Home Inspirasi Ada Pastor Mualaf?

Ada Pastor Mualaf?

4701
SHARE


Sebuah Grup BBM (Blackberry Messanger) memunculkan gambar sepasang kekasih yang baru selesai melangsungkan akad nikah. Pengantin pria mengenakan jas dengan kalungan bunga di leher serta kopiah di kepala. Sedangkan pengantin putri yang mukanya pas-pasan mengenakan kebaya putih dengan bawahan batik putih bercorak. Sangat sederhana. Bukan hanya foto. Ada juga undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan mereka yang berlangsung di kawasan Rawasari Jakarta Pusat, pekan lalu, tepatnya 8 Juli 2012. Pengantin itu didampingi empat orang, masing-masing berdiri di sisi kiri dan kanan pengantin pria dan wanita. Tidak dijelaskan siapa mereka.

Di sebuah mailing list, foto ini juga beredar diikuti diskusi panjang tentang pengantin pria pada foto tersebut. Diskusi yang sama terjadi di grup BBM tadi. Isi diskusi di dua media itu sama. Ungkapan kekesalan, kemarahan, dan rasa tidak percaya bahwa peristiwa itu terjadi.

Kenapa? Karena Sang Pengantian Pria adalah seorang pastor Katolik yang memilih mundur setelah menjadi pastor selama bertahun-tahun (mungkin lebih dari 20 tahun) dan menikah. Saya mengenal pastor ini, meski tidak pernah menjadi anak bimbingannya. Dan saya tidak perlu mengungkapkan namanya dalam tulisan ini karena alasan etis.

Sebenarnya, kalau hanya menikah tidak soal. Sebab tidak sedikit pastor yang meninggalkan imamat lalu menikah, atau terpaksa menanggalkan jubahnya karena sudah terlebih dahulu kawin dengan perempuan. Urusan para pastor meninggalkan imamat lalu kawin, sudah lumrah. Yang membuat orang marah, paling tidak anggota Grup BBM dan mailing list tadi, adalah bahwa dia menikah secara Islam.

Sebagian besar dari anggota Grup BBM dan mailing list itu seolah tidak menerima dan percaya bahwa seorang mantan pastor menikah secara Islam. Belum jelas benar, mengapa itu yang dipilih. Tentu dia punya alasan dan pertimbangan. Patut diduga adalah demi asas legalitas (karena sang mantan pastor itu adalah ahli hukum gereja). Sebab, dia tidak bisa menikah secara Katolik sebelum proses pengawamannya diterima Vatikan. Untuk yang terakhir ini bukan perkara mudah. Butuh waktu panjang untuk mendapat persetujuan dari Vatikan.

Persoalan yang lebih berat dan yang saya duga menjadi dasar kemarahan anggota grup BBM dan mailing list tadi adalah apakah dia menjadi mualaf, sebelum melangsungkan pernikahan secara muslim? Ini juga belum ada jawaban yang pasti. Informasi terkait masalah ini masih simpang siur. Kemungkinan kemarahan orang menyeruak karena menduga bahwa sang mantan pastor sudah mualaf alias pindah keyakinan dari Katolik menjadi Islam. Bahkan khabar lebih serem mengatakan bahwa dia akan menjadi da’i (pendakwa) karena sakit hati dengan gereja dan tarekatnya. Dia akan melakukan aksi balas dendam. Tetapi informasi ini juga masih sumir.

Ada pula informasi, berdasarkan sumber terpercaya salah satu anggota mailing list tadi, bahwa sang mantan pastor tidak meninggalkan imannya alias tetap menjadi seorang Katolik, meski sudah menikah secara Islam. Tetapi apakah bisa melangsungkan pernikahan secara Islam, tanpa menjadi mualaf terlebih dahulu? Nah, ini yang belum saya paham.

Jadi, dari cerita tadi, hanya satu hal yang pasti jelas yaitu bahwa sang pastor tadi meninggalkan imamat lalu menikah secara Islami. Yang lain-lainnya yaitu apakah dia mualaf atau tetap menganut Katolik, tidak jelas. Hanya sang mantan pastor itu dan Tuhan yang tahu persis. (Alex Madji)

Foto: Ilustrasi diambil dari Mbah Google