Home Umum Batasi Main Medsos di Rumah

Batasi Main Medsos di Rumah

734
0
SHARE
Foto Ilustrasi diambil dari anekainfounik.ne

Saya bukan anak media sosial alias medsos. Apalagi anak alay. Sejujurnya saya orang kampung. Gaptek pula. Sebagai wong ndeso saya gagap dengan begitu banyak media sosial. Tapi agar tidak terlalu kolot, saya hanya mengikuti media sosial facebook dan twitter. Tapi tidak cukup aktif di dua medsos tersebut. Akibatnya, jumlah friends saya di facebook tidak terlalu banyak. Sedangkan twitter baru 640-an.

Saya masih mending. Teman sekantor saya, seorang wartawan, malah tidak memiliki satu pun akun media sosial. Ia diolok-olok orang satu kantor. Mulai dari dianggap kurang gaul hingga dicap takut pergerakannya dilacak istri. Tapi teman ini bergeming. Ia tetap memilih untuk tidak main di medsos.

Biar sedikit maju dari kawan ini, minggu lalu, tepatnya Kamis, 9 Juni 2016, saya mencoba mengunduh (download) Instagram di smart phone. Awalnya bingung juga, mulai dari mana. Singkat cerita, saya akhirnya berhasil masuk dengan akun email yang sama dengan facebook. Nah untuk mengisinya, saya upload foto-foto pemandangan Taman Nasional Komodo yang saya ambil akhir Mei 2016. Dalam beberapa hari ini, jumlah followers saya baru 130. Masih sangat sedikit. Tapi tidak apa-apa.

Tambahan Instagram ini membuat smartphone saya makin lelet. Belum lagi percakapan sejumlah grup WA yang tak pernah berhenti. Karena itu, saya memutuskan untuk left dari salah satu grup WA yang dalam sehari diakusinya bisa mencapai ribuan pembicaraan. Padahal, tidak semua diskusi itu saya baca.

Saya sebenarnya tidak terlalu maniak dengan berbagai jenis medsos. Yang paling sering saya pelototi hanya facebook. Selain lihat foto-foto narsis orang-orang, juga memantau status dan judul berita yang dishare di sana. Facebook juga saya pakai untuk berbagi tulisan di blog saya seperti juga artikel yang sedang Anda baca ini.

Meski hanya main di satu media sosial dan sesekali tengok twitter dan Instagram yang baru dibikin, saya merasa waktu sudah terkuras. Banyak hal, termasuk pekerjaan rumah yang terbengkelai karena keasyikan main facebook. Bahkan gara-gara main medsos di sela-sela kerja, kadang deadline dilanggar.

Saya lalu memikirkan sejumlah kawan yang begitu aktif di berbagai medsos yang mereka ikut baik facebook, twitter, instagram, grup WA, maupun grup BBM yang pamornya semakin redup itu. Saya hanya membayangkan berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk untuk terus eksis di media-media itu? Jangan-jangan, mereka tidak berkomunikasi dengan orang yang secara fisik dekat tapi justru asyik dengan mereka yang entah berada di mana.

Minggu, 12 Juni 2016, kami ditraktir makan di sebuah tempat makan di Alam Sutra, Serpong, dalam rangka ulang tahun kedua ponakan saya yang sangat cantik. Kami memakai empat meja. Di depan kami ada seorang pria paruh baya dengan seorang perempuan yang kelihatannya masih sangat muda. Entah seperti apa hubungan mereka. Mungkin ayah dengan anak. Saya mengamati mereka dari sebuah kaca yang memantulkan semua yang ada di tempat makan tersebut, termasuk kedua orang tadi. Sejak awal hingga pulang, mereka nyaris tidak saling bicara. Keduanya sibuk dengan smarphone masing-masing. Entah mereka sedang bicara dengan siapa di luar sana.

Bukan hanya mereka. Kadang saya juga mengabaikan istri dan anak-anak saya karena terlalu asyik lihat facebook. Paling baru, Rabu, 15 Juni 2016 sore, saya memanasi pemanggang ikan (happycall). Setelah saya isi dengan air, lalu ditempatkan di atas kompor, kemudian kompor saya hidupkan. Setelah itu saya terima telepon dari istri dilanjutkan pantau facebook. Terakhir, saya lupa bahwa saya sedang menghidupkan kompor sampai anak sulung saya berteriak bahwa bahwa api di dapur makin besar. Saya lari dan menemukan bahwa api memang membesar dengan asap mengepul. Untung saja tidak panik. Saya matikan kompor diikuti dengan menyiram api dengan air.

Mudah-mudahan Anda juga tidak tenggelam dengan medsos Anda lantas meniadakan orang-orang yang secara fisik berdekatan dengan Anda. Lebih bahaya lagi kalau mengalami peristiwa yang terjadi pada saya. Sepertinya perlu off-kan smartphone begitu sudah berada di rumah. Dengan demikian, kita bisa menjaga komunikasi yang baik dan hangat dengan orang-orang yang kita cintai. (Alex Madji)