Home Inspirasi Caffeela dan Ikhtiar Membantu Petani Kopi Wela

Caffeela dan Ikhtiar Membantu Petani Kopi Wela

198
0
SHARE

Pada 1980-an hingga 2000-an, petani kopi di Manggarai, Flores, pada umumnya dan Kampung Wela secara khusus, terjebak dalam siklus perdagangan ijon. Pemilik modal/tengkulak membeli kopi petani pada musim paceklik (Oktober sampai April) dengan harga amat sangat murah.

Terkesan, ini membantu meringankan beban penderitaan hidup petani. Namun sesungguhnya, aksi ini sangat kejam. Sebab, petani bekerja keras pada musim panen kopi (Mei-Agustus), tapi hasilnya langsung disetor ke tengkulak. Mereka tidak mendapat apa-apa lagi. Uangnya sudah habis saat paceklik. Mereka cuma panen kopi, tetapi tidak ada lagi rupiah yang dipegang. Siklus itu selalu berulang selama bertahun-tahun.

Hanya sedikit petani yang cerdas. Mereka tidak mau jerjebak pada perdagangan ijon. Kelompok ini memang hidup sangat melarat pada musim paceklik, tapi saat musim panen kopi tiba, mereka berkelimpahan. Bahkan, petani kopi seperti itu bisa mengirim anaknya ke sekolah-sekolah berasrama yang bermutu, hingga mengecap pendidikan tinggi.

Saya termasuk orang yang disekolahkan ke sekolah berasrama dari hasil kebun kopi petani yang menolak ijon. Hanya sayang, selama berpuluh-puluh tahun, proses penanaman, pengolahan pascapanen, dan penjualan kopi berlangsung sangat tradisional. Tidak ada sentuhan ilmu pengetahuan, apalagi mesin-mesin modern. Akibatnya, tidak ada nilai tambah yang signifikan.

Kesadaran untuk sedikit memberi nilai tambah pada kopi petani di Kampung Wela, Manggarai, Flores, NTT, baru muncul pada Januari 2019. Seperti kata filsuf Jerman, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, saya seolah baru bangun dari tidur yang amat sangat panjang.

Ceritanya, sesuai permintaan, saya dikirimi biji kopi mentah (green beans) oleh ibu saya sebanyak 2,5 kilogram beberapa hari setelah tahun baru 2019. Namun, ada persoalan bagaimana supaya green beans ini bisa jadi bubuk kopi. Setelah mencari informasi ke sana kemari, akhirnya saya mendapat tempat roasting (sangrai) murah di Pasar Modern Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Saya lalu membawa kopi itu ke sana untuk di-roasting.

Setelah itu, saya kewalahan sendiri untuk menghabiskannya. Tiba-tiba muncul gagasan untuk menjual sebagian. Tetapi sebelum dijual, harus ada merek. Biar terlihat dan terkesan keren. Saya pilih Caffeela karena intensinya khusus menjual kopi dari petani-petani di Wela, Manggarai, Flores. Karena itu, tagline Caffeela adalah spesialis Kopi Wela.

Proses “penemuan” Caffeela ini juga sebenarnya karena faktor kesalahan. Niatnya bikin “Coffeela” tapi terjadi kesalahan penulisan “o” jadi “a” pada kata “Coffee” saat pembuatan logo. Karena ingin cepat, ya sudah, jadilah “Caffeela” sebagai merek dagang.

Setelah ada merek dan bikin stiker, saya mencari dan membeli secara online kemasan-kemasan bagus di toko-toko kopi. Harganya cukup mahal, sesuai dengan kualitasnya. Setelah dikemas secara bagus, ternyata kopi yang hanya 2,5 kg tadi cepat habis. Hanya dalam beberapa hari. Sementara beberapa orang lain masih tanya persediaan kopi.

BACA JUGA: Caffeela dan Catatan Kecil tentang Festival Budaya Manggarai

Menanggapi permintaan itu, pada akhir Januari 2019, saya lalu tanya ke Wela. Syahdan. Ada stok kopi sebanyak 100 kg di anggota kelompok tani Gaya Baru. Saya memutuskan untuk beli semua kopi itu, meski dengan harga yang cukup tinggi. Tidak ada perhitungan bisnis saat memutuskan membeli kopi-kopi itu. Dalam hati saya berpikir, sekalian bantu petani pada bulan-bulan sulit seperti ini.

Pada awal Februari 2019, proses pengiriman kopi ke Jakarta dilakukan. Sempat khawatir dan takut kalau-kalau barang ini tidak sampai tujuan. Sambil menunggu, saya mencari kemasan yang berkualitas tetapi dengan harga yang cukup murah di market place alias toko online. Saya akhirnya menemukan, dan itulah yang dipakai sebagai kemasan Caffeela sampai sekarang. Jadi, begitu kopi tiba, saya tidak perlu menunggu lama lagi. Proses penjualan langsung berjalan.

Hasil dagang selama 3,5 bulan pertama memungkinkan saya bisa menambah stok lebih besar hingga dua kali lipat dari pembelian akhir Januari 2019. Tujuannya, agar penjualan Caffeela ini bisa berlangsung rutin hingga musim panen berikutnya. Harapannya, tahun depan satoknya bisa dua kali lipat dari tahun ini.

Tetapi pekerjaan terberat sekarang ternyata bukan bagaimana menjaga stok, tetapi bagaimana menjualnya. Mencari dan menciptakan pasar ternyata tidak mudah. Namun dengan optimisme, mudah-mudah ke depan, selalu ada jalan agar Caffeela berjaya. (Alex Madji)