Ad Multos Annos Suara Pembaruan

    313
    0
    SHARE
    Tumpeng ulang tahun ke-31 Suara Pembaruan. (Foto: Istimewa)

    Minggu, 4 Februari 2018 adalah hari ulang tahun harian umum sore Suara Pembaruan ke-31. Karangan bunga ucapan selamat dari sejumlah lembaga dan instasi sudah dipajang di pintu masuk bagian belakang Gedung Berisatu Satu Plaza (Bagusnya sih dipasang di pintu masuk bagian depan) dan di lantai 11 gedung itu.

    Ulang tahun kali ini dirayakan secara sederhana dan dalam rasa keprihatinan di ruang redaksi. Yang paling mendasar adalah terancamnya kehidupan media cetak akibat munculnya berbagai media era baru (New Media) yang dari hari ke hari makin meredupkan hidup media cetak.

    Krisis keuangan 1998 juga menghantam perusahaan pers di Indonesia, termasuk Suara Pembaruan. Belum pulih dari masalah itu, datang gelombang lebih dahsyat lagi yaitu revolusi media digital sejak awal 2000-an.

    Munculnya media-media online yang disebut new media melibas semua media massa cetak, termasuk media arus utama seperti Suara Pembaruan. Belum lagi, media sosial yang begitu riuh beberapa tahun terakhir semakin mempersulit posisi media cetak.

    Tumpeng ulang tahun ke-31 Suara Pembaruan. (Foto: Istimewa)

    Revolusi media digital sudah memakan banyak korban. Sejumlah koran, majalah, dan tabloid sudah tutup. Sebagai contoh, koran sore Sinar Harapan sudah berhenti terbit. Beberapa majalah di bawah Kelompok Kompas Gramedia juga sudah tidak beredar lagi. Belum lagi media-media cetak yang hanya bertahan hidup 5-6 tahun.

    Di tengah situasi seperti itu, Suara Pembaruan tetap berdiri. Dengan segala keterbatasannya, koran itu tetap berjuang hadir menyapa pembacanya setiap sore, kecuali hari Minggu.

    Edisi Minggu pernah ada, tapi kemudian tidak terbit lagi sejak beberapa tahun lalu. Edisi minggu digabung dengan edisi Sabtu. Meskipun, artikel-artikel khas akhir pekan tidak tertampung lagi di edisi tersebut.

    Sekarang, Suara Pembaruan tampil dengan jumlah halaman yang lebih tipis. Jumlah awak redaksi juga tidak segemuk dulu lagi. Beberapa departemen dihapus. Semua itu dilakukan agar koran ini tetap bisa hadir menyapa pembacanya.

    Media-media cetak lain juga melakukan hal serupa untuk bisa bertahan di tengah gempuran revolusi media digital. Bahkan koran-koran dengan modal besar juga mengurangi jumlah halaman, karyawan, biro daerah, dan berbagai bentuk efisiensi lainnya.

    Meski tampil lebih ramping, Suara Pembaruan tetap rutin hadir menyapa pembaca Senin-Sabtu. Semoga berita-berita koran ini benar-benar bisa membawa pembaruan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Akhirnya, ad multos annos Suara Pembaruan. Makin Jaya.