Home Inspirasi Berani Keluar dari Kemapanan

Berani Keluar dari Kemapanan

527
0
SHARE

Rabu, 10 April 2013 malam, saya kongkow dengan dua teman lama di sebuah warung makan 24 jam di kawasan Serpong, Tangerang. Sebenarnya, saya sudah siap mau tidur, ketika panggilan via blackberry messenger (BBM) datang. Saya pun lansung mengiyakan ajakan tersebut.

Maka pintu rumah dan gerbang yang sudah dikunci rapat harus dibuka kembali dan bergegas menuju tempat dua teman tadi menunggu pada pukul 23.00 WIB. Keduanya adalah teman lama, senasib sepenanggungan beberapa tahun silam. Tetapi salah satunya kini mengalami nasib lebih baik. Sedangkan yang satu lagi masih sama seperti saya.

Kami hanyut dalam diskusi, bertukar cerita sambil menyeruput segelas es coklat dan teh panas. Saling meneguhkan dengan kata-kata inspiratif dari sejumlah motivator dan orang-orang yang sudah sukses. Diselingi dengan menghidupkan kembali memori-memori lawas, terutama ketika ada yang “bening-bening” melintas di depan meja kami pada malam yang sesepi itu. Tertawa lepas pun membahana ketika memori-memori itu kembali.

Tetapi poin yang paling penting dari pertemuan itu adalah cerita sang teman yang nasibnya kini lebih baik. Kini dia tidak lagi sebagai kuli tinta, tetapi sudah naik kelas menjadi kelas pengusaha. Meski usahanya belum berskala besar, apalagi kakap, tetapi langkah yang diambilnya sudah jauh lebih maju dari saya dan satu teman tadi.

Dia lantas bercerita bahwa hal itu tidak terjadi begitu saja. Ada sebuah proses sebelum terjun ke dunia wirausaha. Hal utama yang dia lakukan adalah berani mengambil keputusan untuk membanting kemudi hidupnya dan memulai sesuatu yang baru. Pada saat bersamaan dia siap menanggung risiko dari keputusannya tersebut. Apapun itu. Dia juga tidak lelah belajar dari nol perihal sesuatu yang baru. Keberanian mengambil keputusan dan menghadapi semua risiko dari keputusan itu menjadi langkah awal untuk naik ke kelas wiraswasta.

Semua itu dilakukannya karena sadar bahwa kalau tetap bertahan dengan pekerjaan sebagai kuli tinta, maka masa depannya sama sekali tidak terjamin. Suram. Gaji dari bekerja sebagai kuli tinta belum cukup untuk makan minum satu keluarga selama sebulan. Kadang sebelum akhir bulan, gaji sudah habis. “Maka keputusan mendesak diambil. Roda kehidupan tidak boleh seperti ini terus. Harus ada keputusan radikal yang tidak boleh ditunda-tunda. Jangan terpaku pada apa yang digenggam saat ini dan harus berani keluar dari kemapanan,” begitu tekadnya dalam hati beberapa tahun silam.

Keberanian teman tersebut, kini membuahkan hasil. Hidupnya sekarang jauh lebih baik dari saya dan teman yang satunya lagi. Dia sudah merancang masa depan dia bersama keluarganya dengan sangat baik. Bahkan dia sedang mengembangbiakkan apa yang sudah dikumpulkannya sehingga suatu saat nanti menjadi lebih besar, lebih besar, dan lebih besar lagi.

Tetapi sebelum sampai ke sana, pesannya, keluar dulu dari kemapanan yang membelenggu saat ini dan berani mengambil keputusan.

Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.11 WIB dini hari. Tempat itu bukannya menyepi, malah semakin ramai. Sementara pertandingan bola Liga Champions leg kedua antara Barcelona versus Paris Saint-Germain (PSG) sudah berlangsung. Lalu kami putuskan untuk meninggalkan lokasi itu dan kembali ke rumah dengan membawa “oleh-oleh” dari teman yang sudah sukses itu tadi dan membangun tekad untuk segera banting stir. (Alex Madji)

Sumber foto: yulitanurmalasari.wordpress.com