Home Inspirasi Bebaskan Umat dari Kemiskinan

Bebaskan Umat dari Kemiskinan

648
2
SHARE

Tahun 2012 ini, Gereja Katolik Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur memasuki usia satu abad. Ada macam-macam cara yang dilakukan kelompok umat baik di Manggarai maupun di luar daerah itu untuk merayakan dan memaknai perayaan tersebut.

Salah satunya dengan menerbitkan buku “Gereja Itu Politis; dari Manggari-Flores untuk Indonesia” yang diterbitkan oleh Justice Peace and Integrity of Creation Ordo Fratrum Minorum (JPIC OFM) Jakarta. Ini hanya salah satu buku yang diterbitkan oleh “umat diaspora” dalam mengisi dan memaknai pesta satu abad Gereja Katolik Manggarai tersebut.

Buku ini adalah sebuah bunga rampai atau kumpulan karangan dari sejumlah pakar dan praktisi, seperti pakar filsafat, pakar teologi moral, pakar pendidikan, pakar otonomi daerah, praktisi lingkungan hidup, dan sejumlah peneliti yang tersebar di berbagai daerah di Flores, Jawa, Eropa, dan Amerika Latin. Total penulis yang terlibat dalam buku ini adalah 20 orang, termasuk sang editor, Richard Rahmad.

Menurut para penulis, persoalan pokok yang dihadapi Gereja Katolik Manggarai (dan Flores serta NTT pada umumnya) adalah kemiskinan dan kebodohan. Masalah ini melilit mayoritas atau hampir seluruh umat Katolik di wilayah tersebut. Robert Justin Sodo, peneliti di Smeru Institut memaparkan fakta kemiskinan itu dalan data statistik sejak 2003-2010 yang terus melorot tajam (hal 96-124).

Menurut Alex Jebadu dan Cypri Jehan Padju Dale, masalah ini terjadi secara terstruktur atau kemiskinan struktural sebagai akibat dari sistem ekonomi neo liberal yang dianut negara ini. Sistem ekonomi yang mengagung-agungkan pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan keseimbangan, keadilan, dan pemerataan ini membuat masyarakat miskin semakin miskin dan bodoh, sedangkan yang kaya semakin kaya. Kemiskinan masyarakat/umat Manggarai dan NTT pada umumnya adalah korban sistem ekonomi seperti itu.

Dalam situasi seperti ini, tugas gereja adalah “membebaskan” umatnya dari belenggu kemiskinan, kebodohan dan memperjuangkan keadilan. Peter C Aman OFM yang adalah dosen Teologi Moral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta memberi pendasaran teologis bahwa gereja dibenarkan memperjuangkan keadilan bagi umatnya dengan memberi berbagai dokumen dan ajaran sosial gereja. Begitupun Paul Budi Kleden SVD yang adalah dosen teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik (STFTK) Ledalero, Maumere. Sementara Otto Gusti Madung, SVD yang ahli fisalaf sosial dari kampus yang sama memberi pendasaran filosofis yang memperkuat dan memperkukuh keterlibatan gereja dalam memperjuangkan dan membebaskan uamtnya dari jerat kemiskinan dan kebodohan itu.

Keterlibatan gereja dalam menciptakan tanan masyarakat yang adil bukanlah sesuatu yang baru. Misionaris Martin Bhisu SVD yang selama 17 tahun berkarya di Paraguay membagikan pengalaman peran Gereja Katolik di kawasan itu dalam memperjuangkan keadilan ekonomi, sosial, dan politik di wilayah tersebut. Bahkan gereja tidak segan-segan terjun ke politik praktis, meski dengan terpaksa menanggalkan imamat seperti yang dilakukan mantan Presiden Paraguay Fernando Lugo yang meninggalkan imamat uskupnya untuk membela umatnya yang tertindas dan mengalami ketidakadilan ekonomis dan politik.

Pengalaman yang dibagikan mantan sekretaris pribadi Fernando Lugo ini diperkuat lagi oleh pengalaman Benediktus Kalakoe yang bekerja di Kedutaan Besar Indonesia di Peru tentang bagaimana Gereja Katolik di sana bahu membahu dan tak kenal lelah memperjuang keadilan dan membebaskan umatnya dari jerat kemiskinan akibat praktek politik yang busuk. Bahkan Kalakoe menyinggung juga Gereja Peru yang bergeser dari pakem dengan tidak memihak kaum miskin. Meskipun ini bukan sikap institusi tetapi sikap salah satu petinggi gereja di negara tersebut.

Membebaskan umat dari belenggu miskin bisa dilakukan dengan cara mempraktekkan sistem ekonomi alternatif. Cipry Jehan Paju Dale menawarkan sistem ekonomi yang disebutnya Baku Peduli. Ini ekonomi alternatif yang mengutamakan gotong royong, saling asuh dan saling asih. Modelnya bisa berupa koperasi simpan pinjam atau credit union. Gereja diharapkan bisa mempraktekkan sistem ekonomi alternatif untuk melawan sistem ekonomi kapitalis neolibelaral yang sudah terbukti menciptakan neraka di dunia ini, termasuk di Manggarai.

Buku ini sangat kaya dengan konsep pemikiran, mengungkap fakta kemiskinan yang didukung oleh data yang sangat kaut, dan refleksi yang tajam. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang terlibat dalam karya pelayanan, bukan saja di institusi agama, tetapi juga di pemerintahan.

Kalaupun ada kelemahannya, buku ini terlampau tebal dan butuh waktu yang cukup untuk membacanya sampai selesai. Selain itu, membaca buku ini butuh ketelitian dan kesabaran untuk memahami uraian demi uraian dari para penulis yang kadang terlalu teoretis. Meski demikian benang merah antara tulisan yang satu dengan tulisan yang lain sangat terang benderang. Karena itu, jangan sampai tidak membaca sampai akhir. (Alex Madji)

Foto: Alex Madji