Home Inspirasi Bukalah Hatimu bagi Siapa Pun

Bukalah Hatimu bagi Siapa Pun

240
SHARE
Sumber gambar ilustrasi: http://tipsdantrikampuh.blogspot.com

Saya punya teman perempuan atau amica mea sudah berumur. Ia sangat ingin menikah, tapi sampai sekarang belum juga dapat jodoh. Beberapa kali ia minta bantuan saya untuk mencarikan pasangan hidupnya. Saya coba berpikir, siapa gerangan teman, kerabat, atau keluarga yang cocok buatnya.

Belakangan, saya berpikir ulang. Sebab syarat yang diajukan cukup berat. Antara lain, sudah harus punya mobil dan rumah alias sudah sangat mapan. Makanya kemudian, saya diam saja dan tidak berinisiatif mencari pasangan seperti yang diinginkannya. Saya takut ia dan teman saya sama-sama kecewa.

Lama tak ada kabar, si amica mea tiba-tiba whatts app. Katanya, ia masih belum temukan pasangan yang cocok. Selama tidak berkomunikasi untuk sebuah waktu yang panjang, ia sempat mencoba jalan dengan seorang lelaki yang pas dengan kriterianya. Mapan secara ekonomi. Pengusaha, katanya. Rekan bisnis salah satu orang hebat republik ini. Rupa tak terlalu soal. Cukup lama mereka pacaran. Sayang, pada akhirnya, ia memilih untuk meninggalkan cowok tersebut. Alasannya sederhana. Ketika amica mea serius mau menikah, pasangannya malah kabur tanpa ada kabar berita.

Kemudian, ia bercerita lagi. Di tengah kekosongan itu, seorang cowok lain datang. Mereka dikenalkan seorang teman. Namun, si amica mea langsung merasa tidak sreg pada komunikasi awal. Pertama, karena dia terlalu “bernafsu” ingin bertemu, padahal baru saling kontak daring beberapa kali. Si amica mea langsung illfeel. Kedua, berdasarkan informasi awal dari “si mak comblang” secara ekonomi cowok itu belum mapan. Padahal sudah berumur.

Dalam bayangannya, pada umur seperti itu, seharusnya sudah punya rumah dan mobil. “Terus, kalau gue jadi ama dia, mau makan apa nanti setelah kawin? Masak dia andalkan gue,” ujarnya. Karena dua alasan tersebut, ia tidak pernah mau bertemu si cowok tadi. Berkali-kali diajak bertemu, si amica mea bergeming. “Gue malas ketemu cowok kayak gituan,” lanjutnya bercerita.

Sebenarnya, saya berusaha hanya menjadi seorang pendengar yang baik. Sesekali menimpali. Terakhir, dia bertanya, “Menurut elu gimana?” Karena ditanya, saya mencoba memberi masukan.

Pertama, untuk cowok yang terakhir, sebaiknya dijumpai saja. Siapa tahu, informasi yang kamu dapat tentang dia salah. Tidak usah berpikir terlalu jauh bahwa kamu akan atau harus berpacaran dengan dia. Jumpai saja dulu untuk memperluas pertemanan. Siapa tahu, suatu saat nanti ia bisa menjadi seorang sahabat terbaik, yang akan membantu ketika tidak ada orang lain lagi yang bisa dimintai pertolongan. Dan, tidak ada salahnya membuka hati untuk bergaul dengan orang baru tanpa harus membuat banyak persyaratan. Bergaul saja setulus mungkin dengan siapa pun.

Kedua, dalam hal mencari pasangan hidup, yang paling penting adalah cinta. Dan, cinta selalu tanpa syarat. Ia penuh pengorbanan dalam segala hal. Betul bahwa calon pasangan hidup itu sebaiknya mapan, sangat penting. Namun, ia tidak bisa menghalau cinta. Masalah ekonomi selalu bisa dibangun bersama. Dari titik nol sekali pun. Banyak contoh dan kisah, orang tidak punya apa-apa saat menikah. Namun mereka kemudian bisa membangun hidup rumah tangga yang sangat baik, harmonis, dan bahagia serta berkecukupan secara ekonomi. Asalkan dia sudah punya pekerjaan tetap, itu sudah cukup.

Syarat harus mapan pada saat bersamaan bagaikan kita membangun tembok pembatas yang tinggi untuk diri sendiri. Kita kemudian tinggal di balik tembok tersebut. Hanya orang yang mampu menghancurkan tembok tersebut bisa masuk. Yang tidak sanggup, ya lewat saja.

Karena itu, cinta haruslah menjadi fondasi setiap kali mau membangun hubungan yang serius dengan lawan jenis. Yang lain-lain hanya sebagai syarat pelengkap. Jangan dibalik. Menempatkan syarat kemapanan secara ekonomi sebagai yang utama bagaikan membangun rumah di atas pasir yang gampang roboh ketika badai datang. Bangunlah hubungan di atas fondasi yang kuat, dan di atasnya kemudian didirikan kemapanan ekonomi secara bersama. Seperti syair sebuah lagu, “Letakkanlah alas rumahmu di atas wadas perkasa.” Namun, sebelum itu, bukalah hati untuk bergaul dan berteman dengan siapa pun. (Alex Madji)