Home Inspirasi Caffeela Go Digital

Caffeela Go Digital

119
0
SHARE

Judul itu saya beri setelah mengikuti dua buah diskusi pada bulan Juli dan September 2019. Pertama, saya hadir pada sebuah acara talk show gratis bertajuk “Pemanfaatan Platform Digital untuk Memperluas Usaha UMKM” di Jakarta Convention Center Minggu 14 Juli 2019. Kedua, pada 10 September 2019, saya mengikuti seminar sehari, kerja sama Bekraf dan Gojek di Gedung Smesco. Judulnya, Gerobak Maya.

Dari dua acara itu, muncul sebuah benang merah seperti tertuang dalam judul di atas. Sebab, muara kedua acara ini sama. Mendorong UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) masuk ke dunia digital baik media sosial maupun market place atau pasar dalam jaringan (daring) alias toko online.

Para pembicara pada dua acara itu bagus-bagus. Ada dari Google dan Gojek. Ada juga dari pelaku usaha UMKM yang sudah sukses seperti penyiar radio Nycta Gina yang menekuni bisnis hijap sejak mengubah penampilannya dengan mengenakan hijap. Mereka semua menekankan pentingnya berjualan secara digital baik di media sosial maupun market place.

Mengapa? Karena pengguna internet di Indonesia makin tinggi dan belanja online terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal itu dimungkinkan karena akses internet juga semakin luas dan menjangkau makin banyak rakyat Indonesia.

Pada acara talk show Bank Indonesia bekerja sama dengan Google, Gina ditampilkan sebagai contoh kisah sukses berdagang digital. Ia mula-mula mengerjakan semua hal seorang diri, tetapi belakangan stafnya terus bertambah.

BACA JUGA: Caffeela dan Ikhtiar Membantu Petani Kopi Wela

Majunya usaha Gina karena dia sudah masuk ke dunia digital. Ia berjualan lewat Instagram. Sebagai figur publik, pengikutnya buanyak. Ia pun memanfaatkan peluang tersebut. Seiring makin meningkatnya pesanan, ia harus merekrut orang khusus untuk mengurus administrasi dan belakangan perlu ada tukang foto. Modelnya, ya, Gina sendiri. Singkat cerita penjualan Gina terus meningkat setelah dia go digital.

Pada acara Grobak Maya, pembicara dari Gojek, Fikri menghadirkan salah satu penjual ayam penyet di aplikasi Gofood. Namanya Muhamad Fikri. Tadinya, dia adalah driver Gojek, sedangkan istrinya buka warung nasi. Sebagai driver, ia sering mengambil pesanan pelanggan. Dari situ dia menyimpulkan bahwa ayam penyet paling disukai penyuka kuliner.

Maka ia meminta istrinya membuat ayam penyet di kawasan Fatmawati dan daftar di Gofood. Satu bulan pertama tidak banyak yang pesan. Tetapi dia tidak putus asa. Dia lalu evaluasi. “Kami perbaiki, oh mungkin sambelnya kurang, karena kunci menu seperti ini ya di sambelnya. Setelah kami perbaiki, alhamdulilah pesanan makin banyak,” ceritanya.

Setelah warung makin ramai, bukan hanya karyawan yang ditambah tetapi juga jam bukanya juga menjadi 24 jam. Lebih dari itu, ia membuka gerai baru. Total, ia sudah memiliki empat gerai ayam penyet yang jaraknya dalam radius lima kilometer. Kunci sukses lain Pak Fikri adalah dia melayani para driver Gojek yang mengambil pesanan di gerainya dengan total. Bahkan ia membuat undian dengan hadiah smart phone.

Kembali lagi, kesuksesan Pak Fikri karena ia masuk ke market place, Gofood. Langkah itulah yang mengubah hidupnya dari seorang driver Gojek menjadi pengusaha kuliner yang sukses. Meskipun masih berstatus sebagai driver aktif, dia sudah berstatus sebagai pengusaha kuliner sukses.

Lalu bagaimana Caffeela? Saya coba menerapkan apa yang dianjurkan para pembicara itu. Makanya Caffeela sudah daftar di market place Toko Pedia dan Google My Business beberapa waktu lalu. Sejauh ini memang belum ada hasilnya. Artinya belum ada order yang masuk. Tetapi data di Google memperlihatkan viewers-nya terus naik setiap hari. Bahkan pihak Google Map pernah menelepon untuk verifikasi alamat toko.

Apa pun, ini langkah awal memasuki era digital dan sudah masuk ke market place. Soal hasil, waktu yang akan menjawabnya. Mudah-mudahan, dan ini doa, nanti ada hasilnya seperti yang dialami Nycta Gina dengan hijapnya dan Muhamad Fikri bersama ayam penyetnya. (Alex Madji)