Home Inspirasi Bencilah Kemiskinan!

Bencilah Kemiskinan!

2611
3
SHARE
Ilustrasi kemiskinan (Foto: sentanaonline.com)

Kemiskinan memang sangat tidak mengenakkan untuk siapa pun. Kemiskinan membuat kita terkungkung, tidak bisa bergerak, dan tidak dapat berbuat sesuatu. Karena itu, tidak ada satu orang pun manusia yang ingin tinggal dalam kubangan kemiskinan. Yang ada, orang berlomba-lomba keluar dari sana. Benci pada kemiskinan adalah salah satu kunci sukses.

Hal itu ditunjukkan oleh sejumlah orang sukses yang berhasil keluar dari kemiskinan. Bagi mereka, kondisi kemiskinan yang dialami justru mendorong mereka untuk maju dan meraih kesuksesan. Kondisi kemiskinan menjadi pemicu dan pemacu untuk menjadi orang kaya. Bahkan secara ekstrim mereka mengklaim sangat membenci kemiskinan.

Chairul Tanjung, pemilik CT Corpartion, misalnya. Dia pernah berkata sangat benci pada kemiskinan. “Saya sendiri berasal dari keluarga miskin dan begitu benci kepada kemiskinan, apalagi pemiskinan,” tulis pria yang akrab dipanggil CT itu dalam bukunya, “Chairul Tanjung Si Anak Singkong” terbitan Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Kebencian CT pada kemiskinan berbuah hasil. Kini dia menjadi pengusaha sukses dan disegani di Indonesia. Sekarang dia berjuang untuk mengeluarkan semakin banyak orang dari kondisi kemiskinan. Dia sendiri sudah merasakan pahit getirnya hidup dalam kemiskinan sebelum menjelma menjadi orang sukses dan membangun kerajaan bisnis sendiri. Dan, dia tidak ingin orang lain tetap tinggal dalam kemiskinan yang sangat tidak nikmat itu.

Pengusaha kripik asal Jawa Timur yang terkenal dengan panggilan Ratu Kripik Pisang dan pemilik Roemah Snack Mekarsari, Ida Widyastuti, juga mengungkapkan, bahwa dia terdorong menjadi orang sukses karena merasakan tidak enaknya menjadi orang miskin. Gara-gara kemiskinan, dia tidak bisa menempuh pendidikan lebih tinggi.

Dia pun mencari berbagai cara untuk keluar dari situasi itu sampai akhirnya menemukan usaha kripik pisang yang kemudian meraih kesuksesan besar dengan omset miliaran rupiah.  “Saya membulatkan tekad, harus keluar dari kemiskinan karena orang miskin tidak bisa berbuat apa-apa. Saya ingin menjadi orang kaya,” kata Ida Widyastuti (38) seperti ditulis Harian, Kompas, Selasa, 28 Oktober 2013 hal 16.

Tetapi Ida tidak ingin seorang diri keluar dari kemiskinan. Dia memberdayakan para petani pisang di Jawa Timur yang terhimpun dalam kelompok tani binaannya. Dia menampung hasil pisang mereka dan mengolahnya untuk menjadi kripik pisang. Tujuannya sama, yaitu agar sama-sama keluar dari kemiskinan.

Para pendiri Fidei Press, Michael Ambon dan Louis Sudirman pun mendirikan usaha penerbitan itu karena “protes” dan “berontak” pada kemiskinan yang mereka alami. Kondisi gaji rendah di tempat kerja mereka masing-masing pada awal 2000-an membulatkan tekad mereka untuk mendirikan usaha guna menolong diri sendiri dan keluar dari ketakberdayaan secara ekonomi. Ternyata ikhtiar itu kemudian membuahkan hasil. Usaha itu membuat keduanya tidak mengalami masalah lagi secara finansial.

Bahkan, usaha Fidei Press, bukan hanya mengangkat harkat dan martabat para pendirinya secara ekonomi tetapi juga membantu orang lain yang sedang mencari pekerjaan. Mereka membantu orang-orang lain yang juga sedang bergerak keluar dari kemiskinan.

Ketiga kisah di atas hanya mau mengatakan bahwa kondisi kemiskinan memang tidak bisa ditolak, tetapi dia bisa dilawan. Bangun ikhtiar dalam diri, jangan mau tetap tinggal di sana. Tetapi keluarlah. Kemiskinan harus menjadi pemicu dan pemacu untuk meraih kesuksesan dan menjadi kaya. Untuk konteks ini, sangat tepat kalau dikatakan bahwa untuk mencapai kesuksesan, kita harus membenci kemiskinan. Atau membenci kemiskinan adalah salah satu kunci meraih kesuksesan.

Tetapi perlu dicatat bahwa tidak semua orang miskin bisa keluar dari situasi itu karena berbagai alasan. Karena itu, janganlah benci terhadap mereka yang masih tinggal dalam kemiskinan. Yang dibenci cukup kemiskinannya, bukan orang-orang miskinnya. Selamat membenci kemiskinan untuk meraih kesuksesan. (Alex Madji)