Home Gagasan Budaya Kita dan Para Londho

Budaya Kita dan Para Londho

783
SHARE
Sampah McDonald Thamrin

Selasa, 27 Agustus 2013, saya kecele dengan agenda liputan yang dikirim seorang teman via blackberry messangers (BBM). Dikabarkan, mantan pebulutangkis nasional Susy Susanti dan suaminya Alan Budikusuma menggelar diskusi terbatas di rumah makan cepat saji, McDonald, Sarinah, Jalan MH Thamrin pukul 14.30 WIB.

Saya mengira acara tersebut pada Selasa 27 Agustus 2013. Maka saya sudah berada di tempat itu sebelum pukul 14.30 WIB. Tetapi saya mulai bingung, ketika saya tidak menemukan tanda-tanda ada kerumunan besar dalam sebuah meja panjang. Tidak pula saya temukan dua pahlawan bulutangkis Indonesia pada Olimpiade Barcelona itu.

Karena kebingungan, saya lalu memesan ice cream cone seharga Rp 3.500 perak. Hanya sekedar untuk sah mendapat tempat duduk di “warteg”-nya Amerika Serikat itu. Saya mengambil tempat duduk di sebuah kursi panjang sebelah kanan pintu masuk dari arah jalan MH Thamrin.

Sambil menikmati dinginnya ice cream, saya melihat kembali pesan teman tadi di BBM. Baru sadar saya, ternyata acaranya Rabu, 28 Agustus 2013. Sedikit kecewa. Tetapi, saya terus menikmati ice ream putih di ujung tangan.

Tak lama berselang, dua orang pria duduk di depan saya. Seorang masih muda sambil menancapkan earphone di telinganya dan seorang lagi sudah paruh baya. Mereka makan kentang goreng, burger dan segelas coca cola.

Mereka tak mengenal satu sama lain. Di meja sebelah kanan saya, ada sepasang bule, pria dan wanita. Juga memesan burger dan kentang. Di meja lainnya, sebelah kiri saya, ada seorang bule lainnya. Dia datang memesan burger dan kentang, lalu makan. Hanya sebentar. Setelah itu pergi.

Tetapi ada perbedaan antara bule-bule itu dengan dua pria di depan saya tadi, dan juga kebanyakan tamu pribumi di rumah makan tersebut. Bule-bule tadi, sebelum pergi, mereka membuang sendiri sampah sisa makanannya ke tempat sampah yang sudah disediakan. Sedangkan, dua pria di depan saya, dan pengunjung pribumi lainnya, membiarkan sampah sisa makanan mereka di atas meja dan pergi begitu saja.

Seorang perempuan pekerja yang sedang hamil dan seorang perempuan lainnya yang berparas cantik dengan gincu merah cukup tebal bernama Khalifa, terpaksa mengangkat sampah-sampah yang ditinggalkan tamu-tamunya itu lalu kemudian membersihkan meja.

Ini soal dua budaya yang berbeda. Kita, pribumi, sudah terbiasa, selesai makan di restoran cepat saji seperti ini sampah-sampah sisa makan dibiarkan begitu saja. Toh nanti ada petugas yang membersihkannya.

Budaya para londho itu beda. Mereka, kalau datang ke restoran cepat saji seperti ini, selesai makan langsung membuang sendiri sampah sisa makanannya ke tempat sampah yang sudah disediakan.

Sebelumnya, saya menyaksikan hal seperti yang dilakukan para londho ini pada medio Juni 2012 tahun lalu saat meliput Piala Eropa di Warsawa Polandia. Selama dua minggu berada di kota itu, saya cukup sering makan siang di restoran cepat saji McDonald di pusat kota yang menjadi pusat keramaian selama Piala Eropa lalu atau yang disebut Fan Zone.

Sejak pertama kali masuk, saya memperhatikan, semua orang yang datang ke situ, sesudah makan membuang sendiri sampah sisa dan pembungkus makanannya ke tempat sampah yang sudah disediakan. Saya pun, meski dengan terpaksa karena tidak biasa, mengikuti budaya mereka itu. Membuang sendiri sampah sebelum meninggalkan restoran tersebut.

Pengalaman serupa kembali terulang, ketika pada bulan yang sama di 2012, saya ke Lisbon, Portugal. Makanya, saya kemudian menyimpulkan bahwa ini adalah budaya para londho. Bukan budaya kami dan kita. Tetapi ketika pulang ke Indonesia pada akhir Juni tahun itu juga, saya kembali ke budaya asli seperti orang kebanyakan di sini. Habis makan, pergi begitu saja dan membiarkan sampah tergeletak di atas meja.

Begitu juga dalam hal tertib berlalu lintas. Orang Indonesia kalau ke luar negeri, ke Singapura saja, misalnya, pasti tertib lalu lintas. Menyeberang pasti di zebra cross dan tunggu sampai saat lampu hijau untuk pejalan kaki nyala. Tetapi kembali ke Indonesia, kita bisa menyeberang di mana saja, tanpa peduli kendaraan roda dua atau empat sedang ngebut atau tidak.

Karena itu, menurut saya, tidak ada salahnya budaya yang baik dari para londho itu ditiru dan dipraktekan di sini. Hal paling sederhana ya di restoran cepat saja seperti McDonald tadi. Apalagi kalau memang membuang sendiri sampah setelah makan adalah standar rumah makan itu yang berlaku di seluruh dunia. Tinggal ditegakkan saja aturan tersebut. Begitu juga dalam tertib berlalu lintas.

Sangat bagus kalau tertib berlalu lintas ketika kita ke luar negeri dipraktekkan di sini. Dengan begitu, kita bisa sejajar dengan para londho, minimal dalam hal-hal kecil seperti itu. Untuk lebih beradap seperti mereka dalam perkara-perkara besar, kita butuh waktu, tekad, dan kemauan baik untuk menjalankannya. Bukan karena kita tidak bisa, tetapi karena tidak terbiasa. Ayo mari kita mulai. (Alex Madji)