Antara Sandiaga Uno dan Abah

    1160
    0
    SHARE
    Sandiaga Uno (tengah) berlari di Maybank Bali Marathon 2018, Minggu 9 September 2018. (Foto: Istimewa)

    Calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiaga S Uno mengambil bagian pada ajang lomba lari jalan raya Maybank Bali Marathon 2018 yang berlangsung di Bali Safari Park & Marine, Gianyar, Minggu 9 September 2018. Mudah-mudahan ini bukan tebar pesona menjelang pemilu presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2019.

    Ia mengambil kategori 10K dan mendapat nomor BIB 90941. Pada pojok kanan atas tertulis: “wave: AA”. Artinya, ia masuk kategori prioritas berada paling depan dan dekat dengan garis start karena catatan waktunya yang kurang dari satu jam pada ajang yang sama sebelumnya.

    Saya juga mengambil kategori 10K dengan nomor BB 81732. Pada bagian pojok kanan atas juga tertulis: wave AA. Artinya, saya juga berada paling depan alias serombongan dengan Sandiaga Uno. Di belakang kami, ada kelompok pelari dengan kecepatan lebih pelan (BB) dan paling pelan (CC).

    Hanya saja, saya tidak melihat Sandiaga Uno saat berada di dekat garis start. Mungkin karena terlalu pagi. Meskipun, dari malam sebelumnya, saya sudah mendapat informasi bahwa mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini akan mengambil bagian pada ajang lari ini di nomor 10K.

    Pagi itu, saya berlari bersama seorang runner kawakan yang juga wartawan senior Kompas. Ia akrab dipanggil Abah atau di lingkungan tempatnya bekerja dipanggil dengan inisial, Kang Ush. Nama lengkapnya, Agus Hermawan. Seperti Sandi, ia juga sudah ikut lari di mana-mana. Bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.

    Terakhir, ia lari di Tokyo Marathon. Sebelumnya, pernah ikut lari maraton di Australia. Dan, ia akan terbang ke Jerman untuk ikut maraton di Berlin. Di Bali Marathon ini, ia hanya mengambil 10K sebagai pemanasan sebelum ke Jerman.

    Pagi itu, saya ngintili Abah. Hingga kilometer empat, kecepatan kami masih sama. Mulai tanjakan menjelang kilometer lima, saya mulai tercecer. Kecepatan saya menurun, sedangkan dia tetap stabil. Pada kilometer-kilometer selanjutnya, saya semakin tertinggal jauh. Padahal, secara umur, dia lebih tua. Namun, pengalaman dan latihan rutin memang tidak bisa dibohongi. Sebagai pelari, apalagi punya komunitas, ia rutin berlatih. Tiga hingga empat kali seminggu. Sementara saya, hanya sekali seminggu. Syukur-syukur bisa lebih. Itu pun dengan jarak 6-8 kilometer sekali lari. Kadang juga bolong alias tidak berlari selama satu minggu.

    Saya dan Agus Hermawan atau Abah sebelum ke titik start nomor 10K di Maybank Bali Marathon 2018 (Foto: Ciarciar.com)

    Alhasil, ia lebih dulu sampai garis finis dengan catatan waktu satu jam dan satu menit. Saya baru menginjak garis finis dua menit berikutnya alias satu jam dan tiga menit atau hampir satu jam empat menit.

    Nah, yang bikin kaget, begitu melewati garis finis dan berjalan ke tempat pengambilan minuman dan pisang serta medali, saya mendengar teriakan dari master of ceremony bahwa Sandiago Uno baru masuk garis finis dengan catatan waktu satu jam dan lima menit. Artinya, saya lebih cepat satu menit dari Sandi. Dengan Abah, ia tertinggal hampir lima menit.

    BACA JUGA

    Sebelum ambil medali, saya dan Abah minum dan melakukan peregangan otot. Kebetulan belum banyak orang yang sampai garis finis, sehingga ruang ke tempat pengambilan medali masih lega. Tidak lama, Sandiaga masuk. Namun, tidak banyak orang yang minta foto bersama. Hanya ada dua tiga orang yang minta swafoto alias selfie dengan mantan orang nomor dua di DKI Jakarta, yang pagi itu bibirnya tampak lebih merah. Satu dua orang pelari juga memanggil namanya dari luar pagar. Mereka berpelukan. Mungkin teman larinya.

    Padahal, saya mengira, sebagai cawapres yang berpasangan dengan Prabowo Subianto, ia akan diserbu para pelari. Terutama wanita-wanita muda yang mengagumi kegantengannya dan anak-anak milenial yang menjadi sasarannya menjelang pilpres 2019, serta emak-emak yang terus “dikelola” belakangan ini.

    Namun, nama Abah justru yang lebih banyak dipanggil orang. Setiap kali lewat di kerumunan orang banyak, masing-masing dengan medali yang menggantung di leher, nama Abah selalu terdengar dipanggil.

    Saya membantin, orang ini terkenal sekali di lingkungan para pelari. Ia bukan hanya dikenal, tetapi juga mengenal banyak pelari. Sambil berlari pun ia berteriak memanggil teman-temannya yang sedang serius berjuang mengalahkan ego. Termasuk, ia memanggil nama Sandi saat berpapasan.

    Para pelari Maybank Bali Marathon 2018 antre mengambil medali setelah menyentuh garis finis (Foto: Ciarciar.com)

    Ia sendiri menyadari bahwa ia terkenal. Saking terkenalnya, ia percaya diri bisa lebih laku daripada Sandiaga Uno bila maju di pilpres tahun depan. Sayang peluang Abah sudah tertutup. Selain tidak ada partai yang mendukungnya, ia tidak punya dana Rp 1 triliun atau lebih untuk membeli perahu partai politik. Tidak apa-apa. Yang penting, Abah lebih cepat dan lebih dikenal di kalangan para pelari.

    Tentu saja, Abah bercanda bahwa dia akan lebih laku dari Sandiaga. Namun, reaksi publik yang sepi di acara lari tersebut hanyalah gejala sangat kecil bahwa Sandiaga perlu bekerja lebih keras lagi untuk makin dikenal dan menarik simpatik masyarakat, terutama kaum hawa dan kelompok milenial. Maka, ke depan, Sandiaga harus lebih banyak tebar pesona lagi pada berbagai acara, termasuk lomba lari seperti ini. Tanpa itu, ia dan pasangannya, Prabowo Subianto, sulit mengalahkan pasangan petahana, Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin. (Alex Madji)