Home Inspirasi Berdoa di Depan Piala

Berdoa di Depan Piala

537
0
SHARE


Didier Drogba menjadi pahlawan Chelsea saat klub dari London Barat itu menjuarai Liga Champions musim 2011/2012. Pemain bernama lengkap Didier Yves Drogba Tébily itu mencetak gol penyama kedudukan 1-1 melawan Bayern Muenchen hanya lima menit setelah Thomas Mueller mencetak go yang membawa Bayern Muenchen unggul 1-0 menit ke-83.

Setelah bermain imbang pada waktu normal dan babak tambahan waktu, bapak tiga anak ini menjadi penentu Chelsea menjuarai Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub itu. Dalam tendangan 12 pas, Drogba mengarahkan bola dengan pelan menyusur tanah ke sisi kiri penjaga gawang Manuel Neuer, sementara kiper nomor satu Jerman itu jatuh ke kanan.

Setelah menjuarai Liga Champions, The Telegraph melaporkan bahwa para pemain Chelsea enggan beranjak dari ruang ganti Allianz Arena. Mereka enggan pulang ke hotel. Bergadang di sana sampai jam tiga dini hari. Mereka bercengkerama, bercerita satu sama lain. Bahkan Drogba menari di atas meja mengelilingi piala itu. Tetapi ini bukan sekedar menari. Tetapi sebentuk doa seorang Drogba di depan piala yang baru direbutnya itu untuk pertama kali dalam sejarah Chelsea. Sebuah cara berdoa khas Afrika.

“Drogba menari di atas meja, berdoa untuk piala yang baru direbut tersebut. Ini sebuah pengalaman religius yang luar biasa,” kata Chairman Chelsea Bruce Buck.

Ya, Drogba memang seorang yang religius. Sebagai seorang Katolik, dia selalu memulai laga dengan tanda salib. Dalam Nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Setiap kali mencetak gol, Drogba tidak pernah lupa membuat tanda salib. Bahkan nyaris mencetak gol saja, Drogba membuat tanda salib. Itulah religiositas seorang Drogba. Tuhan selalu ada dalam permainan sepakbola Didier Drogba yang oleh ibunya dipanggil Titto itu.

Musik
Drogba bukan hanya religius dan jago sepakbola. Dia juga jago musik. Bahkan dia bisa disebut musikus. Saking hebatnya Drogba dalam dunia musik, sampai-sampai ada istilah yang terkenal yaitu “Drogbacite” atau dalam Bahasa Inggris disebut “Drogbaness”. Drogbaness adalah sebuah fenomena budaya dalam dunia musik dan tarian yang tidak memperlihatkan tanda-tanda akan hilang. “Drogbacite? Ya itu semua tentang saya, tentang keberhasilan saya dalam empat tahun terakhir,” imbuhnya seperti diberitakan The Observer.

Sebelum Piala Dunia Afrika Selatan 2010 silam, dia bersama teman-teman setimnya masuk dapur rekaman dengan sistem magis. Bersama sebuah band lokal, Drogba dan rekannya yang bermain di Arsenal Emmamuel Eboue memperlihatkan bahwa mereka bisa bernyanyi dengan baik yang sama baiknya dengan sepakbola. “Benar saya bisa nyanyi,” kata Drogba.

Menurut Drogba, ada hubungan antara musik dan sepakbola. Dan sebelum bermain, dia harus selalu mendengar musik. “Saya butuh musik, khususnya sebelum pertandingan. Saya praktekkan itu di Chelsea, khususnya saat persiapan di ruang ganti,” imbuhnya dalam sebuah wawancara dengan The Ovserver.

Droga menikah dengan seorang perempuan asal Mali bernama Diakite Lalla yang dijumpainya di Paris. Perkawinan mereka menghasilkan tiga anak. Anak pertamanya bernama Isaac lahir di Paris pada 1999. Drogba punya dua adik yang juga pemain sepakbola profesional, yaitu Joel dan Freddy Drogba. Freddy yang baru 19 tahun bermain untuk klub Ligue 1 Prancis, Dijon. Akhirnya, selamat yang Drogba… (Alex Madji)