Home Inspirasi Bernostalgia di KPU

Bernostalgia di KPU

475
0
SHARE

Jumat, 7 September 2012, saya ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ada janjian dengan teman liputan pemilu 2004 di sana. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir pendaftaran partai politik peserta pemilu 2014. Kami berdua ingin melihat suasana pendaftaran yang ditutup pada pukul 16.00 WIB itu.

Saya tidak secara khusus menulis soal pendaftaran tersebut. Cukuplah itu menjadi konsumsi media-media mainstream. Saya hanya menceritakan soal lain, tentang pertemuan dengan kawan-kawan lama.

Saya tiba di KPU di Jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat itu sekitar pukul 17.00 WIB. Teman saya sudah tiba duluan. Melalui pesan BBM (Blacberry Messanger), dia menanyakan posisi. Ketika saya jawab, sudah berada di KPU, dia langsung memberitahu posisinya. “Di lantai dua,” tulisnya singkat.

Saya segera ke sana. Tidak ada pemeriksaan di pintu masuk, meski ada petugas dari pengamanan dalam KPU yang berseragam safari hitam berdiri di depan pintu. Sementara di halaman KPU didirikan sebuah tenda besar yang di bawahnya dideretkan kursi-kursi merah bagi para pendukung partai politik yang mengantar berkas ke gedung penyelenggara pemilu tersebut.

Di dekat gerbang masuk, di samping tenda itu, berjejer mobil-mobil dinas anggota KPU. Semuanya seragam. Mitsubhisi Pajero berwarna hitam. Pada Pemilu 2004, setiap anggota masing-masing memilih merek mobil dinasnya. Alhasil, berbagai macam mobil ada. Ada Nissan Terano, ada Toyota Altis, ada Honda Civic, ada Toyota Camry dan beberapa merek lagi.

Begitu tiba di lantai dua, masih ada banyak orang di sana. Termasuk wartawan. Orang-orang partai masih hilir mudik. Lebih sibuk lagi di ruang pertemuan utama (aula) di lantai itu itu, tempat pendaftaran partai politik. Para pengurus partai sibuk mendorong kontainer (kotak-kotak plastik) berisi dokumen-dokumen persyaratan partai politik peserta pemilu. Yang lain sibuk membolak balik dokumen-dokumen di hadapan petugas KPU yang dibagi ke dalam 10 tim.

Kontainer-kontainer milik Partai Amanat Nasional teronggok rapih di tengah ruangan. Sementara kontainer-kontainer Partai Demokrat sudah dipinggirkan ke sudut kiri agak ke depan dari pintu masuk. Begitu juga kontainer-kontainer PKPI, partainya Sutiyoso, tersusun rapih sebelah kanan pintu masuk. Sedangkan di atas panggung, dokumen-dokumen PKB sedang dibongkar bangkir. Di dekat pintu masuk sebelah kiri, Partai Keadilan juga memperlihatkan kelengkapan dokumennya. Sempat terjadi sedikit kericuhan terkait partai ini karena terjadi kepengurusan ganda. Tim KPU hanya menerima partai politik berbadan hukum yang diakui oleh Kementerian Hukum dan HAM. Akibatnya, ribut. Pihak yang tidak diakui Kemkum HAM marah. Untung itu hanya sebentar. Tidak berbuntut panjang.

Di sampingnya, ada meja yang menerima pendaftaran Partai Bulan Bintang. Di sampingnya lagi ada Partai PPN. Partai hasil penggabungan beberapa partai ini membawa banyak sekalai kontainer, tetapi dari luar tampak jelas terlihat bahwa satu kontainer hanya berisi satu bundel. Di sebelah kanan dari pintu masuk, petugas memeriksa kelengkapan Partai Hanura, persis di samping tumpukan kontainer PKP Indonesia.

Sementara itu anggota KPU yang merupakan teman lama, Hadar Navis Gumay tampak sibuk. Begitupun anggota KPU lainnya yang mantan anggota KPU DKI Jakarta, Juri Ardiantoro. Tak kalah sibuknya, Wakil Sekjen KPU Asrudi Trijono yang terus mengawasi kerja anak buahnya, meski dalam keadaan pincang.

Hadar tidak banyak bicara, seperti ketika masih aktif Cetro. Meski tetap ramah dalam bertegur sapa. Saat ditanya dia hanya berujar singkat, “Ada 46 partai yang mendaftar. Tetapi kami double check,” ujarnya. Setelah itu dia tenggelam dalam kesibukannya.

Tidak ada pembicaraan lain. Selebihnya saya dan teman saya bercengkrama dengan staf KPU yang, ternya masih ingat satu sama lain. Dari mereka, saya mendapat cerita bahwa perilaku partai ini tidak berbeda dari pemilu ke pemilu. Selalu menunggu detik-detik terakhir dalam mendaftar.

Memang ada sedikit perbedaam. Pada 2004, pendaftaran seperti ini ditutup pukul 00.00. Jadi hingga tengah malam kantor KPU itu bagai pasar malam. Ramai dan hiruk pikuk. Sekarang penutupannya lebih sore. Tetapi tetap saja. Partai-partai itu datang dan mendaftar pada detik-detik terakhir. Tentu saja ini menyulitkan petugas. Belum lagi kalau dokumennya belum lengkap.

Situasi sore itu cukup untuk mengenang kembali liputan pemilu 2004 dan bertemu teman-teman lama yang masih setia mengurus pemilu. Meskipun produk pemilu itu tidak pernah membuat negara ini semakin baik. (Alex Madji)

Pengurus partai politik dan staf KPU sibuk memeriksa kelengkapan dokumen partai politik peserta pemilu di kantor KPU, Jumat, 7 September 2012. (Foto: Alex Madji)