Home Inspirasi Cerita Sopir Go-car yang Menginspirasi

Cerita Sopir Go-car yang Menginspirasi

263
SHARE

Saya dapat sopir Go-car yang asyik dalam perjalanan ke Bandar Udara (Bandara) Soekarno Hatta Sabtu, 4 Agustus 2018 pagi. Namanya Budiyono. Ia tinggal tidak jauh dari kompleks tempat tinggal saya. Sama-sama di Pondok Kacang Barat, Tangerang Selatan.

Hari itu, saya hendak ke Solo, Jawa Tengah, untuk sebuah liputan. Kebiasaan saya, setiap kali naik taksi daring, suka bertanya tentang cara kerja dan pendapatan mereka. Begitu juga dengan Mas Budiyono. Saya merasa perlu menggali pengalaman mereka karena kami pernah mencoba menjalani usaha ini selama lima setengah bulan. Tetapi gagal. Tidak apa-apa. Namanya juga usaha. Pasti ada pengalaman seperti itu.

Namun, menyimak cerita Mas Budiyono, saya tertegun. Ceritanya enak didengar dan perlu. Tadinya, Mas Budiyono berprofesi sebagai mandor bangunan. Terakhir, dia menangani proyek di Depok, Jawa Barat. Namun lama-lama, bekerja sebagai mandor tidak menguntungkan. Lebih-lebih saat tidak pegang uang dan pada saat bersamaan kebutuhan anak sekolah besar. Ia lalu banting setir menjadi sopir taksi daring.

Dia baru menjalani profesi ini dua bulan terakhir. Sejak lebaran 2018. Ia berani kredit mobil Xenia matic selama empat tahun. Cicilan per bulannya Rp 3,6 juta. Dalam dua bulan itu, ia sudah menemukan cara kerja terbaik. “Selama satu bulan saya pelajar untuk menemukan model terbaik yang dijalani saat ini,” ceritanya.

Dari hasil “studi” selama dua bulan, ia memutuskan untuk bergerak di sekitar Tangerang Selatan saja. Khususnya, di daerah Bintaro dan sekitarnya. Ia amat sangat jarang ambil penumpang tujuan Jakarta karena waktunya habis di jalan. Macetnya parah. Belum lagi peraturan ganjil genap yang meluas saat ini. Juga tidak mau nongkrong di mall. Hanya buang-buang waktu, katanya.

Dia juga tidak mengambil semua orderan. Tarif-tarif kecil seperti Rp 9.000 atau yang belasan hingga Rp 20.000, jarang diambil. Kecuali searah. Misalnya, saat hendak pulang ke rumah ada orderan Rp 9.000 masuk, dia ambil. “Saya hanya mau mengambil orderan minimal Rp 30.000,” ucapnya lebih lanjut.

Dalam bekerja, ia memasang target. Baginya, hidup ini harus punya target. Pendapatan bersih per hari minimal Rp 300.000. Kalau target minimal tercapai, dia pulang. Jam berapa pun. Kalau jam 13.00 sudah memenuhi target minimal, langsung balik kanan. Tidak jarang ia bekerja seperti orang kantoran alias office hour. Namun, ia tetap tidak ingin memforsir tenaga untuk meraup rupiah lebih banyak. Alasannya, besok lusa, dia masih harus kerja. “Kadang jam 12 siang target minimal sudah tercapai. Kadang baru capai target jam 7-8 malam. Saya tidak mau ngoyo. Karena besok saya masih kerja. Jaga badan,” imbunya.

Dalam seminggu, ayah dua anak itu bekerja tujuh hari alias narik setiap hari. Dengan pendapatan minimal Rp 300.000 per hari, Budiyono meraih penghasilan Rp 9 juta per bulan. Bisa lebih. Kadang bisa mencapai Rp 10 juta. “Dengan ijazah SMA, belum tentu dapat penghasilan seperti itu,” ujarnya. Saya menimpali, “Jangankan lulusan SMA, sarjana yang sudah bekerja 10 tahun pun belum tentu mendapat penghasilan Rp 10 juta per bulan.”

Dari penghasilan tersebut, ia sisihkan 3,6 juta untuk mencicil mobil. Sisanya untuk kebutuhan rumah tangga; biaya sekolah anak perempuannya yang sedang duduk di bangku SMA dan anak laki-lakinya yang sudah berhenti kuliah serta keperluan rumah tangga lainnya. Malahan, ceritanya, kalau lagi untung, ia bisa dua kali mencicil mobil dalam sebulan. “Nanti kalau pas lagi tidak untung, saya tidak perlu pusing mikirin cicilan,” ceritanya lagi.

Dalam dua bulan menjalani usaha ini, Budiyono juga tidak mau nongkrong dengan sesama pengemudi taksi daring. Ia terus bergerak. Kalau tidak dapat order, ia pulang ke rumah. Dengan cara seperti itu, ia bisa menghemat tenaga. “Nanti kalau orderan masuk, baru keluar lagi,” jelasnya.

Dalam dua bulan, Budiyono yang hanya memakai satu aplikasi taksi daring yaitu Go-car, selalu mendapat penumpang ke Bandara Soekarno Hatta. Dengan tarif rata-rata di atas Rp 100.000, maka target minimal Rp 300.000 per hari bisa tercapai lebih cepat. Orderan-orderan lain cukup untuk membeli bahan bakar.

Terkait biaya servis mobil, Budiyono mengaku mengganti oli dua kali sebulan. Servis-servis lainnya, tunggu kalau mobilnya yang sudah menyentuh jarak tempuh 80.000 kilometer itu, dirasa tidak enak. “Saya harus merawat mobil dengan baik karena setelah empat tahun, mobil ini menjadi pesangon untuk saya,” ungkapnya.

Sampai turun di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, kami tidak berhenti bercerita. Tetakhir, dia menginformasikan, tetangga satu kompleks saya punya kontrakan di samping rumahnya. Saya tersedak. Orang lain sudah berlari ke mana-mana, saya masih berkutat sebagai orang gajian. Semoga cerita Mas Budiyono menyalakan lagi semangat yang pernah kami coba jalani, tetapi gagal. (Alex Madji)