Home Inspirasi Catenaccio Masih Jadi Senjata Pembunuh

Catenaccio Masih Jadi Senjata Pembunuh

555
0
SHARE


Ini cacatan yang tersisa dari laga semifinal leg kedua antara Barcelona versus Chelsea di Camp Nou pada Rabu, 25 April 2012 dini hari WIB. Hal yang mencolok dari laga itu adalah bahwa Barcelona tersingkir. Tetapi yang saya mau angkat adalah cara mereka disingkarkan Chelsea.

Laga semifinal itu mempertontonkan dua kutup sepakbola. Barcelona memperagakan sepakbola indah yang sudah menjadi kekahasan mereka. Tiki taka. Sentuhan bola dari kaki ke kaki dengan umpan-umpan pendek untuk meninabobokan pemain lawan sambil tunggu peluang untuk menusuk ke kotak penalti dengan cepat. Sebaliknya, Chelsea memperagakan kutup sepak bola yang lain, bertahan total atau grendel atau catenccio.

Roberto Di Matteo adalah orang Italia, tempat catenaccio itu lahir dan dikembangkan. Italia seringkali juara di Eropa dan dunia karena sistem ini. Di Matteo yang pernah membela tim nasional Italia paham betul memperagakan sistem tersebut. Sayangnya, beberapa tahun belakangan ini, sistem ini mulai ditinggalkan. Termasuk oleh tim-tim Italia sendiri.

AC Milan tidak memilih cara ini untuk melumpuhkan Barcelona di babak perempat final. Mereka lebih memilih bermain terbuka. Akibatnya, mereka tersingkir dari El Barca, meski mampu menahan imbang di San Siro pada leg pertama.

Meski mulai ditinggalkan, Di Matteo coba memungutnya kembali dan memakai saat menghadapi Barca. Bagi dia ini adalah cara terbaik untuk melumpuhkan Barcelona yang unggul dalam penguasaan bola. Para pemain Chelsea membiarkan anak-anak El Barca bermain di depan garis 16, tetapi tidak boleh masuk ke kotak penalti. Begitu mereka berhasil menggiring bola ke kotak penalti maka yang terjadi adalah bencana. Itulah yang terjadi dengan dua gol Barcelona pada babak pertama.

Belajar dari situ, Chelsea memasang grendel. Apalagi setelah John Terry diusir keluar lapangan. Barca hanya bisa bermain di depan garis 16 Chelsea tetapi tidak boleh masuk ke kotak penalti, sambil melirik peluang melakukan serangan balik cepat yang mematikan. Dua gol Chelsea adalah buah dari penerapan sempurna catenacio.

Media-media Spanyol mengeritik strategi Di Matteo ini. Mereka menganggap Di Matteo antisepakbola. Tetapi Di Matteo didukung mantan pelatih Chelsea Jose Mourinho yang menerapkan sistem yang sama saat menangani Inter Milan dan melumpuhkan Azulgrana. Fernando Torres yang mencetak gol kedua Chelsea juga membela pelatih sementaranya itu. Ini cara yang kami pilih untuk melawan Barca. Klub lain boleh memilih cari lain, tetapi Chelsea memilih cara ini. Dan, terbukti sukses.

Tetapi itulah sepakbola. Yang dicari bukan melulu keindahan. Tetapi soal hasil akhir yaitu kemenangan. Dan itulah yang dipegang Di Matteo. Dia memilih cara apa pun termasuk dengan catenaccio untuk membunuh Barcelona. Di Matteo memang cukup pragmatis, seperti juga Mourinho yang membelanya.

Dengan kata lain, Catenaccio masih efektif untuk melumpuhkan tiki taka Spanyol. Pep Guardiola dan para pencinta total football masih harus putar otak untuk mencari cara bagaimana membongkar sistem grendel ini dan membendung serangan balik cepat seperti yang diperagakan Chelsea dan Inter Milan dua tahun silam. Inilah tantangan Barcelona dan tim-tim yang mengagung-agungkan permainan bola indah. Semoga musim depan, pencarian itu berhasil, sehingga tiki taka bisa balik membunuh catenaccio. (Alex Madji)