Home Inspirasi CEO HBI, dari Guru TK Hingga Jadi Pengusaha Sukses

CEO HBI, dari Guru TK Hingga Jadi Pengusaha Sukses

2356
8
SHARE
CEO PT Harapan Borneo Internasional atau HBI Honardy Boentario (Foto: Ciarciar.com)

Pengalaman getir semasa mahasiswa di Universitas Trisakti, Jakarta awal 1980-an begitu membekas di lubuk sanubari Honardy Boentario. Sebagai seorang mahasiswa perantauan dari Bangka, dia harus memutar otak untuk menambah uang kiriman orang tuanya. Dia bukan saja berhemat dana kiriman dari rumah, tetapi harus mencari uang untuk jajannya sendiri. Apalagi kondisi ayahnya di kampung sudah sakit-sakitan dan mulai kesulitan bekerja. Usaha yang tadinya berkembang sangat bagus pun perlahan-lahan bangkrut. Kiriman uang lalu makin seret

Maka kerja apa pun, asal halal, dia lakukan. Pernah mengajar pada sebuah taman kanak-kanak di kawasan Pluit, Jakarta Utara. “Saya naik bis dari Grogol ke Pluit dengan bayaran Rp 50,” ceritanya mengenang masa-masa sulit itu pada peluncuran buku biografinya berjudul “Ikhlas adalah Kekuatanku; Memberi Tanpa Cadangan” di Jakarta pada Jumat (8/11) malam lalu. Buku ini ditulis Emanuel Dapa Loka dan Celestino Reda yang diterbitkan Altheras Publishing.

Bukan hanya itu. Dia juga pernah memberi les privat untuk semua mata pelajaran bagi siswa SMP dan SMA. Dia keluar masuk rumah orang untuk membagikan ilmunya yang diimbali dengan bayaran cukup untuk menambah uang jajannya. Sekali datang dia mendapat bayaran Rp 12.000 per orang dan bisa mengajar dua sampai tiga anak. Dalam sebulan dia mengantongi Rp 100.000.

Cerita kelihaiannya mengajar menyebar dari mulut ke mulut murid-muridnya sehingga permintaan kepada Honardy untuk memberi les privat pun membeludak. Sampai-sampai, Honardy kewalahan memenuhi permintaan tersebut. Karena makin banyak, Honardy juga kesulitan waktu untuk datang dari rumah ke rumah. Untunglah ada muridnya yang menyediakan rumah sebagai “ruang belajar” bersama. Les privat ini betul-betul menjadi tambang uang Honardy dan bisa mengatasi kesusahan orang tuanya di kampung yang sedang jatuh dan terlilit utang banyak.

Meski mendapat uang tambahan yang lumayan, untuk lebih menghemat pengeluaran, anak ke-4 dari 5 bersaudara buah perkawinan Boen Khie Hon dan Jap Soie Fa itu pun harus berjalan kaki ke kampus Universitas Trisakti dari kosannya.

Terkait ini, ada kisah menarik yang tidak akan pernah dilupakan. “Pernah suatu kali, ketika saya sedang jalan kaki ke kampus untuk hemat biaya, ada genangan air di dekat kampus. Kemudian satu dua mobil lewat dan mencipratkan genangan air itu ke tubuh saya hingga basah kuyup. Di kampus, kemudian saya ganti kaus. Lalu saat itu saya berjanji kepada diri saya, bila nanti saya sukses dan punya mobil, saya tidak akan melakukan hal seperti ini,” tuturnya tercekat.

Pengalaman-pengalaman getir seperti itu tidak membuatnya patah arang. Sebaliknya, justru memacunya untuk semakin maju.

Honardy
CEO HBI Honardy Boentario (Foto: Ciarciar.com)

Makin Buruk
Ketika keadaan ekonomi keluarganya makin buruk, selain memberi les privat tadi, Honardy yang masih mahasiswa jurusan akuntansi semester tiga itu juga mulai melamar ke berbagai perusahaan. Dari sekian banyak surat lamaran yang dilempar, dia mendapat panggilan dari kantor akuntan Hanadi Raharja dan diterima bekerja di sana dengan gaji Rp 110.000. Tetapi di sini dia hanya bertahan sebentar karena mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih bagus di Pricewaterhouse atau yang sekarang terkenal dengan PricewaterhouseCooper (PWC). Di sini dia diupah Rp 260.000 per bulan, belum termasuk uang lembur dan taksi.

Masuk ke perusahaan ini, Honardy terpaksa harus berbohong. Saat diwawancarai seorang bule, dia mengaku sebagai mahasiswa semester 8. Padahal, dia baru duduk di semester tiga. Meski masih “kelas pengantar”, dia mendapat tugas untuk mengaudit perusahaan-perusahaan tambang besar seperti PT Timah dan PT Inco.

Seiring dengan berjalannya waktu, terutama setelah menjadi pegawai tetap di PWC, penghasilan Honardy semakin banyak dan bahkan bisa mengirimi uang ibunya di Bangka.

Meski sibuk dengan pekerjaan kantoran, les privat, dan mengajari teman-teman kuliahnya, Honardy tidak pernah melalaikan tugas utamanya sebagai mahasiswa. Dia tetap rajin kuliah. Saking ingin cepat selesai, dia pernah meminta kepada dosen pembimbingnya untuk mengambil 30 sks pada satu semester atau 6 sks lebih banyak dari batas maksimum yang seharusnya diambil seorang mahasiswa. Anehnya, sang dosen mengiyakan permintaan Honardy ini.

Ya, untuk urusan isi kepala, Honardy memang tergolong dahsyat. Dia pintar. Bayangkan, meski kuliah sambil bekerja, Honardy justru menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3,5 tahun atau lebih cepat enam bulan dari waktu normal untuk jenjang strata satu pada 1986.

Hon, sapaan akrabnya memang cerdas sejak sekolah dasar terutama untuk bidang-bidang eksakta; matematika, fisika, dan kimia. Hal itu muncul dalam testimoni peluncuran buku tersebut dari teman sekolahnya di SD dan SMP Mudi Mulia Bangka, serta SMA.

Setelah rampung kuliah, Honardy total bekerja hingga jabatan paling tinggi. Tetapi sering kali dia bertentangan dengan para pemegang saham. Sebagai pimpinan, dia malah lebih banyak memihak karyawan daripada pemegang saham. Akibatnya dia sering bentrok. Hal itu terjadi ketika pada 1987, dia menjadi Chief Financial Officer (CFO) di PT Multi Harapan Utama (MHU).

Lompatan besar terjadi dalam hidup Honardy pada 2002. Ketika itu para pemegang saham MHU asal Australia ingin angkat kaki karena konflik dengan mitra mereka di Indonesia. Sebagai apresiasi kepada Honardy yang sudah bekerja habis-habisan di MHU, para pengusaha Australia itu menyerahkan 16 persen saham mereka di PT Bina Mitra Sumber Artha (BMSA) yang memiliki ijin usaha tambang pada areal seluas 1.260 hektar lahan batubara di Kecamatan Sanga-Sanga, Kalimantan Timur. Di perusahaan tersebut, Honardy kemudian menjadi CEO.

Pada saat itu, Honardy bukan lagi pekerja, tetapi pengusaha. Dia naik kelas, dari kelas pekerja ke entrepreneur. Di tangannya, BMSA berkembang sangat pesat. Tetapi lima tahun berselang, dia melepas seluruh sahamnya di perusahaan tersebut dan memilih bergabung dengan rekannya yang sudah mendirikan PT Energy Cahaya Industriama (ECI) pada 2006 dan berhenti pada 2012.

Tetapi sejak 2008, Honardy juga sambil merintis pendirian PT Harapan Borneo Internasional (HBI). Ketika perusahaan ini stabil dan volume kerja mulai besar, Honardy meninggalkan ECI pada 2012. Kini dia menjadi CEO di HBI. Selain itu, dia juga masih mendirikan beberapa perusahaan lain seperti PT Palaran Jasa Utama yang menguasai 2.660 hektar lahan batubara di Samarinda dan 11.600 hektar di Kutai Timur.

Dia juga memiliki PT Mahakam Cool Terminal (MCT) yang bergerak dalam bidang pengelolaan penyimpanan sementara batubara atau menjadi terminal batubara. MCT membawahi dua terminal yang akan dijadikannya sebagai supermarket batubara.

Perusahaan lain yang dibidaninya adalah PT Hamparan Bumi Lestari yang secara khusus menangani pembibitan tanaman yang akan dipakai untuk melakukan reklamasi lahan bekas pertambangan. “Saya melakukan reklamasi bukan karena diwajibkan pemerintah, tapi karena dorongan dari dalam. Amat berdosalah saya jika meninggalkan alam yang hancur. Saya membayangkan, saya akan mewariskan alam yang sama kepada dua puteri saya. Masa mungkin saya tega mewariskan alam semacam itu,” ujarnya.

Ya, pria dua puteri kelahiran 8 November 50 tahun silam itu kini menjadi seorang yang sukses dan kaya raya. Tetapi kesuksesan itu diraihnya tidak mudah, melalui sebuah kerja keras, tanpa kenal lelah. Setelah sampai di puncak kesuksesan, dia pun tidak tinggal di menara gading. Dia turun, memperhatikan orang-orang di bawah dan sekitarnya. Dia berbagi apa yang diperolehnya kepada mereka. Dia membantu mereka dengan ikhlas, tanpa pretensi. Tanpa mengharapkan imbalan. Dia memberi dari kelebihannya secara tulus.

Sebab dia percaya, semakin banyak dia memberi, semakin banyak pula dia mendapat. Apalagi, apa yang diberikan kepadanya hanyalah titipan Yang Di Atas sehingga harus dibagikan kepada sesama. Dia juga akan makin bahagia bila mereka yang dibantunya bahagia dan lebih bahagia lagi kalau dengan bantuan itu, mereka bisa memberdaya diri dan kemudian ikut sukses seperti dia. (Alex Madji)