Home Buku Ayo Segera Menabung Saham

Ayo Segera Menabung Saham

144
SHARE
Foto: Ciarciar.com

Saya membaca buku “Nabung Saham Sekarang” karya Ellen May ketika Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG sedang anjlok. Hingga Jumat, 18 Mei 2018 pagi, IHSG sudah menyentuh angka 5.815.92. Padahal sebelumnya, IHSG pernah mencapai rekor tertinggi 6.700.00.

Kabarnya, IHSG terjun bebas terjadi karena perang dagang Amerika Serikat versus Cina. Juga karena kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat yang menyebabkan dana asing yang tadinya melantai di bursa efek Indonesia pindah ke negeri Paman Sam.

Nah, dalam situasi seperti ini, Ellen May dalam bukunya yang diterbitkan Gramedia tadi menyarankan para pemula untuk segera menabung saham. Buku ini sangat ringan dan praktis. Cocok dan gampang dipahami oleh orang awam seperti saya dalam hal pasar saham.

Selain memberi pemahaman dasar tentang menabung saham, buku setebal 190 halaman ini juga memberi petunjuk praktis tentang bagaimana menabung saham lengkap dengan untung ruginya. Ia membandingkan menabung konvensional dengan menempatkan uang di bank dan membeli saham, lengkap dengan segala grafik. Makanya, sekali lagi untuk orang awam seperti saya, buku ini sangat bagus, ringan, dan enak dibaca.

Bukan hanya itu. Ia juga memberi contoh hitung-hitungan keuntungan antara menabung di bank dan di saham dengan jumlah uang tertentu. Dari semua contoh yang disajikan, sangat jelas terlihat bahwa menabung di saham jauh lebih menguntungkan dibanding menabung konvensional di bank. Meski demikian, ia tetap mengingatkan bahwa risiko menabung saham juga lebih tinggi daripada menyimpan uang di bank.

Namun, buku ini juga berupaya meminimalisasi risiko-risiko yang kemungkinan bisa terjadi. Salah satu caranya adalah dengan membeli saham perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental yang bagus. Salah satu tipsnya adalah dengan memeriksa laporan keuangan perusahaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, ia tidak segan-segan menyebut dan merekomendasikan beberapa perusahaan besar yang sahamnya patut dibeli. Menurut buku ini, memiliki saham perusahaan-perusahaan tersebut, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sejumlah perusahaan swasta nasional dijamin menguntungkan.

Saham-saham perusahaan BUMN yang direkomendasikan untuk dibeli adalah BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk), BMRI (PT Bank Mandiri Tbk), BBNI (PT Bank Negara Indonesia Tbk), SMGR (PT Semen Indonesia Tbk), TLKM (PT Telekomunikasi Indonesia Tbk), WSKT (PT Waskita Karya Tbk). Sementara perusahaan swasta yang patut dimiliki sahamnya adalah BBCA (PT Bank Centra Asia Tbk), INDF (PT Indofood Sukses Makmur Tbk), UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk), ASII (PT Astra Internasional Tbk), BSDE (PT Bumi Serpong Damai Tbk), KLBF (PT Kalbe Farma Tbk), dan PWON (PT Pakuwon Jati Tbk).

Bukan hanya sekadar menyebutkan nama perusahaan. Ia juga mengulas mengapa harus memiliki saham perusahaan-perusahaan tersebut plus tren pertumbuhan pendapatan perusahaan itu hingga 2030. Dengan begitu, terbayang juga keuntungan yang akan diraih bila membeli saham mereka.

Hal lain yang membuat buku ini juga menarik adalah banyaknya kutipan dari para pemain saham kelas dunia yang rata-rata sukses besar. Kata-kata motivasi mereka turut memberi optimisme bagi pembaca buku ini dan menggerakkan mereka memulai investasi di pasar saham.

Namun, hal-hal praktis yang “diajarkan” dalam buku ini akan menjadi percuma kalau tidak dipraktekkan. Dan, sekarang adalah saat yang tepat untuk memulai menabung saham. Mumpung IHSG lagi jeblok. “Time to buy,” kata mereka yang sudah lama bermain saham. Jadi, tunggu apa lagi. Ayo segera mulai. (Alex Madji)