Home Inspirasi Berterima Kasih dengan Pohon

Berterima Kasih dengan Pohon

585
2
SHARE


Sabtu, 11 Februari 2012 malam, kami sekeluarga menghadiri resepsi pernikahan putri Mulyana W Kusumah di Gedung Antam, Jalan TB Simatupang, Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Pernikahan itu meriah. Tidak sedikit mantan pejabat yang hadir. Ucapan dalam bentuk karangan bunga dari para pejabat dan mantan pejabat pun berjibun.

Mulyana W Kusumah adalah mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada pemilu 2004. Ketika itu, saya meliput pemilu di sana. Karena itu menghadiri resepsi pernikahan ini seolah reuni dengan kawan-kawan lama seperti Hamid Awaludin mantan anggota KPU yang pernah menjadi Menteri Hukum dan HAM dan Duta Besar RI untuk Rusia. Bertemu juga dengan mantan Sekjen KPU, Yusac, dan beberapa pejabat KPU. Ada juga mantan Sekjen Departemen Dalam Negeri Progo Nurdjaman yang begitu akrab dan ramah. Selain itu teman-teman liputan pemilu 2004 bertemu di sana. Cukup untuk melepas kangen dan menghidupkan kembali memori penyelenggaraan Pemilu 2004 dengan segala karut marut dan kisah pilu setelahnya yang berujung pemenjaraan beberapa anggota dan berokrat KPU.

Sayang, acara itu berlangsung dalam guyuran hujan lebat. Datang ke acara tersebut butuh perjuangan karena harus menerabas cuaca buruk. Hujan lebat membatasi jarak pandang dalam berkendara.

Tetapi yang menarik ini. Ketika mau pulang, undangan diberi pohon sebagai souvenir. Ada macam-macam jenis pohon. Ada alpukat, sirsak, jambu, dan berbagai jenis pohon lainnya. Pohon-pohon itu ditukar dengan kartu souvenir yang diterima setelah menandatangani buku tamu.

Kartu souvenir itu ada dua. Yang agak besar untuk tamu. Sedangkan yang agak kecil untuk ditukarkan dengan pohon. “Mohon kartu ini ditukarkan dengan souvenir pada waktu meninggalkan ruangan. Gita dan Faisal,” tulis pada kartu souvenir tersebut.

Saya lalu memilih Sirsak. Sebanarya saya pilih pohon Alpukat. Tetapi, kata istri teman saya, awas ulat bulu. Takut juga. Akhirnya Sirsak yang dipilih. Sebab kasiatnya banyak. Bukan hanya buahnya yang bisa dimakan, tetapi daunnya juga berkasiat untuk menyembuhkan sejumlah penyakit.

Rupanya souvenir pohon sudah menjadi tren sebagai souvenir pernikahan belakangan ini. Dalam era go green seperti saat ini, souvenir pohon menggeser dan mengganti souvenir-souvenir lucu, menarik, dan berkesan lainnya, seperti dompet koin, kipas, tanggalan, sumpit, gelas, lilin, dan masih banyak lagi.

Sayangnya, souvenir itu masih dipraktekkan di kalangan terbatas yaitu pada mereka yang berkelas atas. Souvenir pohon juga sekaligus penanda kelas keluarga yang menyelenggarakan pernikahan. Dan, umumnya hanya terjadi di kota-kota besar. Sementara bagi masyarakat kelas bawah, di kota-kota serupa, souvenir pernikahannya masih yang biasa-biasa saja.

Padahal, kalau ini menjadi tren umum masyarakat, sangat bagus. Pinciptaan hutan, di tengah penggundulan secara maruk oleh para garong negeri ini, dimulai dari rumah, lingkup yang paling kecil. Makin banyak pohon yang ditanam, menjadikan Indonesia sebagai paru-paru bumi. Asal, proses pembalakan liar segera dihentikan dan penanaman kembali hutan yang sudah gundul perlu digalakkan besar-besaran.

Anyway, terimakasih kepada para pengantin yang sudah membangun kesadaran menanam pohon melalui souvenir pernikahan. Maka berterimakasihlah dengan sebatang pohon. (Alex Madji)

Keterangan Foto: Pohon sirsak yang didapat dari pernikahan anak Mulyana W Kusumah (Foto: Alex Madji)