Ahok Dipenjara, Lawan Jokowi Cari Strategi Baru

Ahok Dipenjara, Lawan Jokowi Cari Strategi Baru

757
SHARE
Ahok berfoto bersama pegawai Rutan Cipinang (Foto: Grup WA)

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara akhirnya menjatuhkan hukuman dua tahun penjara kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penistaan terhadap agama Islam pada sidang, Selasa, 9 Mei 2017. Selain itu, hakim juga memerintahkan Gubernur DKI Jakarta itu untuk langsung ditahan. Maka setelah divonis, ia dibawa ke Rumah Tahanan (Rutan) Cipinang. Setiba di sana, pegawai Rutan rebutan berfoto dengan Ahok yang tetap tersenyum.

Banyak yang sedih dengan vonis ini. Tidak sedikit orang menitikkan air mata, terutama ibu-ibu. Jagat dunia maya juga langsung heboh. Ahok jadi topik paling hangat di Twitter hingga sore harinya. Tanda pagar (tagar) RIPhukum menjadi topik paling hangat nomor dua.

Bagi Ahok dan para pendukungnya, putusan pengadilan ini seperti sudah terjatuh tertimpa tangga pula. Sudah kalah dalam Pilada DKI Jakarta, divonis bersalah pula dan dijebloskan ke penjara. Tentu saja tragis. Bagi, kelompok bumi datar, putusan tersebut cukup melegakan. Artinya, majelis hakim ternyata mendengar teriakan “minta tolong” mereka selama ini.

Kesan ini sulit terhindarkan. Sebelum sidang pembacaan tuntutan, GNPF (Gerakan Nasional Pembela Fatwa) MUI melakukan aksi, Jumat 5 Mei 2017 yang mereka sebut aksi 55. Mereka meminta hakim untuk tidak bermain-main dengan hukum dalam kasus Ahok. Mereka mendesak Ahok dihukum maksimal, melebihi tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Tuntutan ini akhirnya terjawab.

Saya melihat, vonis bersalah terhadap Ahok ini sekaligus membuktikan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak melindungi Ahok. Selama ini, Jokowi distigmakan seakan-akan mengayomi Ahok. Maklum, keduanya adalah pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, sebelum Jokowi terpilih pada Pilpres 2014 dan Ahok naik menjadi gubernur.

Vonis penjara terhadap Ahok juga menjawab keraguan mantan Ketua MPR yang juga Ketua Umum PAN Amien Rais terhadap integritas Jokowi. Sebelum sidang pembacaan tuntutan, Amien Rais mewanti-wanti Jokowi untuk tidak melindungi Ahok. Kalau melindungi mantan Bupati Belitung Timur itu, kata Amien Rais, maka Jokowi finis. Entah maksudnya apa.

Vonis dua tahun penjara terhadap Ahok sekaligus memperlihatkan bahwa Jokowi tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum dan tidak mengintervensi hukum. Tidak peduli, Ahok itu karibnya. Vonis ini juga mempertegas pernyataan Jokowi sejak awal, ketika kasus Ahok ini mencuat, bahwa ia tidak akan melindungi Ahok.

Pada saat bersamaan, vonis Ahok ini sekaligus memperlihatkan ketegasan Jokowi. Di balik penampilannya yang kalem, ia ternyata sangat tegas dan garang. Ketegasan ini juga diperlihatkannya dengan melarang organisasi massa, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang diumumkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto sehari sebelumnya.

Tak terbayangkan, bila hakim menvonis bebas Ahok. Amien Rasi Rizieg Shihab dan kawan-kawan akan makin panas dan galak. Tak terbayangkan pula apa yang terjadi pada Selasa, 9 Mei 2017 dan hari-hari selanjutnya. Mungkin suasananya mencekam. Bila situasi seperti ini tercipta, maka langkah menghabisi Jokowi pun makin mulus. Apalagi, selama ini publik sudah mengetahui bahwa Ahok hanyalah sasaran antara. Tujuan akhir adalah menjungkalkan Jokowi.

Apa mau dikata. Ahok divonis bersalah. Amien Rais, Rizieg Shihab dan kawan-kawan mungkin sedikit kecewa dengan putusan hakim ini. Sebab dengan begitu, langkah menggulingkan Jokowi sedikit tersendat. Mereka dipaksa untuk memutar otak lagi dan memainkan peluru lain untuk mewujudkan mimpi menggulingkan Jokowi, kalau tidak di tengah jalan, ya pada pemilu 2019. Mereka masih banyak stok peluru plus dana tanpa batas untuk ditembakkan ke Medan Merdeka Utara sampai Jokowi terkulai lemas.

Sekarang Ahok sudah dipenjara dan akan menjalani hukuman sesuai ketentuan hukum yang berlaku sambil menunggu putusan banding atas vonis Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Keramaian di Balaikota DKI Jakarta akan segera berpindah ke Rumah Tahanan Cipinang, entah sampai kapan. Sementara, para lawan dan para pembenci Jokowi sedang dan akan menyusun strategi baru untuk terus menembaknya.

Jokowi tentu saja punya strategi bertahan yang tidak kalah canggih. Ia juga lihai melakukan serangan balik. Karena itu, pertarungan ke depan, pascakasus Ahok, tidak kalah menarik. Kita tunggu saja apa yang terjadi selanjutnya. Yang pasti, Ahok sudah masuk kotak, dan para koruptor punya alasan untuk sedikit berpesta. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY