Home Umum Ahok-Djarot Unggul Program

Ahok-Djarot Unggul Program

834
0
SHARE
Sumber Foto: Merdeka.com

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sudah memasuki masa kampanye. Calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)/Djarot Saiful Hidayat sudah resmi cuti. Mereka memulai titik star yang sama dengan dua calon lainnya yaitu pasangan nomor urut satu Agus Harimurti Yudhoyono/Sylviana Murni dan pasangan nomor urut tiga Anies Baswedan/Sandiaga Uno. Mereka sama-sama mulai menjual kecap ke pemilih DKI. Siapa tahu laku.

Agar pemilih tidak hanya melihat ketampanan para calon maka baiknya kita masuk ke hal yang lebih substantif yaitu program ketiga pasangan calon. Apa yang akan mereka bikin bila nanti terpilih. Tapi bila melihat visi misi dan program-program yang sudah mereka serahkan ke KPU DKI Jakarta, saya berani mengatakan bahwa pasangan Ahok-Djarot jauh lebih unggul atas dua pesaingnya.

Program calon pasangan nomor urut dua ini sangat detail dan terukur. Apa yang mereka lakukan selama lima tahun ke depan dipaparkan dengan sangat rinci dan jelas. Terlihat sekali program mereka sudah disiapkan lama. Membaca program ini, terasa “ngeri-ngeri sedap”.

Visi misi Ahok/Djarot dibuat dalam bentuk pointers tanpa uraian yang panjang lebar. Tidak ada basa basi. Setelah menulis visi dan misi, mereka langsung masuk ke program kerja. Total, ada 21 lembar. Dalam visi misi yang mereka serahkan ke KPU Jakarta, Ahok/Djarot akan melakukan kerja besar dan berat sepanjang lima tahun ke depan.

Mereka (dalam program kerja) akan melakukan Reformasi Birokrasi yang terdiri dari 14 poin, Pendidikan (8 poin), Kesehatan (9 poin), Ekonomi (11 poin), Penanggulangan Banjir (8 poin), Penataan Kota (11 poin), Transportasi (15 poin), Optimalisasi Teknologi (7 poin), Pariwisata dan Kebudayaan (18 poin), Sosial (9 poin), Lingkungan Hidup (15 poin).

Cara pasangan ini merumuskan program kerjanya sangat memudahkan publik untuk mengetahui berapa banyak hal yang akan mereka lakukan selama lima tahun ke depan. Dari angka di atas, total, Ahok/Djarot akan mengerjakan 125 proyek besar selama lima tahun ke depan. Simak saja di sini.

Sementara visi misi pasangan Agus/Sylvi total mencapai 40 halaman dibuat seperti skripsi yang terdiri dari lima Bab dengan bahasa yang sangat kental dengan dunia akademis. Pada daftar isi tertulis: Bab 1: Jakarta Masa Kini. Bab 2: Jakarta Masa Depan. Bab 3: Strategi, Arah Kebijakan, dan Prinip Dasar Pembangunan. Bab 4: Program Aksi. Dan, Bab 5: Imperatif dan Kunci Sukses. Tengok saja di sini.

Sedangkan pasangan Anies/Sandiaga merumuskan visi misi dalam 23 halaman. Dibuat dalam pointers, tapi setiap poin isinya panjang-panjang. Ada juga yang pendek. Mereka buka dengan judul “Ibukota, Ibunya Negara” yang terdiri dari empat poin. Isinya semacam definisi tentang Jakarta karena selalu dibuka dengan kalimat: “Jakarta adalah …”

Berikutnya, pasangan ini mengungkapkan Latar Belakang dan Permasalahan. Isinya kurang lebih sama seperti misi visi pasangan nomor satu pada bab 1: Jakarta Masa Kini. Mereka memaparkan data tentang angka gini rasio, kemiskinan, angka penyerapan anggaran yang rendah, inflasi yang naik, persoalan harga tinggi dan lapangan pekerjaan yang minim. Setelah itu baru mereka merumuskan visi misi lalu diikuti program kerja, yaitu enam program unggulan. Coba simak di sini.

Pada rumusan visi dan misi, ada perbedaan mencolok dari ketiga pasangan ini. Visi Agus/Sylvi sangat pendek, “Visi: Jakarta 2022. Menuju Jakarta 2022 yang lebih maju, aman, adil, dan sejahtera”. Rumusan visi pasangan Ahok/Djarot jauh lebih panjang: “Menjadikan Jakarta sebagai etalase kota Indonesia yang modern, tertata rapi, manusiawi, dan fokus pada pembangunan manusia seutuhnya dengan kepemimpinan yang bersih, transparan, dan profesional.” Sedangkan pasangan Anies/Sandiaga menulis visi: “Jakarta kota maju dan beradab dengan seluruh warga merasakan keadilan dan kesejahteraan.”

Yang menarik perhatian saya adalah hanya pasangan Ahok/Djarot yang menggunakan dan menekankan kepemimpinan yang bersih. Dua pasangan lainnya sama sekali tidak menyebut hal ini. Bahkan pasangan Ahok/Djarot dalam misinya menyebutkan dengan gamblang bahwa mereka akan “Mewujudkan pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), terbuka, dan melayani warga.” Itu bunyi poin pertama misi Ahok/Djarot. Sementara Agus/Sylvi dan Anies/Sandiaga, dalam misi, sama sekali tidak menjadikan anti korupsi sebagai agenda utama mereka bila terpilih.

Menurut saya, ini sangat krusial dan penting. Sebab, Jakarta ini dihuni para penggarong. Selama bertahun-tahun APBD yang begitu besar dicuri untuk kepentingan pribadi dan sekelompok elite. Akibatnya, Jakarta kekurangan dana untuk mengeruk sungai-sungai yang dangkal, membersihkan got-got yang tertimbun lumpur serta membersihkan gunungan sampah di sungai-sungai DKI Jakarta. Dengan makin sedikitnya dana yang dikorup, maka makin besar pula anggaran yang dipakai untuk kepentingan publik. (Alex Madji)