Home Makanan Caffeela dan Catatan Kecil tentang Festival Budaya Manggarai

Caffeela dan Catatan Kecil tentang Festival Budaya Manggarai

302
0
SHARE

Media sosial akhir pekan lalu, terutama Facebook, Istagram, dan Youtube, riuh dengan gambar dan video tentang acara Festival Budaya Manggarai di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang berlangsung dua hari, Sabtu-Minggu, 17-18 Agustus 2019. Acara ini digelar oleh Komunitas Perempuan Manggarai (KPM).

Di acara tersebut, saya hadir sebagai peserta bazar. Karenanya, saya ingin memfokuskan catatan ini dari sudut pelaku bazar. Sebab, saya praktis tidak menonton semua pertunjukan caci, tari-tarian, fashion show, maupun teater yang dilangsungkan di lapangan Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT). Saya hanya mendengar dari pengeras suara dan pada hari terakhir, menjelang akhir, saya masih sempat melihat caci.

Saya hadir di sana dengan produk kopi bermerk Caffeela. Ini khusus kopi dari Kampung Wela, Desa Goloworok, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Kami berada di kampung paling ujung Kabupaten Manggarai, berbatasan dengan Golowelu, ibu kota Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat.

Tentang Caffeela, saya baru memulainya pada awal 2019. Saya beli kopi dari sebuah kelompok tani bentukan baru di Wela. Di Jakarta, biji-biji kopi itu saya roasting, lalu dimasukkan dalam kemasan-kemasan kecil ukuran 100 gram, 250 gram, hingga 1 kg. Belakangan ditambah kopi seduh juga dengan merk yang sama Caffela.

Sebagai peserta bazar, acara ini saya nilai sukses luar biasa. Ukurannya, pertama, semua booth yang berderet di dekat pagar pintu masuk Anjungan NTT selalu ramai pengunjung.

Kedua, keramaian itu juga tercermin dari rupiah yang dikumpulkan selama dua hari festival. Hasil jualan Caffeela, misalnya, melebihi ekspektasi. Dibanding dua bazar yang saya ikuti sebelumnya di Cikarang, hasil pada bazar ini luar biasa. Rp 1 juta per hari. Hebat bukan? Saya yakin, ada yang lebih dari itu, terutama makanan dengan menu yang beda dari yang lain.

Padahal, sebagai pedagang kopi, saya tidak sendiri. Masih ada lima booth lain yang menjual produk serupa. Ada Kopi Lingko yang bersebelahan meja dengan Caffela. Juga ada Kopi Wetan di barisan yang sama. Ada juga sekolompok anak muda yang menjual kopi Colol dengan harga amat sangat murah dengan nama yang lucu nan milenial, seperti Kopi Mantan dan Kopi Kenangan. Booth mereka sangat ramai dan selalu penuh. Saya kira, penghasilan mereka melebihi Caffeela.

Foto: Ciarciar.com

Di samping saya, ada booth milik Ketua KPM Josefina A Syukur yang menjual kompiang, rebok serta bando dan tas songke di bawah bendera “Dapur di Njiuk”. Jualan mereka juga laris manis. Hasilnya, kata Kak Fifi – saya menyapanya begitu – sangat memuaskan, Rp 1,8 juta selama dua hari.

Dua fakta kecil itu sudah cukup membuktikan bahwa acara ini sukses besar dari sudut pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan capaian seperti itu, maka tujuan Bank Indonesia dan OJK mendukung acara tersebut tercapai dengan sangat memuaskan. Maka, saya berharap, mereka mau mendukung lagi kalau KPM menggelar acara serupa dengan melibatkan makin banyak pelaku UMKM dengan produk yang bervariasi. Apalagi, pada hari pertama, para pelaku UMKM masih dibekali lagi dengan seminar yang mencerahkan.

Di luar bazar, sebenarnya saya tidak bisa memberi catatan terlalu banyak. Namun, saya menilai, KPM juga sukses menyelenggarakan acara ini. Ukurannya apa? Pertama, ini yang paling tampak, jumlah pengunjung yang datang. Membeludaknya orang yang datang, sampai anjungan NTT tidak bisa menampung. Saya kira, ke depan, butuh tempat yang lebih luas untuk menggelar acara serupa.

Ketiga, kalau kehadiran “orang-orang besar” juga menjadi ukuran, maka acara ini hebat bukan main. Bayangkan, dua uskup datang. Uskup Keuskupan Sorong Mgr Hilarion Datus Lega dan Uskup Keuskupan Bgor, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM. Belum lagi, staf khusus presiden bidang intelijen, Goris Mere dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang hadir pada hari kedua. Terlepas dari ada juga yang tidak suka dengan kehadirannya karena pilihan politik pada Pilkada DKI Jakarta tahun lalu.

Keempat, di lapangan caci, seluruh rangkaian acara juga berjalan sukses. Caci dipentaskan dengan sangat bagus, tanpa insiden berarti. Keempat, sebagai festival budaya, acara di luar caci, juga meriah dan variatif. Ada tarian, fashion show, dan teater. Acara-acara ini juga memberi hiburan tersendiri bagi pengunjung dan membuat caci tidak monoton.

Kelima, Fesitval Budaya Manggarai ini juga sukses mempertemukan teman-teman lama alias reuni. Mulai dari teman-teman sekolah dasar hingga kuliah serta saudara yang sudah lama tidak saling juma di kota besar ini. Maka lahirlah obrolan-obrolan lepas yang rileks di luar rutinitas di tempat kerja sehari-hari serta olok-olokan yang bikin tertawa lepas, merenggangkan semua urat syarat.

Dari hal-hal positif di atas, maka saya sangat berharap acara seperti ini rutin dilakukan. Selain menjalankan misi utama yaitu menjaga dan menghidupi budaya lokal, Manggarai, juga menjadi “pasar” bagi pelaku UMKM seperti saya, terutama untuk memasarkan produk-produk komoditas dan kerajinan rakyat Manggarai. Sebab, kita tidak bisa mengharapkan orang lain membuka pasar bagi produk kita, selain kita sendiri. Akhirnya, selamat dan terima kasih kepada KPM yang menggelar acara luar biasa ini. (Alex Madji)