Home Gagasan Apakah Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri Menemukan Surga?

Apakah Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri Menemukan Surga?

144
SHARE
Sumber gambar ilustrasi diambil dari Kompas.com

Dunia, khususnya Indonesia, berduka oleh aksi teror bom pada tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu, 13 Mei 2018 pagi. Peristiwa ini menelan korban jiwa sebanyak 14 orang dan puluhan lainnya luka-luka. Ketika darah para korban itu belum kering dan air mata keluarga masih mengalir, malam harinya terjadi lagi ledakan bom di sebuah rumah susun sewa Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menewaskan tiga orang. Total, sebanyak 17 orang menjadi korban keganasan aksi bom bunuh diri sepanjang Minggu 13 Mei 2018. Bahkan, saat artikel ini dibuat, Senin 14 Mei 2018 pagi, sebuah aksi bom bunuh diri juga menghantam Poltabes Surabaya. Empat orang yang diduga pelaku dilaporkan meninggal.

Rentetan aksi konyol tersebut menyedot perhatian dunia, termasuk dari pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus yang mengirim doa untuk para korban dan keluarganya serta pesan perdamaian.

Tidak sampai 24 jam sejak bom pertama meledak pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian sudah mengungkapkan identitas pelaku teror bom tersebut. Dikatakan, pelakunya diduga satu keluarga pasangan suami istri Dita Supriyanto (47) dan Puji Kuswati (47) serta empat anaknya yakni, YF (18), FA (16), FS (12), dan FR (9).

Dita Supriyanto yang menjadi pimpinan Jamaah Ansharut Tauhid (JAD), pendukung ISIS, di Surabaya mengemudikan Mobil Toyota Avanza meledakkan bom di Gereja Pantekosta. Sebelumnya, ia menurunkan sang istri, Puji Kuswati dan dua anak perempuannya FS dan FR yang meledakkan diri di GKI Jalan Diponegoro. Sementara dua anak laki-laki yang sudah remaja YF dan FA mengendarai motor dan meledakkan diri di gerbang Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di kawasan Ngagel.

BACA JUGA

Saya tidak habis pikir ada orang tua yang mengajak empat orang anaknya melakukan aksi bom bunuh diri dan harus mati secara konyol. Pasangan suami istri itu berhasil mencuci otak dan hati putra putrinya untuk ikut melakukan perbuatan jahat dan harus mati secara cepat dengan cara yang sulit diterima akal sehat.

Entah siapa yang menerima pertama paham radikal di dalam keluarga ini. Yang pasti, anak-anaknya terutama dua anak perempuan yang terakhir menerima begitu saja ajaran orang tuanya. Keduanya belum bisa berpikir mandiri karena masih kecil. Malang, dua kakaknya yang seharusnya sudah bisa berpikir mandiri juga gagal total menolak paham kematian konyol seperti yang diajarkan orang tuanya. Mereka lebih memilih taat tanpa syarat.

Dari sini, saya melihat ada yang salah dalam pendidikan anak keluarga Dita-Puji. Anak-anaknya dididik menggunakan kaca mata kuda. Hanya terbuka pada ideologi radikal yang dianut orang tuanya sambil menjanjikan surga dan tertutup terhadap berbagai ideologi dan perkembangan lain. Cara didik seperti ini memaksa anak untuk tidak mencari pembanding dan mengecek apakah yang dianut orang tuanya dan diajarkan kepada mereka itu benar atau tidak.

Lalu di mana peran sekolah? Hingga saat ini pihak kepolisian belum mengungkapkan terlalu banyak soal identitas keempat anak tersebut, termasuk tempat mereka bersekolah. Namun, patut diduga, anak-anak Dita dan Puji dimasukkan di sekolah yang mengajarkan ideologi seperti yang mereka anut atau sekolah eksklusif. Sebab kalau bersekolah di tempat yang inklusif, anak kecil sekali pun sudah bisa membanding-bandingkan antara apa yang diajarkan di rumah (radikalisme) dengan di sekolah (inklusifisme). Untuk dua anak pertama seharusnya sudah bisa mengambil keputusan untuk mengikuti yang benar dan menjauhi yang jahat.

Sayang cara didik yang eksklusif dengan kaca mata kuda seperti itu kemudian mematikan hati nurani dan menumpulkan rasionalitas anak-anaknya. Akibatnya, mereka menerima begitu saja, tanpa pertimbangan apa pun, saat diajak untuk mati secara konyol dengan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya kemarin demi lebih cepat mencapai surga.

Leo Tolstoy
Saya lalu tiba-tiba teringat cerita panjang sastrawan dan filsuf besar Rusia Leo Toltstoy dalam buku kumpulan ceritanya berjudul “Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu”. Pada judul, “Tuhan dan Manusia”, ia bercerita panjang lebar tentang Nikita, pekerja atau karyawan untuk seorang pedagang Vasilli Andreitch Brekhunoff. Singkat cerita, Nikita yang hanya digaji 40 rubel – jauh di bawah upah minimum regional sebesar 80 rubel -, itu pun masih bisa dibayar dengan cara mencicil, bekerja dan mengabdi dengan sangat baik dan setia.

Suatu kali mereka mendapat musibah akibat bencana salju hebat. Ia bersama majikannya dan kuda tunggangan tertimbun salju yang dahsyat. Namun hanya Nikita yang selamat. Majikannya tewas. Pascakejadian ini, Nikita masih hidup 20 tahun lagi. Di hari tuanya, ia ganti pekerjaan sebagai penjaga. Akhirnya, ia meninggal juga setelah sakit cukup lama.

Tolstoy menulis, “Nikita meninggal di rumahnya dengan lilin-lilin yang dinyalakan di tangannya, tepat seperti yang selalu diinginkannya. Sebelum kematiannya ia berpisah dengan istrinya yang sudah tua dan mengampuni istrinya karena berbuat serong dengan tukang tong. Ia juga berpamitan pada anak cucunya dan meninggal dengan perasaan senang karena mengingat bahwa kematiannya membebaskan putra dan menantu perempuannya dari beban untuk memberi makan dirinya lagi. Ia pun merasa senang karena kali ini ia sungguh-sungguh berpisah dari kehidupan yang sudah menjemukannya menuju kehidupan lain yang baginya setiap saat mulai terasa menarik.”

Bagian akhir bab itu, Tolstoy mengunci dengan mengajukan pertanyaan eksistensial begini, “Apakah ia akan berada dalam keadaan baik atau lebih buruk setelah ia bangun dalam kematiannya yang saat itu sungguh-sungguh datang menjelang? Apakah ia kecewa atau benar-benar menemukan apa yang selama ini diharapkannya? Hanya kita sendiri yang akan membuktikannya.”

Pertanyaan yang sama bisa diajukan, apakah Dita, Puji dan keempat anak mereka menemukan surga yang dijanjikan dengan cara melakukan teror bom? Hanya mereka berenam yang tahu. (Alex Madji)