Home Inspirasi Ancaman Hilangnya Simbol-simbol Kekristenan di Eropa

Ancaman Hilangnya Simbol-simbol Kekristenan di Eropa

601
0
SHARE

Selasa, 15 Januari 2013 ini saya agak sulit menemukan ide untuk dituangkan dalam blog ini. Tiba-tiba saya membaca berita online di dua media Inggris, “The Guardian” dan “The Telegraph”. Isinya tentang ancaman “hilangnya” simbol-simbol kekristenan di Eropa. Yang cukup membanggakan adanya perlawanan dari negara-negara Eropa itu sendiri, terutama Inggris. Saya lalu memutuskan untuk menulis soal ini, apalagi bertepatan dengan pesta St Arnoldus Jansen, pendiri Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD), sebuah kongregasi misi, dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik

Saat ini, Eropa sedang menunggu putusan Pengadilan Strasbourgh, Pengadilan Eropa tentang Hak-hak Asasi Manusia atau “European court of human rights” (ECHR) yang bakal melarang penggunaan simbol-simbol agama Kristen seperti salib dan rosario di tempat kerja. Pelarangan ini dinilai melanggar kebebasan beragama yang juga dijamin oleh deklarasi HAM. Sebaliknya, larangan itu justru akan mendiskriminasi kelompok Kristen karena mereka dilarang mengekspresikan kebebasan beragamanya di depan umum. Dengan kata lain putusan Pengadilan HAM itu pada saat bersamaan juga melanggar HAM.

Hebatnya lagi, pembelaan itu datang dari pejabat teras Inggris. Menteri senior Inggris Eric Pickles sangat mendukung penggunaan simbol-simbol kekristenan seperti salib dan rosario di tempat kerja. Menurut dia, agresivitas sekularisme di Eropa harus dilawan.

“Iman adalah pengarah moral yang sangat jelas dan akan sangat menguntungkan masyarakat secara keseluruhan. Ketika penganut kristen di belahan dunia lain berada dalam tekanan dan diserang karena imannya, maka saya bangga bahwa kebebasan orang untuk menghayati imannya di Inggris masih ada,” ucapnya dengan bangga seperti dikutip “The Telegraph”.

Dia melanjutkan, “Dalam beberapa tahun terakhir kebebasan di Inggris sudah ditunggangi oleh agresivitas arus sekularisme yang begitu kuat dan cenderung tidak toleran. Mereka melarang orang yang menggunakan salib atau rosario atau melarang orang berdoa.”

“Kami menjamin akan hak-hak orang Kristen dan semua umat beragama untuk menghayati agamanya secara terbuka, menggunakan simbol-simbol keagamaan dan berdoa di depan publik,” ucapnya. (Alex Madji)