Home Inspirasi Belajar dari Bloomberg, Bukaka, dan Yosef Ardi

Belajar dari Bloomberg, Bukaka, dan Yosef Ardi

352
0
SHARE

Sahabat saya menilai, nama Ciarciar pada blog saya, Ciarciar.com, tidak menjual. Terlalu primordial, katanya. Meskipun, seorang teman lain menilai, Ciarciar.com sudah “layak jual”. Saya tidak marah dan berkecil hati dengan penilaian sahabat itu. Sebaliknya terpacu untuk membuktikan bahwa penilaiannya keliru. Sebab, semangat saya memang bukan menjual nama, tetapi isi. Isi akan membentuk nama. Kira-kira begitu argumen sederhananya sekaligus pembenaran.

Apalah arti sebuah nama. Begitu kata sastrawan kenamaan Inggris, William Shakespeare. Lebih dari itu, tidak sedikit juga orang yang membaptis nama usahanya tidak berdasarkan pertimbangan layak jual. Tetapi isi. Terbukti mereka sukses besar di kemudian hari.

Sebagai contoh, di pentas internasional, Michael Bloomberg mendirikan kantor berita ekonomi dan bisnis bernama Bloomberg pada 1981. Ambil dari namanya sendiri. Ia kemudian sukses membangun kerajaan bisnis dan menjadi orang terkaya nomor delapan di Amerika Serikat. Dan, Bloomberg menjadi salah satu acuan berita ekonomi dunia saat ini. Sudahlah dasarnya dia memang orang hebat, kaya, dan terkenal. Popularitas dan harta berlimpah mengantarnya menjadi Walikota New York pada 2001. Masih banyak contoh serupa di luar negeri.

Di Indonesia juga banyak kisah senada. Sebutlah Bukaka, milik keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Bukaka adalah nama kampung halaman Jusuf Kalla di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Di sana, di atas sebuah rumah panggung, JK dilahirkan. Saya sudah sampai di rumah tersebut saat mengikuti kunjungan kerja JK ketika ia menjadi wakil presiden untuk Susilo Bambang Yudhoyono 2004-2009. Nama itu kemudian terkenal sebagai perusahaan pembuat “belalai” di seluruh bandar udara Indonesia. Saking terkenal dan berkualitasnya produk Bukaka, orang lupa bahwa Bukaka adalah nama “kampung halaman” JK.

Yang paling cocok dan pas dengan konteks blog ini adalah Yosefardi.com. Tadinya ini blog gratis, yosefardi.blogspot.com, yang diisi oleh pemiliknya bernama Yosef Ardi. Ia orang Flores. Sekabupaten dengan saya, Manggarai. Profesinya juga sama. Bedanya, ia wartawan ekonomi. Blognya berisi tentang analisis-analisis ekonomi.

BACA JUGA:

Tiga Bloger Terkaya Indonesia

Blog tersebut kemudian terkenal dan menjadi website mandiri dengan alamat www.yosefardi.com. Hingga saat ini, di usianya ke-10, Yosefardi.com menjadi sebuah unit usaha berbadan hukum dan menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di pusat-pusat bisnis dunia. Maklum, ia berbahasa Inggris.

Foto: Ciarciar.com

Sebagai sebuah badan hukum, ia mempekerjakan banyak karyawan dan peneliti. Intinya, nama Yosefardi.com menjadi terkenal. Mengapa? Ya karena itu tadi. Ia sangat memperhatikan dan mementingkan isi. Dan, konsisten dengan hal tersebut. Yosefardi.com yang tadinya sebuah blog kini menjelma menjadi badan usaha cukup disegani di bidang ekonomi. Dan, inilah perbedaan paling mencolok kami berdua. Ia sukses sekali dengan aktivitas yang semula sebagai blog. Saya belum.

Bagaimana dengan Ciarciar? Saya memang mengisi blog ini dengan cerita-cerita remeh temeh, tetapi sedapat mungkin dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semula diniatkan khusus bercerita tentang tokoh-tokoh inspiratif. Mulai dari orang hebat sampai orang-orang kecil dan sederhana. Yang penting, ceritanya inspiratif dan bisa mengubah mind set alias pola pikir orang lain untuk bisa segera berubah.

Namun, sesekali saya menuangkan gagasan-gagasan sosial politik yang melintas di kepala. Mengapa politik? Karena sepanjang menjadi wartawan, sebagian besar waktu saya habiskan di desk politik. Hal itu yang membuat ada ketertarikan saya pada isu-isu politik. Meskipun saya bukan ahli dan analis politik kawakan.

Kadang juga memuat tulisan-tulisan reflektif. Ya, tentang situasi batin dan pengalaman harian. Sebab saya juga ingin agar setiap kejadian tidak berlalu begitu saja, tetapi diabstraksi untuk menemukan makna di balik masing-masing peristiwa. Juga ada tulisan-tulisan perjalanan baik tentang tempat wisata maupun kuliner di kategori Peciar. Niatnya, agar isi blog ini tidak hanya inspiratif tetapi juga variatif.

Hanya saja, pilihan tersebut membuat blog ini jatuh pada penilaian tidak fokus oleh seorang teman saya lainnya. “Tidak jelas. Ada makan-makannya pulak,” katanya saat bertemu di sebuah barber shop atau warung cukur rambut di kawasan Graha Raya, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

Apa pun penilaian mereka, poin kuncinya adalah isi tetap harus menjadi perhatian utama. Dialah raja, bila Anda ingin ngeblog. Isi akan membentuk nama. Karena itu, bila Anda sudah punya nama blog, jangan khawatir bahwa nama itu tidak menjual. Yang penting, diisi dengan tulisan-tulisan berkualitas. Bukan hanya pada substansi tetapi juga cara penyampaian. Niscaya, Anda akan setara dengan Bloomberg, Bukaka, dan Yosefardi.com. (Alex Madji)