Bisnis Ghostwriter

Bisnis Ghostwriter

983
SHARE
Her Suharyanto

Senin, 21 September 2015 siang cukup panas. Sama seperti hari-hari sebelumnya di musim panas ini. Terasa makin panas ketika berada di sebuah ruangan berukuran kira-kira 3×10 meter di bilangan Kebun Jeruk, Jarta Barat. Ini kantor Majalah Mingguan Hidup Katolik. Ruangan yang kecil memanjang yang terletak paling belakang kompleks tersebut disesaki kurang lebih 40 orang wartawan, penulis buku, dan pelaku dunia tulis menulis lainnya.

Terasa makin sesak karena di sana ada rak-rak buku yang berisi ensiklopedia dari berbagai tahun penerbitan. Juga kliping Majalah Hidup berbagai edisi. Belum lagi meja panjang dan sejumlah kursi. Tampaknya, ini sebuah ruang rapat yang disulap jadi “ruang kuliah” siang itu.

Pendingin ruangan tidak cukup kuat mengusir rasa gerah. Meski demikian, ke-40 orang tadi dengan takzim mendengar “sharing” Her Suharyanto selama lima jam dengan hanya sekali rehat. Her Suharyanto adalah seorang “ghostwriter”. Baginya, “ghostwriter” adalah sebuah profesi membanggakan dengan penghasilan menjanjikan. Makanya, dalam judul tulisan ini, saya sebut bisnis “ghoswriter”

“Dari pekerjaan seperti ini, saya memang tidak berlimpah, tapi juga tidak berkekurangan. Ya, lumayan kalau bisa ajak istri jalan-jalan,” kisahnya membuka pertemuan membangkitkan optimisme para peserta kuliah dadakan ini.

Sebelum bercerita panjang lebar tentang hasil kuliah umum itu, apa sih “ghostwriter” itu? Secara harafiah, “ghostwriter” adalah “penulis hantu”. Wikipedia mendefinisikan “ghostwriter” sebagai orang yang menulis/mengarang buku, manuskrip, skrip, artikel, blog, cerita, laporan atau teks apa pun untuk orang lain.  Nama yang muncul dalam tulisan-tulisan itu bukanlah sang penulisnya, melainkan mereka yang memesan tulisan. Itulah sebabnya, “ghostwriter” ini disebut penulis hantu karena nama mereka disembunyikan. Tidak muncul.

Kenali Diri
Mas Her, sapaan akrabnya, memilih profesi ini karena sangat terkait dengan karakter dirinya. Ia tidak punya pretensi untuk menjadi siapa-siapa dan rela menjadikan orang lain besar dan ia menjadi kecil. Tapi pada saat bersamaan, ia tetap menyisipkan dan menyebarkan ide serta gagasannya lewat orang lain. Ia tidak butuh sensasi dengan menampilkan namanya pada halaman cover buku yang ditulisnya.

Baginya, masa sensasi itu sudah lewat ketika waktu SMA tulisannya dimuat di Kompas atau ketika awal menjadi wartawan, tulisannya dimuat di media tempatnya kerja. “Sekarang, bukan saatnya untuk mencari sensasi-sensasi seperti itu,” ucapnya.

Karena itulah, setelah malang melintang menjadi wartawan di Indonesia Business Weekly, Bisnis Indonesia, dan Dow Jones Newswires, sejak 1991, pria kelahiran Tanggamus, Lampung itu, terjun total di profesi sebagai “ghostwriter”. Ia sendiri menyebutnya, dunia literasi.

Sejak pertama kali kecemplung di profesi ini, sudah puluhan buku ditulisnya. Artikel, teks, dan sejenisnya tak terhitung lagi jumlahnya. Kliennya pun berjibun. Rata-rata perusahaan kakap. Cek saja di website pribadinya www.epistela.com. Di sana tertulis banyak sekali lembaga/perusahaan yang pernah menggunakan jasanya baik untuk menulis maupun memberi pelajaran literasi.

Wartawan, penulis, dan pelaku media mengikuti kuliah penulisan buku
Wartawan, penulis, dan pelaku media mengikuti kuliah penulisan buku

Dari profesi ini, ia menuai hasil cukup menggiurkan. Bahkan menurut ceritanya, ada seorang rekannya sesama “ghostwriter” yang mendapat penghasilan Rp 1 miliar per tahun. Mas Her sendiri belum mencapai angka sebesar itu. Tapi, ia selalu mendapat cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Dalam menjalani profesi ini, Her juga tidak terlalu memasang target muluk. Tiga sampai empat buku dalam setahun sudah cukup. Rata-rata satu buku diselesaikan dalam waktu empat bulan. Untuk mencapai target ini, ia juga tidak terlalu gencar melakukan pemasaran. “Saya menyebut diri melakukan “soft marketing”. Ada orang lain yang melakukan “hard marketing”, tapi saya tidak bisa melakukan hal seperti itu,” ujarnya.

Soal harga, Her Suharyanto tentu saja memiliki tarif tertentu, tapi selama ini jarang ada yang di atas Rp 100 juta untuk sebuah penulisan buku. Hanya sekali ia mendapat bayaran di atas Rp 100 juta untuk sebuah buku. Katakanlah, satu buku ia dibayar Rp 80 juta, maka dalam satu tahun ia mengumpulkan penghasilan Rp 240 sampai 320 juta. Menggiurkan bukan?

Siap Hadapi Sial
Tapi dalam dunia “ghostwriter” ini, kadang ada sialnya. Ia menceritakan, ketika seorang politisi memintanya menulis buku tentangnya. Tapi  hingga buku selesai ditulis dan terbit, sisa pembayaran belum juga dibayarkan hingga saat ini. “Padahal sisa pembayaran itu adalah untuk membayar jasa saya,” ceritanya sedikit lirih.

Hal lain yang perlu siap dijalankan bila ingin tenggelam dalam dunia “ghostwriter” ini adalah singkirkan dulu idealisme. Sebab kadang ia bertemu dengan klien yang seleranya melenceng dari idealisme sang “ghostwriter”. Pada titik seperti ini, idealisme itu harus luluh di hadapan sang pemberi order. Itu risiko seorang “ghostwriter”.

Pengalaman panjang tercebur dalam dunia penulis hantu inilah yang di-sharing-kan Her Suharyanto dalam kelas wartawan tersebut. Ia juga membagi bagaimana ia menulis buku-buku atau tulisan-tulisan lain pesanan kliennya agar karya-karya itu tetap menarik dan penting. Dari pengalaman bertahun-tahun itu akhirnya ia menemukan cara dan formulanya sendiri bagaimana menghasilkan sebuah buku/artikel/company profile atau apa pun yang menarik dan enak dibaca. Ia menemukan rumus dasarnya sendiri dalam menulis cerita.

Tapi terkait hal yang terakhir ini, ia berpesan agar cukup menjadi konsumsi para peserta kuliah dadakan tersebut. “Anda bisa pakai ini bila terjun ke dunia seperti yang saya geluti, tapi tolong jangan dibagikan ke orang lain. Sebab ini adalah priuk nasi saya,” tutupnya diiringi tepuk tangan peserta. Anyway, makasih Mas Her atas pengetahuan dan pengalamannya. [Alex Madji]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY