Home Umum Absurditas Batu Akik

Absurditas Batu Akik

1166
0
SHARE

Kamis, 5 Februari 2015 siang, saya jalan ke gedung Patra Jasa, di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tujuan utamanya adalah mengambil uang di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang terletak di bagian depan gedung itu. Setelahnya, saya hendak makan di kantin belakang kantor tersebut. Di antara gedung utama dan kantin, ada jalan. Di sana, berjejer beberapa mobil yang sedang parkir.

Saat saya lewat, ada seorang pria paruh baya, mungkin sopir, berdiri di samping sebuah mobil sedan warna hitam. Dia menggendong sesuatu terbungkus kresek hitam di tangan kanannya. Sementara tangan kiri memegang sebuah benda kecil. Aksinya cukup mencuri perhatian. Semakin dekat, saya lalu memastikan bahwa yang digendongnya itu adalah batu grinda dan tangan kirinya memegang sebuah cincin batu akik. Dia terus menggosok cincin batu akik itu pada gerinda.

Saya terus berjalan menuju ke belakang. Di samping masjid, ada kantin-kantin sederhana. Tetapi akhirnya batal makan karena selain tidak ada tempat duduk, menu yang ditawarkan tidak sesuai selera. Saya pun balik kanan. Di dekat tempat tadi, saya tidak menemukan lagi bapak tua yang sedang menggosok batu akik. Dia sudah pergi, entah ke mana.

Di kantor saya, ada seorang senior yang juga gemar dengan batu akik. Tiap hari dia gonta ganti batu. Kemungkinan, dia memiliki stok lebih dari satu. Dan, setiap hari, dia memperlihatkan aksi unik. Setiap kali rapat, batu akik yang dikenakan pada jari mani selalu digosok-gosok pada pahanya. Pernah saya berujar, “Pak hati-hati, jangan sampai nanti menyentuh barang yang di dalam.” Candaan itu disambut dengan derai tawa sambil menjelaskan batu yang dipakainya itu.

Pada kesempatan lain, saya juga menyaksikan orang yang sambil menunggu angkutan umum menggosok-gosok batu akik entah pada baju atau celana. Ada yang bilang, tindakan menggosok itu bermaksud supaya batu-batu itu makin mengkilap. Semakin digosok semakin cemerlang, dan semakin indah. Ada sensasi tersendri di sana.

Ada lagi fakta aneh terkait dengan batu akik ini. Seorang perempuan mengirim pesan di sebuah mailing list alias milis. Dia meminta warga milis mendoakannya. Sebab dia yang sedang berjuang melawan kuasa kegelapan yang, katanya, dikirim dari Banten. Kuasa-kuasa gelap itu masuk dalam cincin batu akik. Sudah ada dua cincin batu akik yang dia buang, tetapi kuasa kegelapan datang lagi melalui cincin batu akik lainnya yang dikirim dari Banten. Kuasa-kuasa kegelapan yang masuk melalui cincin batu akik ini, katanya, mau menghancurkan kehidupan rumah tangganya.

Untuk saya, fakta-fakta di atas cukup mengundang tawa. Lucu. Mereka yang teridap demam batu akik terilusi oleh cerita tentang keindahannya. Demi keindahan ini lalu mereka menggosok tanpa kenal lelah dan tempat. Hal inilah yang membuat saya tertawa geli.

Padahal memakai batu dengan keindahan yang paling sempurna pun tidak akan mengubah kondisi sang pemakai. Kalau bawaan oroknya jelek, maka dia tidak bisa tiba-tiba menjadi ganteng dengan memakai batu akik. Atau kalau aslinya minder, dia tidak bisa serta merta menjadi “full confidence”. Atau dengan memakai batu akik, dia tidak bisa mendadak kaya. Kalau ada yang berpikir bahwa dengan pakai batu akik dia lebih ganteng, lebih percaya diri, atau tampak lebih kaya atau lebih hebat, itu hanya ilusi. Tidak sesuai kenyataan.

Mungkin karena itu pula, seorang blogger Kompasiana menulis lelucon tentang topik pembicaraan Presiden Jokoo Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto saat bertemu di Istana Bogor. Dalam pertemuan itu, keduanya berbicara tentang berbagai model batu akik seperti BW, BG, AS sambil mengeluarkan batu-batu koleksi mereka. Tetapi kepada wartawan keduanya kompak berbicara tentang silat. Ini sebuah candaan tetapi sesungguhnya sebuah kritik.

Kadang-kadang demam batu akik ini juga menjadi absurd. Di luar nalar. Simaklah fakta terakhir yang saya ceritakan di atas tadi bahwa ada batu akik yang disusup kuasa kegelapan. Bagaimana kuasa kegelapan itu masuk ke dalam batu akik? Bagaimana sistem kerjanya di dalam? Dan bagaimana pula dia bisa merusak hubungan antar orang dalam keluarga; hubungan atarsuami dan istri serta hubungan orang tua dengan anak-anak? Sangat sulit dijelaskan dan diterima akal sehat.

Tetapi itulah fakta yang sedang hidup di tengah masyarakat kita. Kadang euforia batu akik ini, dengan segala kekonyolannya, menjadi hiburan tersendiri di tengah karut marut dunia perpolitikan saat ini. Di sisi lain, euforia ini menyimpan absurditas yang mengidap sebagian masyarakat kita. (Alex Madji)