kopi di Sekitar Pasar Segar Bintaro

Foto: Ciarciar.com

Minum kopi sudah menjadi budaya masyarakat kita. Di pojok-pojok kota bertebaran warung kopi. Bagaikan cendawan di musim hujan. Meski berdiri berdempetan, tetap saja ada yang datang. Di kawasan Bintaro, daerah Serpong Utara, Tangerang Selatan, misalnya. Warung kopi berjejer dalam jarak kurang dari satu kilometer.

Mari kita mulai dari Pasar Segar yang terletak di Pondok Jagung. Di dalam pasar itu, ada dua warung kopi yang berdiri berdampingan. Graha Kopi dan Laku Kopi. Namun, yang selalu buka hanya Laku Kopi. Graha Kopi jarang buka. Mungkin karena warung kopi milik ahli kopi Hadi Lesmono itu lebih sebagai penyuplai kopi.

Sebab, Laku Kopi dan beberapa warung kopi di sekitarnya juga membeli kopi dari sana. Koleksi kopinya memang lengkap. Berbagai macam kopi dari seluruh Indonesia ada di situ. Baik yang sudah disangrai, maupun belum. Super lengkap.

Suatu hari, saya pernah duduk ngopi di Laku Kopi di Pasar Segar itu. Menikmati sajian kopi panas sambil ngobrol ngalor-ngidul dengan pelayannya. Tidak selalu banyak yang nongkrong di situ. Tetapi selalu ada. Di sini ruangannya terbuka. Jadi bisa ngopi sambil menyulut keretek.

Di luar Pasar Segar, persis pada ruko (rumah toko) di sampingnya, persisnya di Cornelia Residence, ada satu warung kopi lagi. Namanya, Ruang Konspirasi (Kopi dan Inspirasi). Juga punya pelanggan sendiri. Ini jadi tempat kongkow ibu-ibu, orang tua murid sebuah sekolah yang tepat terletak di samping kiri Pasar Segar. Tempatnya nyaman karena berpendingin ruangan.

Foto: Ciarciar.com

BACA JUGA

Ke arah utara dari Pasar Segar, pada jarak tidak lebih dari 400 meter, juga ada warung kopi. Namanya, Djadjan Koffie. Ini bukan ruko seperti warung-warung kopi yang sudah disebut sebelumnya, tetapi sebuah rumah yang disulap jadi warung kopi. Kebetulan berada di pinggir jalan utama.

Hanya sepelemparan batu dari Pasar Segar, persisnya hanya 200 meter ke arah timur, di deretan ruko Carisa, ada juga warung kopi lain. Ruang Kopi Lantai Dasar, namanya. Warung kopi ini pindahan dari ruko Fiera, Pondok Kacang Barat. Sebelum pindah, saya pernah juga ngopi di situ. Kebetulan hanya selangkah dari rumah. Pernah juga rapat urusan kegiatan lingkungan di sini.

Kira-kira 2.500 meter dari Pasar Segar, tepatnya di ruko Althia, juga ada Laku Kopi. Di sana juga nyaman. Ditemani musik yang enak, Anda bisa menyeruput kopi sajian barista terbaik. Tinggal pilih, jenis kopi apa yang Anda suka.

Foto: Ciarciar.com

Warung-warung kopi itu punya pelanggan masing-masing. Para pengunjung, datang, selain ingin menikmati kopi, juga untuk relaksasi. Menikmati suasana lain sambil mengobrol santai dengan sedulur atau teman-temannya. Tidak sedikit pula orang menggelar rapat di warung kopi dalam suasana santai.

Kalau Anda kebetulan main ke kawasan Bintaro, jangan lupa mampir ke warung-warung kopi tersebut. Tinggal pilih, mana yang paling nyaman dengan Anda. Meski warung berbeda, rasa kopi tetap sama. Pahit. Kalau belum biasa, tetap pakai gula biar sedikit manis. Meskipun, ngopi yang sesungguhnya ya tanpa gula. (Alex Madji)

Belajar dari Bloomberg, Bukaka, dan Yosef Ardi

Sahabat saya menilai, nama Ciarciar pada blog saya, Ciarciar.com, tidak menjual. Terlalu primordial, katanya. Meskipun, seorang teman lain menilai, Ciarciar.com sudah “layak jual”. Saya tidak marah dan berkecil hati dengan penilaian sahabat itu. Sebaliknya terpacu untuk membuktikan bahwa penilaiannya keliru. Sebab, semangat saya memang bukan menjual nama, tetapi isi. Isi akan membentuk nama. Kira-kira begitu argumen sederhananya sekaligus pembenaran.

Apalah arti sebuah nama. Begitu kata sastrawan kenamaan Inggris, William Shakespeare. Lebih dari itu, tidak sedikit juga orang yang membaptis nama usahanya tidak berdasarkan pertimbangan layak jual. Tetapi isi. Terbukti mereka sukses besar di kemudian hari.

Sebagai contoh, di pentas internasional, Michael Bloomberg mendirikan kantor berita ekonomi dan bisnis bernama Bloomberg pada 1981. Ambil dari namanya sendiri. Ia kemudian sukses membangun kerajaan bisnis dan menjadi orang terkaya nomor delapan di Amerika Serikat. Dan, Bloomberg menjadi salah satu acuan berita ekonomi dunia saat ini. Sudahlah dasarnya dia memang orang hebat, kaya, dan terkenal. Popularitas dan harta berlimpah mengantarnya menjadi Walikota New York pada 2001. Masih banyak contoh serupa di luar negeri.

Di Indonesia juga banyak kisah senada. Sebutlah Bukaka, milik keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Bukaka adalah nama kampung halaman Jusuf Kalla di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Di sana, di atas sebuah rumah panggung, JK dilahirkan. Saya sudah sampai di rumah tersebut saat mengikuti kunjungan kerja JK ketika ia menjadi wakil presiden untuk Susilo Bambang Yudhoyono 2004-2009. Nama itu kemudian terkenal sebagai perusahaan pembuat “belalai” di seluruh bandar udara Indonesia. Saking terkenal dan berkualitasnya produk Bukaka, orang lupa bahwa Bukaka adalah nama “kampung halaman” JK.

Yang paling cocok dan pas dengan konteks blog ini adalah Yosefardi.com. Tadinya ini blog gratis, yosefardi.blogspot.com, yang diisi oleh pemiliknya bernama Yosef Ardi. Ia orang Flores. Sekabupaten dengan saya, Manggarai. Profesinya juga sama. Bedanya, ia wartawan ekonomi. Blognya berisi tentang analisis-analisis ekonomi.

BACA JUGA:

Tiga Bloger Terkaya Indonesia

Blog tersebut kemudian terkenal dan menjadi website mandiri dengan alamat www.yosefardi.com. Hingga saat ini, di usianya ke-10, Yosefardi.com menjadi sebuah unit usaha berbadan hukum dan menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di pusat-pusat bisnis dunia. Maklum, ia berbahasa Inggris.

Foto: Ciarciar.com

Sebagai sebuah badan hukum, ia mempekerjakan banyak karyawan dan peneliti. Intinya, nama Yosefardi.com menjadi terkenal. Mengapa? Ya karena itu tadi. Ia sangat memperhatikan dan mementingkan isi. Dan, konsisten dengan hal tersebut. Yosefardi.com yang tadinya sebuah blog kini menjelma menjadi badan usaha cukup disegani di bidang ekonomi. Dan, inilah perbedaan paling mencolok kami berdua. Ia sukses sekali dengan aktivitas yang semula sebagai blog. Saya belum.

Bagaimana dengan Ciarciar? Saya memang mengisi blog ini dengan cerita-cerita remeh temeh, tetapi sedapat mungkin dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semula diniatkan khusus bercerita tentang tokoh-tokoh inspiratif. Mulai dari orang hebat sampai orang-orang kecil dan sederhana. Yang penting, ceritanya inspiratif dan bisa mengubah mind set alias pola pikir orang lain untuk bisa segera berubah.

Namun, sesekali saya menuangkan gagasan-gagasan sosial politik yang melintas di kepala. Mengapa politik? Karena sepanjang menjadi wartawan, sebagian besar waktu saya habiskan di desk politik. Hal itu yang membuat ada ketertarikan saya pada isu-isu politik. Meskipun saya bukan ahli dan analis politik kawakan.

Kadang juga memuat tulisan-tulisan reflektif. Ya, tentang situasi batin dan pengalaman harian. Sebab saya juga ingin agar setiap kejadian tidak berlalu begitu saja, tetapi diabstraksi untuk menemukan makna di balik masing-masing peristiwa. Juga ada tulisan-tulisan perjalanan baik tentang tempat wisata maupun kuliner di kategori Peciar. Niatnya, agar isi blog ini tidak hanya inspiratif tetapi juga variatif.

Hanya saja, pilihan tersebut membuat blog ini jatuh pada penilaian tidak fokus oleh seorang teman saya lainnya. “Tidak jelas. Ada makan-makannya pulak,” katanya saat bertemu di sebuah barber shop atau warung cukur rambut di kawasan Graha Raya, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

Apa pun penilaian mereka, poin kuncinya adalah isi tetap harus menjadi perhatian utama. Dialah raja, bila Anda ingin ngeblog. Isi akan membentuk nama. Karena itu, bila Anda sudah punya nama blog, jangan khawatir bahwa nama itu tidak menjual. Yang penting, diisi dengan tulisan-tulisan berkualitas. Bukan hanya pada substansi tetapi juga cara penyampaian. Niscaya, Anda akan setara dengan Bloomberg, Bukaka, dan Yosefardi.com. (Alex Madji)

Antara Sandiaga Uno dan Abah

    Sandiaga Uno (tengah) berlari di Maybank Bali Marathon 2018, Minggu 9 September 2018. (Foto: Istimewa)

    Calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiaga S Uno mengambil bagian pada ajang lomba lari jalan raya Maybank Bali Marathon 2018 yang berlangsung di Bali Safari Park & Marine, Gianyar, Minggu 9 September 2018. Mudah-mudahan ini bukan tebar pesona menjelang pemilu presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2019.

    Ia mengambil kategori 10K dan mendapat nomor BIB 90941. Pada pojok kanan atas tertulis: “wave: AA”. Artinya, ia masuk kategori prioritas berada paling depan dan dekat dengan garis start karena catatan waktunya yang kurang dari satu jam pada ajang yang sama sebelumnya.

    Saya juga mengambil kategori 10K dengan nomor BB 81732. Pada bagian pojok kanan atas juga tertulis: wave AA. Artinya, saya juga berada paling depan alias serombongan dengan Sandiaga Uno. Di belakang kami, ada kelompok pelari dengan kecepatan lebih pelan (BB) dan paling pelan (CC).

    Hanya saja, saya tidak melihat Sandiaga Uno saat berada di dekat garis start. Mungkin karena terlalu pagi. Meskipun, dari malam sebelumnya, saya sudah mendapat informasi bahwa mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini akan mengambil bagian pada ajang lari ini di nomor 10K.

    Pagi itu, saya berlari bersama seorang runner kawakan yang juga wartawan senior Kompas. Ia akrab dipanggil Abah atau di lingkungan tempatnya bekerja dipanggil dengan inisial, Kang Ush. Nama lengkapnya, Agus Hermawan. Seperti Sandi, ia juga sudah ikut lari di mana-mana. Bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

    Terakhir, ia lari di Tokyo Marathon. Sebelumnya, pernah ikut lari maraton di Australia. Dan, ia akan terbang ke Jerman untuk ikut maraton di Berlin. Di Bali Marathon ini, ia hanya mengambil 10K sebagai pemanasan sebelum ke Jerman.

    Pagi itu, saya ngintili Abah. Hingga kilometer empat, kecepatan kami masih sama. Mulai tanjakan menjelang kilometer lima, saya mulai tercecer. Kecepatan saya menurun, sedangkan dia tetap stabil. Pada kilometer-kilometer selanjutnya, saya semakin tertinggal jauh. Padahal, secara umur, dia lebih tua. Namun, pengalaman dan latihan rutin memang tidak bisa dibohongi. Sebagai pelari, apalagi punya komunitas, ia rutin berlatih. Tiga hingga empat kali seminggu. Sementara saya, hanya sekali seminggu. Syukur-syukur bisa lebih. Itu pun dengan jarak 6-8 kilometer sekali lari. Kadang juga bolong alias tidak berlari selama satu minggu.

    Saya dan Agus Hermawan atau Abah sebelum ke titik start nomor 10K di Maybank Bali Marathon 2018 (Foto: Ciarciar.com)

    Alhasil, ia lebih dulu sampai garis finis dengan catatan waktu satu jam dan satu menit. Saya baru menginjak garis finis dua menit berikutnya alias satu jam dan tiga menit atau hampir satu jam empat menit.

    Nah, yang bikin kaget, begitu melewati garis finis dan berjalan ke tempat pengambilan minuman dan pisang serta medali, saya mendengar teriakan dari master of ceremony bahwa Sandiago Uno baru masuk garis finis dengan catatan waktu satu jam dan lima menit. Artinya, saya lebih cepat satu menit dari Sandi. Dengan Abah, ia tertinggal hampir lima menit.

    BACA JUGA

    Sebelum ambil medali, saya dan Abah minum dan melakukan peregangan otot. Kebetulan belum banyak orang yang sampai garis finis, sehingga ruang ke tempat pengambilan medali masih lega. Tidak lama, Sandiaga masuk. Namun, tidak banyak orang yang minta foto bersama. Hanya ada dua tiga orang yang minta swafoto alias selfie dengan mantan orang nomor dua di DKI Jakarta, yang pagi itu bibirnya tampak lebih merah. Satu dua orang pelari juga memanggil namanya dari luar pagar. Mereka berpelukan. Mungkin teman larinya.

    Padahal, saya mengira, sebagai cawapres yang berpasangan dengan Prabowo Subianto, ia akan diserbu para pelari. Terutama wanita-wanita muda yang mengagumi kegantengannya dan anak-anak milenial yang menjadi sasarannya menjelang pilpres 2019, serta emak-emak yang terus “dikelola” belakangan ini.

    Namun, nama Abah justru yang lebih banyak dipanggil orang. Setiap kali lewat di kerumunan orang banyak, masing-masing dengan medali yang menggantung di leher, nama Abah selalu terdengar dipanggil.

    Saya membantin, orang ini terkenal sekali di lingkungan para pelari. Ia bukan hanya dikenal, tetapi juga mengenal banyak pelari. Sambil berlari pun ia berteriak memanggil teman-temannya yang sedang serius berjuang mengalahkan ego. Termasuk, ia memanggil nama Sandi saat berpapasan.

    Para pelari Maybank Bali Marathon 2018 antre mengambil medali setelah menyentuh garis finis (Foto: Ciarciar.com)

    Ia sendiri menyadari bahwa ia terkenal. Saking terkenalnya, ia percaya diri bisa lebih laku daripada Sandiaga Uno bila maju di pilpres tahun depan. Sayang peluang Abah sudah tertutup. Selain tidak ada partai yang mendukungnya, ia tidak punya dana Rp 1 triliun atau lebih untuk membeli perahu partai politik. Tidak apa-apa. Yang penting, Abah lebih cepat dan lebih dikenal di kalangan para pelari.

    Tentu saja, Abah bercanda bahwa dia akan lebih laku dari Sandiaga. Namun, reaksi publik yang sepi di acara lari tersebut hanyalah gejala sangat kecil bahwa Sandiaga perlu bekerja lebih keras lagi untuk makin dikenal dan menarik simpatik masyarakat, terutama kaum hawa dan kelompok milenial. Maka, ke depan, Sandiaga harus lebih banyak tebar pesona lagi pada berbagai acara, termasuk lomba lari seperti ini. Tanpa itu, ia dan pasangannya, Prabowo Subianto, sulit mengalahkan pasangan petahana, Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin. (Alex Madji)

    Lindungi Putra Putri Kita

    Sumber Foto: Satuharapan.com

    Filsuf F Budi Hardiman menulis artikel menarik berjudul “Relaks dengan Gawai” di Harian Kompas, Kamis 2 Agustus 2018. Isinya, refleksi filosofis atas ketergantungan yang begitu tinggi manusia masa kini pada gawai. Hal itu membuat manusia menjadi begitu “kerdil” karena membiarkan seluruh diri, hati, dan pikiran dikuasai. Manusia tidak lagi menjadi orang merdeka, melainkan budak.

    Sebagai budak, orang mudah menyebarkan berita bohong dan gampang mengumbar kebencian. Sebab, hati dan budi kalah cepat dari jempol. Ketergantungan pada gawai juga membuat manusia menjadi pribadi yang tidak punya kehendak bebas lagi. Ia terpenjara. Kemerdekaan sebagai manusia dan ketenangan hidup baru didapatkan setelah batrei gawai habis dan ketiadaan sinyal.

    Beberapa hari setelah membaca artikel ini, saya ngobrol dengan seorang pengemudi taksi daring (online) Go-car dalam perjalanan ke Bandar Udara Soekarno Hatta. Tepatnya, Sabtu 4 Agustus 2018. Namanya Budiyono. Sebagian besar bahan obrolan kami sudah ditulis di blog ini juga.

    BACA JUGA:
    Cerita Sopir Go-car yang Menginspirasi.

    Ada bagian lain dari obrolan itu yang sengaja ditulis terpisah. Selain topiknya berbeda, juga karena pengalamannya seolah menjadi pembenar atas refleksi filosofis F Budi Hardiman. Artinya, apa yang dikatakan Budi Hardiman bukan hanya hasil olah pikir dalam ruang hening, tetapi betul-betul sudah menjadi kenyataan dan terjadi dalam hidup harian.

    Budiyono bercerita, ia punya seorang anak laki-laki yang kecanduan virus gim daring sampai akhirnya berhenti kuliah. Kerja pun ditinggal. Akibatnya, Budiyono pusing memikirkan masa depan putra sulungnya. “Kemarin saya suruh pacarnya datang ke rumah. Saya ceritakan kondisi sesungguhnya supaya kalau memang mau putus, ya sekarang. Atau kalau jalan terus, siap menerima kondisi,” ujarnya saat itu.

    Selama ini, Budiyono menyekolahkan anaknya di sebuah perguruan tinggi. Sebagai ayah, ia melakukan segalanya untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Setiap kali minta uang kulih, selalu dipenuhi. Diminta uang untuk biaya studi banding ke luar negeri pun tidak ditolak. Suatu kali, Budiyono mulai curiga karena anaknya belum tiba di rumah setelah jadwal studi banding di luar negeri usai. Ternyata, putranya tidak keluar negeri. Ia habiskan uang dan waktu untuk studi banding di gim daring. “Kadang sekali main habis Rp 500.000,” cerita lebih lanjut.

    Puncaknya, ketika ia ditelepon pihak kampus. Ia ditanya tentang pembayaran uang kuliah. “Saya kaget. Kok saya ditanya? Padahal saya selalu membayar. Kecuali kalau tidak bayar. Ternyata, uang itu tidak sampai di kampus,” ucapnya.

    Parahnya lagi, ternyata sang buah hati tidak pernah ke kampus. Dari rumah, pamit pergi kuliah tetapi ternyata belok ke tempat lain untuk gim daring. Begitu pihak kampus memberitahu bahwa anaknya tidak mendapat nilai satu pun, ia kaget bukan kepalang. Namun, ia tidak bisa berbicara apa-apa.

    Akhirnya, sang anak yang begitu kalem dan pendiam berhenti kuliah. Sekarang, sehari-hari tinggal di rumah. Karena jengah melihat kondisi demikian, Budiyono memintanya bekerja. Termasuk menjadi pengemudi taksi daring. Sayang, juga tidak berjalan. “Beberapa minggu lalu, akhirnya ia menerima tawaran bekerja di sebuah restoran. Namun hanya bertahan tiga hari. Ya, karena itu tadi. Dari rumah pamit ke tempat kerja, ternyata belok ke tempat lain untuk gim daring. Sekarang kembali diam di rumah,” ungkapnya.

    Apa yang diceritakan Budiyono hanyalah satu contoh dari permenungan filosofis F Budi Hardiman di atas tadi. Putra Mas Budiyono sudah kecanduan gim daring dan tidak bisa melepaskan diri. Masih banyak korban lain, baik akibat kecanduan gim daring maupun karena hidupnya dikuasai gawai. Maka, perlu ada upaya dan kesadaran kolektif untuk menyembuhkan penyakit ini. Salah satu caranya, ya seperti dibilang F Budi Hardiman pada tulisannya. Harus ada keikhlasan untuk meninggalkan gawai.

    Untuk konteks anak-anak kita, orang tua harus terlebih dahulu iklas melepas gawainya agar anak-anak juga bisa iklas tidak bermain gawai. Sebab, anak hanya meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Tanpa kontrol dan contoh yang ketat, maka siap-siap saja pengalaman yang dialami anak Mas Budiyono terjadi pada anak-anak kita. Karena itu, kita sendiri yang harus melindungi anak-anak. Bukan orang lain.

    Sebagai penutup saya mengutip tulisan F Budi Hardiman: “Untuk menjelaskan sikap yang tepat itu, Heidegger bicara tentang Gelassenheit. Kata ini berarti membiarkan (lassen), ketenangan, penjagaan keseimbangan jiwa. Untuk kata Jerman itu, kita punya kata dengan muatan religius, ”ikhlas” dan ”keikhlasan”. Ada kesadaran religius yang disimpan dalam kata itu, bahwa barang-barang di dunia ini nisbi terhadap Sang Pencipta, maka sewaktu-waktu harus kita lepaskan. Agar relaks dengan gawai, kita perlu bersikap ikhlas. Sikap ini tidak timbul dari berpikir kalkulatif, tetapi dari berpikir meditatif, berpikir dengan fokus dan peduli pada keberadaan kita di dunia ini. Kita—demikian kata Heidegger tentang peranti-peranti—”membiarkan mereka pergi setiap waktu” atau ”membiarkan mereka sendirian saja sebagai yang tidak memengaruhi jati diri kita”. (Alex Madji)

    Demokrat Jilat Ludah Sendiri pada Drama Penentuan Cawapres

    Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin (Sumber Foto: Kompas.com)

    Peta pertarungan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 sudah jelas. Pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma’ruf Amin akan melawan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun, pemilihan pasangan dari Jokowi dan Prabowo bagaikan sebuah drama yang penuh kejutan. Saya mengamati, seluruh drama ini berlangsung tiga babak plus satu babak tambahan Partai Demokrat yang pada akhirnya harus menjilat ludah sendiri.

    Drama ini dibuka dengan adegan Rabu, 8 Agustus 2018 tengah malam. Tanpa ada angin dan hujan, politisi Partai Demokrat Andi Arief tiba-tiba menghebohkan jagat dunia maya, twitterland. Ia langsung menyerang Prabowo Subianto dengan sebutan Jenderal Kardus. Alasannya, Prabowo ingkar janji. Ia lebih memilih Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden (cawapres) dibanding Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang adalah putra mahkota Partai Demokrat. Andi Arief juga menuduh Sandiaga sudah membayar Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masing-masing Rp 500 miliar.

    Gelar” Jenderal Kardus ini tentu saja tidak diterima politisi-politisi Partai Gerindra. Mereka membalas. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut sebagai Jenderal Baper. Yang lain menyebut SBY sebagai Jenderal Kardus sesungguhnya. Perang kedua jenderal, yang juga teman satu angkatan di AKABRI, diikuti rentetan pertemuan sepanjang Kamis, 9 Agustus 2018 sejak pagi hingga tengah malam.

    Babak kedua yang berlangsung lebih mengejutkan terjadi di kubu Jokowi pada Kamis, 9 Agustus 2018 sore. Sejak pagi hingga detik-detik menjelang pengumuman, nama Mahfud MD sudah diyakini publik sebagai cawapres Jokowi. Para analis politik di sejumlah televisi sudah meyakini hal itu.

    Tanda-tandanya sangat jelas. Ketika Jokowi bersama Ketua Umum dan para Sektretaris Jenderal partai pendukung berkumpul di Pelataran Menteng, tidak jauh dari situ, Mohamad Mahfud MD menunggu panggilan bersama tim relawan. Ia juga sudah mengenakan kemeja putih, sepadan dengan yang dipakai Jokowi di Pelataran Menteng.

    Sebuah televisi menayangkan secara langsung suasana di Pelataran Menteng dan tempat tunggu Mahfud MD. Beberapa kali disorot, Mahfud MD melakukan percakapan telepon. Entah dengan siapa. Tak lama berselang, ia tiba-tiba menghilang. Drama ini disusul dengan pengumuman Jokowi. Ternyata, ia memilih KH Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Bukan Mahfud MD. Pilihan terhadap Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu sungguh mengejutkan. Ia tidak terduga. Meskipun, ia masuk dalam daftar 10 nama cawapres yang ada dalam saku Jokowi dan termasuk yang berinisial “M”.

    Pilihan Jokowi ini juga mengecewakan sejumlah pihak, termasuk kelompok milenial. Kekecewaan terungkap dalam percakapan berbagai grup whattsapp (WA). Mereka sangat mengharapkan tokoh yang lebih muda dari Ma’ruf Amin untuk mendampingi Jokowi. Mahfud MD adalah pilihan paling tepat. Namun, Jokowi sudah memilih. Pasangan itu sudah dideklarasikan di Gedung Joeang sebelum dilanjutkan dengan pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat, 10 Agustus 2018 pagi WIB.

    Babak ketiga yang berlangsung lebih panjang dan cenderung membosankan terjadi di rumah Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Itu terjadi karena masih adanya tarik menarik soal calon pendamping Prabowo di antara partai pendukung. Sejak Rabu, 8 Agustus 2018 malam, nama Sandiaga Uno sudah beredar yang menyebabkan drama babak pertama terjadi.

    Sementara itu, PKS tetap ngotot supaya Ketua Dewan Syuro mereka, Salim Segaf Al Jufri jadi wapres. Di pihak lain, PAN masih menggelar Rapimnas yang baru berakhir Kamis, 9 Agustus 2018 malam. Hasilnya, mereka mendukung Prabowo sebagai capres dan Zulkifli Hasan serta Abdul Somad sebagai cawapres. Tarik menarik kepentingan ini membuat jadwal pengumuman pasangan Prabowo molor dari pukul 22.00 WIB ke 23.30 WIB. Seperti diduga, tidak ada kejutan berarti seperti yang dilakukan Jokowi. Ia mengumumkan Sandiago Uno sebagai pendampingnya. Pasangan ini mendaftar ke KPU pada Jumat, 10 Agustus 2018, setelah solat Jumat di Masjid Sunda Kelapa.

    Seluruh drama ini akhirnya ditutup oleh aksi Partai Demokrat yang pada akhirnya tetap memilih mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ini adalah pilihan terakhir. Tidak ada yang lain. Sebab rapat Dewan Pembina baru dilakukan di kediaman SBY, Jumat, 10 Agustus 2018 pagi. Saat bersamaan, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin mendaftar ke KPU. Artinya, peluang merapat ke kubu Jokowi tertutup rapat.

    Tidak ada pilihan lain bagi Demokrat, selain harus ke kubu Prabowo. Sebab, abstain pada Pilpres 2019 membuat mereka akan didiskualifikasi dan tidak bisa mengajukan calon pada pilpres 2024. Pilihan ke Prabowo memang pahit. Tetapi harus ditelan. Dan, demi “keselamatan politik”, Partai Demokrat rela menelan ludah sendiri. Sejumlah kadernya sudah menyerang Prabowo dengan sebutan Jenderal Kardus. Sekarang mereka berada dalam “kardus” yang sama.

    Akhirnya, selamat berjuang untuk Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Semoga kalian sukses menjual gagasan, program kerja, dan rekam jejak. Bukan memproduksi berita hoax, tidak menjual propaganda yang memecah belah dan mencabik-cabik persatuan bangsa. Seperti kata Jokowi, jadikanlah pilpres 2019 sebagai pesta yang menggembirakan semua rakyat Indonesia. (Alex Madji)

    Cerita Sopir Go-car yang Menginspirasi

    Saya dapat sopir Go-car yang asyik dalam perjalanan ke Bandar Udara (Bandara) Soekarno Hatta Sabtu, 4 Agustus 2018 pagi. Namanya Budiyono. Ia tinggal tidak jauh dari kompleks tempat tinggal saya. Sama-sama di Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan.

    Hari itu, saya hendak ke Solo, Jawa Tengah, untuk sebuah liputan. Kebiasaan saya, setiap kali naik taksi daring, suka bertanya tentang cara kerja dan pendapatan mereka. Begitu juga dengan Mas Budiyono. Saya merasa perlu menggali pengalaman mereka karena kami pernah mencoba menjalani usaha ini selama lima setengah bulan. Tetapi gagal. Tidak apa-apa. Namanya juga usaha. Pasti ada pengalaman seperti itu.

    Namun, menyimak cerita Mas Budiyono, saya tertegun. Ceritanya enak didengar dan perlu. Tadinya, Mas Budiyono berprofesi sebagai mandor bangunan. Terakhir, dia menangani proyek di Depok, Jawa Barat. Namun lama-lama, bekerja sebagai mandor tidak menguntungkan. Lebih-lebih saat tidak pegang uang dan pada saat bersamaan kebutuhan anak sekolah besar. Ia lalu banting setir menjadi sopir taksi daring.

    Dia baru menjalani profesi ini dua bulan terakhir. Sejak lebaran 2018. Ia berani kredit mobil Xenia matic selama empat tahun. Cicilan per bulannya Rp 3,6 juta. Dalam dua bulan itu, ia sudah menemukan cara kerja terbaik. “Selama satu bulan saya pelajar untuk menemukan model terbaik yang dijalani saat ini,” ceritanya.

    Dari hasil “studi” selama dua bulan, ia memutuskan untuk bergerak di sekitar Tangerang Selatan saja. Khususnya, di daerah Bintaro dan sekitarnya. Ia amat sangat jarang ambil penumpang tujuan Jakarta karena waktunya habis di jalan. Macetnya parah. Belum lagi peraturan ganjil genap yang meluas saat ini. Juga tidak mau nongkrong di mall. Hanya buang-buang waktu, katanya.

    Dia juga tidak mengambil semua orderan. Tarif-tarif kecil seperti Rp 9.000 atau yang belasan hingga Rp 20.000, jarang diambil. Kecuali searah. Misalnya, saat hendak pulang ke rumah ada orderan Rp 9.000 masuk, dia ambil. “Saya hanya mau mengambil orderan minimal Rp 30.000,” ucapnya lebih lanjut.

    Dalam bekerja, ia memasang target. Baginya, hidup ini harus punya target. Pendapatan bersih per hari minimal Rp 300.000. Kalau target minimal tercapai, dia pulang. Jam berapa pun. Kalau jam 13.00 sudah memenuhi target minimal, langsung balik kanan. Tidak jarang ia bekerja seperti orang kantoran alias office hour. Namun, ia tetap tidak ingin memforsir tenaga untuk meraup rupiah lebih banyak. Alasannya, besok lusa, dia masih harus kerja. “Kadang jam 12 siang target minimal sudah tercapai. Kadang baru capai target jam 7-8 malam. Saya tidak mau ngoyo. Karena besok saya masih kerja. Jaga badan,” imbunya.

    Dalam seminggu, ayah dua anak itu bekerja tujuh hari alias narik setiap hari. Dengan pendapatan minimal Rp 300.000 per hari, Budiyono meraih penghasilan Rp 9 juta per bulan. Bisa lebih. Kadang bisa mencapai Rp 10 juta. “Dengan ijazah SMA, belum tentu dapat penghasilan seperti itu,” ujarnya. Saya menimpali, “Jangankan lulusan SMA, sarjana yang sudah bekerja 10 tahun pun belum tentu mendapat penghasilan Rp 10 juta per bulan.”

    Dari penghasilan tersebut, ia sisihkan 3,6 juta untuk mencicil mobil. Sisanya untuk kebutuhan rumah tangga; biaya sekolah anak perempuannya yang sedang duduk di bangku SMA dan anak laki-lakinya yang sudah berhenti kuliah serta keperluan rumah tangga lainnya. Malahan, ceritanya, kalau lagi untung, ia bisa dua kali mencicil mobil dalam sebulan. “Nanti kalau pas lagi tidak untung, saya tidak perlu pusing mikirin cicilan,” ceritanya lagi.

    Dalam dua bulan menjalani usaha ini, Budiyono juga tidak mau nongkrong dengan sesama pengemudi taksi daring. Ia terus bergerak. Kalau tidak dapat order, ia pulang ke rumah. Dengan cara seperti itu, ia bisa menghemat tenaga. “Nanti kalau orderan masuk, baru keluar lagi,” jelasnya.

    Dalam dua bulan, Budiyono yang hanya memakai satu aplikasi taksi daring yaitu Go-car, selalu mendapat penumpang ke Bandara Soekarno Hatta. Dengan tarif rata-rata di atas Rp 100.000, maka target minimal Rp 300.000 per hari bisa tercapai lebih cepat. Orderan-orderan lain cukup untuk membeli bahan bakar.

    Terkait biaya servis mobil, Budiyono mengaku mengganti oli dua kali sebulan. Servis-servis lainnya, tunggu kalau mobilnya yang sudah menyentuh jarak tempuh 80.000 kilometer itu, dirasa tidak enak. “Saya harus merawat mobil dengan baik karena setelah empat tahun, mobil ini menjadi pesangon untuk saya,” ungkapnya.

    Sampai turun di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, kami tidak berhenti bercerita. Tetakhir, dia menginformasikan, tetangga satu kompleks saya punya kontrakan di samping rumahnya. Saya tersedak. Orang lain sudah berlari ke mana-mana, saya masih berkutat sebagai orang gajian. Semoga cerita Mas Budiyono menyalakan lagi semangat yang pernah kami coba jalani, tetapi gagal. (Alex Madji)

    Tentang Inkonsistensi SBY

    Sumber foto: Tempo.co

    Dalam satu minggu terakhir, setelah peluang Partai Demokrat berkoalisi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tertutup rapat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) gencar mengkritik pemerintah. Senin 30 Juli 2018, ia mengungkapkan, jumlah orang miskin selama era Jokowi mencapai 100 juta orang. Sayangnya, saat memberi keterangan pers setelah bertemu Prabowo Subianto, SBY tidak menyebut sumber data. Itu sebabnya, pernyataan tersebut memunculkan kritik balik terhadap mantan presiden dua periode itu. Sejumlah pihak, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla, menyindir SBY.

    Sehari berselang, Selasa 31 Juli 2018, kader SBY di Partai Demokrat yang juga Wakil Ketua Komisi XI di DPR, Marwan Cik Asan menyebutkan, angkat 100 juta orang miskin diambil SBY dari data Bank Dunia. Menurut Bank Dunia, kata Marwan, seorang bisa dikategorikan miskin apabila penghasilannya di bawah dua dolar AS per hari. Dengan asumsi kurs satu dolar sama dengan Rp 13.000, maka diperoleh angka Rp 26.000 per hari atau Rp 780.000 per kapita per bulan. “Maka, penduduk miskin Indonesia masih sangat tinggi, yakni diperkirakan mencapai 47 persen atau 120 juta jiwa dari total populasi,” kata Marwan sebagaimana dikutip dari media daring Tribunnews.com dalam berita SBY Sebut Orang Miskin Indonesia Capai 100 Juta Orang, Kepala BPS Minta Kalau Ngomong Pakai Data.

    Angka yang disampaikan SBY berbeda amat jauh dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), lembaga resmi Pemerintah Indonesia. Menurut BPS, kemiskinan pada Maret 2018 hanya 25,95 juta orang atau 9,82%. Angka ini berkurang 633,2 ribu orang dibanding kondisi September 2017 yang sebanyak 26,58 juta atau 10,12%. Bahkan, ini pertama kalinya sepanjang sejarah, persentase jumlah orang miskin Indonesia berada di bawah satu digit.

    Sekadar membandingkan, masih menurut data BPS, pada Maret 2012, ketika SBY masih berkuasa, jumlah orang miskin mencapai 29,25 juta atau 11,96%. Pada Maret 2014, juga SBY masih menjadi Presiden, jumlah penduduk miskin tercatat 28,28 juta atau 11,25%. Angka ini naik tipis menjadi 28,59 juta atau 11,22% pada Maret 2015. Pada Maret 2016, penduduk miskin turun menjadi 28,01 juta atau 10,86% dan turun lagi pada Maret 2017 menjadi 27,77 juta atau 10,64%. Akhirnya angka itu turun ke 25,95 juta orang atau 9,82% pada Maret 2018.

    Baru, Rabu 1 Agustus 2018, SBY sendiri mengklarifikasi lewat akun twiter. Sebagaimana dibaca pada berita Kompas.com, Melalui Twitter, SBY Klarifikasi soal Pernyataan 100 Juta Orang Miskin di Indonesia. Intinya, sama dengan yang diucapkan Marwan tadi. Sumber datanya adalah Bank Dunia.

    Namun, justru di sinilah kelemahan kritik SBY. Sekaligus memperlihatkan inkonsistensi sikapnya. Sebab, ketika menjadi Presiden, pada 2008, ia meminta pengkritiknya saat itu untuk menggunakan data BPS dalam mengkritik pemerintah. Rekam digitalnya ada. Detik.com 5 Februari 2008 pukul 11.45 WIB memuat berita, SBY Imbau Pengkritik Pemerintah Pakai Data BPS . Dia bilang begini:

    Bagi pengamat, LSM, parpol agar gunakan juga data BPS dalam melakukan kontrol dan kritik ke pemerintah. Saya welcome atas semua masukan karena pasti ada gunanya, asal berdasarkan data dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Presiden SBY saat membuka Rateknas 2008 BPS di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta 5 Februari 2008.

    Kutipan lain dalam berita itu berbunyi: “Jangan saat angkanya baik, kita puji BPS. Tapi angkanya buruk kita marah, tuduh BPS tidak objektif atau terima pesanan. Atau kita menggunakan data pihak lain yang tidak pernah kita pakai sebelumnya. Kita mau konsisten. Jangan buruk muka lalu cermin dibelah,” cetus SBY.

    Setelah berada di luar pemerintahan, SBY tiba-tiba tidak percaya data BPS. Sebagai mantan pemimpin tertinggi negara ini, seyogyanya ia tetap mengacu pada data resmi yang diterbitkan oleh lembaga resmi negara.  Bila sekarang ia tiba-tiba ia tidak percaya pada BPS, mudah ditebak.  Pernyataan itu murni karena kepentingan politik. Ia menyerang Jokowi karena harapan koalisi bertepuk sebelah tangan. Beda halnya bila keinginannya untuk berkoalisi diterima Jokowi dan barisan partai pendukung. Pernyataan seperti yang dilontarkannya dalam satu pekan terakhir niscaya tidak akan terjadi.

    Sumber foto: Tribunnews.com

    Coba lihat pernyataannya ketika hubungan SBY, putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Partai Demokrat masih mesra dengan Jokowi beberapa bulan lalu. Ketika Amien Rais menyerang Jokowi, SBY tampil sebagai pembela. Simak saja berita Tribunnews.com dalam berita berjudul Pesan SBY Ke Amien Rais: Kita Sudah Sama-Sama Tua, Hati-Hati Berbicara.

    SBY mengingatkan Amien Rais agar berhati-hati berbicara dan menyampaikan kritik kepada pemerintah. Dan, kritik harus didasarkan pada data. Bila Amien Rais punya data, silahkan ungkap ke publik. “Kepada Pak Amien, sahabat saya. Kita sudah sama-sama tua, hati-hati berbicara. Biarkan publik menilai siapa yang benar. Kalau pemerintah dikatakan bohong, ya harus disertai dengan bukti,” ujarnya.

    Pembelaan dan kritikan SBY terhadap Jokowi serta serangannya terhadap Amien Rais memperlihatkan bahwa SBY masih seorang politisi. Kawakan pula. Bukan negawaran. Sebagai politisi, sekarang SBY dan Amien Rais berada pada kutub yang sama melawan Jokowi pada pemilu presiden dan wakil presiden 2019. Padahal, idealnya, sebagai mantan presiden, SBY lebih menempatkan diri sebagai negarawan. Bukan politisi.

    Kalaupun tetap bermain di area ini seharusnya tetap menggunakan etika agar tidak mencla-mencle dalam bersikap, termasuk dalam mencomot data. (Alex Madji)

    Warung Makan Anti “Main Stream” di Bali

    Foto: Ciarciar.com

    Matahari sangat terik Sabtu 21 Juli 2018. Panas membakar. Perut juga sudah keroncongan. Tenaga habis setelah hampir setengah hari mengitari objek wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali. Mulai dari melihat patung GWK dari kejauhan, memasuki tempat suci, hingga menyaksikan berbagai atraksi tarian di objek wisata yang dijanjikan rampung 2018 ini.

    Tak jauh dari situ, ada warung makan. Namanya Campur-campur. Semacam warung tegal (warteg) di Jakarta dan sekitarnya. Bedanya, warung ini luas, bersih, dan pilihan menu beragam. Tempat duduknya juga unik. Anda bisa selipkan kartu nama di bawah kaca meja tempat Anda duduk. Selain itu, harga per porsinya murah. Untuk kepala ikan kakap, saya hanya bayar Rp 36.000. Beda dengan harga satu porsi kepala ikan kakap di dekat rumah saya di Graha Bintaro, Tangerang Selatan, yang mencapai Rp 60.000. Padahal rasanya tidak beda jauh.

    Pengunjung warung Campur-campur bukan hanya warga lokal. Bule-bule yang datang dengan mengendarai motor juga makan di situ. Banyak pula jumlahnya. Siang itu warung tersebut sangat ramai. Pengunjung keluar masuk. Silih berganti.

    Namun, yang lebih menyedot perhatian saya adalah dua buah tulisan yang menggantung pada balok. Yang satu, dekat sangkar burung, bunyinya begini, “We don’t have WiFi. Talk to Each Other. Pretend its 1980”. Saya langsung memotretnya. Saat hendak pesan jus alpokad di pojok kiri, di atasnya ada tulisan lain berbunyi, “Still Looking For WiFi? What About Looking WiFe?” Selesai baca ini, tanpa sadar, saya langsung menengok. Mencari istri saya. Ah, dia sudah duduk manis di meja panjang dekat pintu masuk.

    Foto: Ciarciar.com

    Konsep warung ini sungguh anti main stream alias anti kemapanan. Warung makan lain berlomba-lomba menyediakan wifi gratis sebagai penyedot minat pengunjung. Warung makan seperti itu menjadi favorit anak-anak muda zaman sekarang. Di tempat-tempat makan seperti ini, mereka bisa duduk berjam-jam atau bahkan sepanjang hari hanya bermodalkan segelas teh manis. Karyawan kantoran juga lazim menyelesaikan pekerjaannya di tempat-tempat tersebut.

    Warung makan Campur-campur tidak meniru konsep seperti itu. Mungkin pemiliknya tidak ingin warung makannya jadi tempat tongkrongan gratis. Atau kalau pun mau nongkrong di situ, para pengunjung “dipaksa” kembali ke hakikatnya sebagai manusia sosial yang bergaul dan berbicara satu sama lain. Bukan manusia asosial. Itu sebabnya, pesan tulisan tadi terasa sangat kuat dan mengena. “Talk To Each Other”. Bicaralah satu sama lain. Jangan saling diam.

    Pesan ini seakan melawan fakta yang Anda dan saya saksikan setiap hari. Orang saling mengabaikan. Orang terdekat sekali pun. Semua asyik sendiri dengan orang-orang lain di luar sana. Coba saja perhatikan di hampir semua restoran. Satu keluarga duduk di meja makan untuk makan bersama. Namun mereka saling diam. Sibuk dengan telepon pintar masing-masing. Kadang tertawa sendiri. Padahal tidak ada yang sedang bercerita di antara mereka. Ini fakta yang terjadi saat ini.

    Maka penekanan pada tulisan di warung Campur-campur tadi bukan pada ketidaktersediaan wifi. Melainkan, pengunjung harus berbicara satu sama lain. Bila perlu, sambil bicara, menatap mata lawan bicara. Agar, perjumpaan tersebut menjadi lebih bermakna dan berkesan. Lebih dari sekadar makan dan minum bersama. Itu esensinya.

    Lebih repot lagi kalau gara-gara keasyikan bicara dengan “orang-orang luar”, sampai lupa suami atau istri atau anak-anak yang sedang berada di samping. Yang begini juga lazim terjadi. Sangat akrab dan ramah dengan orang-orang lain yang entah berada di mana, tetapi orang yang sedang berada di sisinya di-cuek-in. Pertanyaan-pertanyaan dijawab ala kadar. Malahan, kalau pertanyaan makin banyak, reaksinya sedikit bersungut-sungut.

    Seorang tamu sedang memesan makanan di Warung Campur-campur (Foto:Ciarciar.com)

    Pesan tulisan di pojok kiri atas warung Campur-campur tadi sangat mengena. “What About Looking for WiFe?” Dengan kata lain, janganlah mengabaikan dan meniadakan keberadaan dan kehadiran orang terdekat kita. Sebab, ketika terjadi apa-apa dengan kita saat berada bersama itu, orang pertama yang membantu adalah dia atau mereka yang paling dekat. Bukan orang-orang yang berada di luar sana.

    Dua pesan tadi membuat kami melepas telepon pintar selama makan di warung nasi Campur-campur. Bukan karena tidak ada wifi. Tetapi supaya lebih fokus menghabiskan kepala ikan kakap yang butuh detail menghabiskan isi di antara tulang belulang. Sampai tidak ada yang tersisa. Malahan, karena nasi merah keburu habis, harus tambah satu porsi nasi putih untuk menuntaskan kuah dan ikan yang tersisa. Terlalu lezat.

    Setelah kenyang, kami masih mampir ke warung Gaya Gelato milik orang Italia yang persis berdampingan. Kebetulan tempatnya berpendingin ruangan. Jadi ngadem dulu, sambil anak-anak santap Gelato rasa mangga, sebelum melanjutkan perjalanan ke Uluwatu, menyaksikan tarian kecak pada Sabtu 21 Juli 2018 saat matahari terbenam.

    Yah, semoga pesan “We don’t Have WiFi. Talk to each other” dan “Still Looking for WiFi? What About Looking for WiFe?” terus menjadi pengingat untuk saya dan Anda. Perbanyak bicara dengan orang-orang terdekat. Tinggalkan telepon pintar saat sedang bersama. Jangan mau dikuasai gawai. Kitalah yang berkuasa atas mereka. Itu saja. (Alex Madji)

    Menunggu Kiprah Ahok Setelah Bebas dari Penjara

    Sumber Foto: Okezone.com

    Satu minggu terakhir media daring ramai memberitakan soal bebasnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Berawal dari percakapan di sejumlah grup WA pada Selasa 10 Juli 2018. Namun pengacara mantan Gubernur DKI Jakarta itu, sebagaimana dikutip media daring Beritasatu.com ini, mengaku belum tahu tentang kabar tersebut.

    Sehari setelahnya, media-media yang sama juga memberitakan bahwa Ahok seharusnya bebas bersyarat Agustus 2018. Namun, ia lebih memilih menjalani secara penuh hukumannya. Ia menolak bebas bersyarat. Memilih tinggal di penjaran hingga awal tahun depan.

    Sejak 9 Mei 2017, Ahok ditahan di rumah tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Ia divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena, meminjam kalimat majelis hakim, “terbukti secara sah dan meyakinkan” melakukan penodaan agama. Majelis hakim memvonis Ahok melanggar pasal 156 KUHP tentang penodaan agama terkait pernyataannya soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

    Gara-gara kasus ini, Ahok tidak menyelesaikan masa jabatannya sebagai gubernur. Keburu masuk penjara. Jabatannya dilanjutkan Djarot Syaiful Hidayat. Eksploitasi atas kasus Ahok membuat keduanya juga gagal terpilih kembali. Padahal, Ahok-Djarot tergolong sukses dan benar-benar bekerja untuk warganya. Akhirnya, mereka digantikan Anies Baswedan-Sandiaga S Uno, Gubernur DKI Jakarta saat ini.

    Setelah Ahok bebas, ia tetap akan menjadi figur yang menarik diikuti kiprahnya. Ke mana pun ia pergi dan apa pun aktivitasnya, ia tetap akan menjadi santapan media. Kisah asmaranya, setelah cerai dari Veronica Tan, juga tak luput dari perhatian media.

    Apakah Ahok akan menjauh dari dunia politik? Pertanyaan ini menggelitik saya. Sebagai zoon politicon yang berada di atas rata-rata dari warga lain, Ahok tidak akan jauh-jauh dari dunia itu. Ia manusia politik dan tetap ingin menyampaikan suara kenabian lewat peran politik.

    Kalau saja Ahok menerima bebas bersyarat, maka kiprah politik Ahok justru akan “menyemarakkan” pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) 2019. Selama ini, Ahok dipersepsikan sebagai tokoh yang dekat dengan Joko Widodo (Jokowi) yang akan maju lagi untuk periode kedua. 2019-2024. Bisa dimengerti. Ia pernah menjadi wakil Jokowi di DKI Jakarta sebelum terpilih sebagai Presiden 2014. Karena itu, pada demo berjilid-jilid tahun lalu, Ahok disebut-sebut hanya menjadi sasaran antara. Target utamanya adalah Jokowi. Untunglah, upaya menjatuhkan Jokowi di tengah jalan, memanfaatkan momentum kasus Ahok, gagal total.

    Sekarang, kelompok yang sama mengalihkan perhatian untuk menghentikan langkah Jokowi secara konstitusional lewat pilpres 2019. Kelompok ini, dipelopori PKS dan Partai Gerindra, mengkampanyekan tanda pagar (tagar) #2019GantiPresiden. Gerakan tersebut coba diperluas ke daerah, selain Jakarta. Solo sudah mencobanya.

    Hantaman terhadap Jokowi akan kembali menemukan momentumnya dengan bebasnya Ahok. Apalagi kalau mantan Bupati Belitung Timur itu langsung aktif di dunia politik menjelang Pemilu legislatif dan Pilpres 2019. Bergabung dengan partai apa pun dia, partai itu akan dihantam dengan isu pembela penista agama.

    Begitu pun kalau ia dengan terbuka dan terus terang mendukung Jokowi. Jokowi akan dihantam isu pembela penista agama. Selanjutnya sudah jelas. “Jangan pilih pembela penista agama,” kira-kira begitu bunyi kampanye penentang Jokowi nantinya.

    Tentu saja ini akan menjadi pukulan serius untuk Jokowi. Sebab isu agama masih akan laku pada pesta demokrasi lima tahunan ini. Maka pilihan Ahok untuk bertahan di Mako Brimob hingga awal tahun depan akan membuat kegaduhan menjelang pilpres sedikit berkurang. Meski demikan, begitu bebas murni tahun depan, sebaiknya Ahok istirahat dulu dari dunia politik. Untuk sementara. Mungkin pada pemilu berikutnya, baru muncul lagi. Tentu dengan lebih tegar dan bersahaja. Penuh kekuatan baru pula. Atau siapa tahu setelah pemilu tahun depan, ia mendapat jabatan politik. Sayang kalau orang berkualitas seperti dia tidak diberi tempat untuk menciptakan kebaikan umum.

    Namun siapa yang bisa melarang Ahok melakukan “moratorium” politik? Tidak ada. Itu dunianya. Sama halnya, tidak ada orang yang bisa melarang Ahok berbicara tentang apa pun. Sebab begitulah dirinya. Ia tidak mau menjadi yang lain. Ia tetap ingin menjadi diri sendiri. Karena itu, tetap saja menarik menyaksikan kiprah Ahok setelah keluar penjara. Dan, semoga kekuatan yang ditimba di rumah tahanan akan semakin menguatkannya untuk terus berbuat baik bagi banyak orang. Kalau bukan lewat politik, lewat cara lain yang sesuai hati nurani. (Alex Madji)

    Beberapa Artikel Ciarciar Nangkring di Halaman Depan Google Loh

      Sumber Foto: Ciarciar.com

      Saya coba iseng berselancar di Google, Kamis, 5 Juli 2018 malam, sambil menemani anak-anak menonton televisi dan menunggu istri pulang kerja. Tiba-tiba saya teringat nama pengusaha terkenal, Pontjo Sutowo. Saya mengetik nama itu sebagai kata kunci pencarian. Astaga, artikel berjudul “Kunci Sukses Seorang Pontjo Sutowo” muncul di halaman terdepan. Urutan ketiga pula dari 29.500 hasil pencarian.

      Artikel ini sudah lama saya unggah, 3 Desember 2013. Disajikan dalam bentuk tanya jawab, setelah saya mewawancarainya di ruang kerjanya di The Sultan Residence, Senayan, Jakarta.

      Menempati halaman terdepan Google menjadikan artikel ini sebagai yang terpopuler di Ciarciar.com. Ia bertahan duduk di tempat teratas untuk waktu yang lama. Sebelumnya, ia masih kalah dari artikel “Menyalakan Lentera Kegelisahan” yang diterbitkan 7 Februari 2014. Sekarang, artikel ini turun ke posisi kedua di daftar artikel terpopuler.

      Kemudian, saya mengetik kata kunci “Marcus Gideon Bulan Madu”. Artikel berjudul “Selamat Berbulan Madu di Labuan Bajo Marcus Gideon” berada di halaman dua mesin pencari Google dari sekitar 34.500 hasil pencarian. Artikel ini tergolong baru. Sinyo, sapaan Marcus Fernaldi Gideon, belum lama menikah dan berbulan madu di Labuan Bajo. Artikel tentang bulan madu ini diterbitkan 18 April 2018 ketika Sinyo sedang berada di Labuan Bajo.

      Urutuan berikutnya ditempati artikel berjudul “Menimbang Peluang Gatot Nurmantyo Menuju 2019”. Dengan kata kunci “Peluang Gatot Nurmantyo di 2019”, artikel yang terbit 16 April 2018 ini berada di halaman tiga Google dari 206.000 hasil pencarian.

      Terakhir, saya masukkan kata kunci “Arjen Roben ke Labuan Bajo”. Dari sekitar 58.200 hasil pencarian, artikel berjudul “Piala Dunia, Arjen Robben, dan Labuan Bajo” yang diterbitkan 16 Juni 2018 berada di halaman lima Google. Masih jauh. Untuk kelas weblog, artikel ini kalah dari artikel “Bersama Keluarga, Arjen Robben Berlibur di Labuan Bajo” dari Floresa.co besutan beberapa kawan saya.

      Meski belum banyak artikel yang tembus halaman paling depan Mbah Google, tetapi terdaftar di halaman-halaman awal mesin pencari raksasa itu saja sudah senang untuk ukuran blog yang pembaruannya tunggu ada inspirasi. Minimal, dengan nongol di halaman-halaman awal, saya semakin termotivasi untuk terus menulis. Harapannya, ke depan makin banyak artikel yang terpampang di halaman depan mesin pencari Google. (Alex Madji)

      Terkini