Apa Arti Pancasila untuk Anda?

Apa Arti Pancasila untuk Anda?

228
SHARE
Sumber Foto: Edunews.id

Kamis 1 Juni adalah hari libur nasional. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menetapkannya sebagai hari lahir pancasila. Dan, 1 Juni 2017 adalah untuk pertama kalinya rakyat Indonesia menikmati libur di hari lahir pancasila.

Peringatan hari lahir pancasila ini menjadi sangat penting pada situasi bangsa Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Persatuan bangsa ini tercabik-cabik dan disobek-sobek. Kejadian ini sebenarnya dimulai sejak pemilu presiden (pilres) 2014. Menjadi lebih buruk lagi menjelang, selama, dan setelah pilkada DKI Jakarta 2017.

Masyarakat khususnya di Jakarta terfragmentasi secara tajam antara kami dan mereka. Yang benar kami, mereka salah. Yang suci kami, mereka kafir. Dikotomi itu begitu tajam sampai di beberapa daerah terdengar sayup-sayup ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Meskipun, saya yakin, ini hanya move semata. Bukan keinginan yang sebenarnya.

Situasi itu diperburuk lagi karena agama dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Tempat-tempat ibadah dipakai untuk menyuarakan dan menyebar kebencian. Ujaran kebencian itu ternyata tidak cukup dilakukan di media sosial. Padahal, seharusnya tempat ibadah menjadi pusat penyebaran kebaikan dan kasih sayang. Gara-gara ini, situasi dalam beberapa bulan terakhir menjadi begitu mencekam.

Yang lebih menyayat hati lagi adalah ada anak sekolah yang oleh guru dan orang tuanya diajari untuk tidak bergaul dan berteman dengan orang yang berbeda keyakinan/agama. Ini saya temui di sebuah tempat les di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Seorang anak sekolah dasar mengaku diajari gurunya untuk tidak bergaul dengan orang yang berbeda keyakinan dengannya.

Lebih mengerikan lagi, ada sekelompok anak kecil yang menerikkan “bunuh Ahok” ketika melakukan pawai obor menyambut bulan ramadan hanya sesaat sebelum bom bunuh diri di terminal Kampung Melayu, Rabu 24 Mei 2017 malam. Fakta ini menunjukkan bahwa anak-anak kita ternyata sudah diajari sejak kecil untuk membunuh orang lain.

Kalau semua anak negeri ini diajari seperti ini, maka ke depan bangsa Indonesia akan mengalami masalah sangat besar. Rakyatnya akan bunuh satu sama lain hanya karena perbedaan suku, ras, dan agama. Pembiaran terhadap cara didik anak-anak seperti itu hanya akan menyuburkan tumbuhnya kelompok teroris di negeri ini di masa mendatang. Orang-orang seperti inilah yang potensial menjadi ancaman keberlangsungan pancasila sebagai filosofi dan dasar negara.

Karena itu benih-benih itu harus segera diatasi dan dimatikan sejak sekarang. Kalau tidak, kita hanya menyimpan bom waktu yang akan pecah kapan saja. Peran pemerintah di sini makin penting untuk mengecek dan memeriksa kembali kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah. Pengawasan terhadap guru-guru dan sekolah yang mengajarkan budaya kematian seperti membunuh orang yang tidak seiman dengannya atau sekadar tidak boleh bergaul dengan orang yang berbeda keyakinan juga diperketat. Bila perlu guru-guru seperti ini dicabut hak mengajarnya atau sekolahnya ditutup saja.

Sebab sebagai guru saja mereka tidak memahami apa arti pancasila yang sudah dipilih para pendiri bangsa ini sebagai dasar dan filosofi negara. Jangan kan pemikiran yang filosofis nan berat, hal-hal sederhana sebagai praksis dan terapan dari Pancasila itu mereka tidak paham.

Padahal, untuk saya, soal penerapan nilai-nilai pancasila itu sederhana saja. Kita cukup menerima dan menghargai orang lain yang berbeda dengan kita, menerima orang lain dengan seluruh keberadaannya meski beda suku, agama, dan ras dengan kita. Kita juga harus memperlakukan orang lain secara adil dan tidak menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain alias setara. Keadilan dan kesetaraan ini tidak terhalang oleh masalah mayoritas atau minoritas.

Karena itu, ketika Anda mau meniadakan orang lain hanya karena berbeda suku, ras, dan agama serta berlaku tidak adil terhadap sesama warga bangsa, maka Anda menjadi orang yang anti pancasila. Sederhana.

Nah, Anda sudah berada di posisi mana? Silahkan dijawab pada kolom komentar di bawah ini. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY