Home Inspirasi Conclave dan Nyepi

Conclave dan Nyepi

569
0
SHARE

Conclave dan Nyepi adalah dua hal yang berbeda. Yang satu adalah proses pemilihan Paus, pemimpin umat Katolik sedunia di Vatikan. Sedangkan yang lain adalah upacara keagamaan atau hari raya umat Agama Hindu. Secara kebetulan, Conclave untuk memilih pengganti Paus Emeritus Benediktus XVI dimulai pada Selasa, 12 Maret 2013 ini yang jatuh persis pada hari raya Nyepi di Indonesia.

Berita media-media massa menyebutkan bahwa conclave dilakukan dalam sepi. Sebanyak 115 kardinal yang memiliki hak suara, hak memilih dan dipilih, diisolasi dari dunia. Mereka tidak berkomunikasi dengan dunia luar. Tidak baca atau mendengar berita melalui berbagai jenis media. Tidak ada penggunaan alat-alat komunikasi. Singkatnya, mereka menutup diri dan “dikucilkan” dari dunia.

Bukan hanya pribadi-pribadi itu. Tempat berlangsungnya conclave, Kapel Sistin, pun harus streril dari dunia luar. Perangkat-perangkat pelacak signal dipasang agar rahasia di dalam Kapel Sistin tidak bocor keluar. Hanya 115 kardinal dari 117 yang berada di Kapel Sistine. Dan hanya mereka yang tahu apa yang terjadi di sana. Pemilihan itu pun berlangsung dalam hening dan sepi dan merupakan bagian dari rangkaian doa.

Sepi di sini bukan pasif, tetapi aktif. Mereka menciptakan keheningan karena mereka tenggelam dalam doa. Mereka tertutup kepada dunia luar untuk membuka diri kepada Yang Ilahi. Membiarkan Roh Kudus berkarya dan menguasai diri mereka yang akan memilih pemimpin Gereja Katolik berikutnya.

Sementara Nyepi, menurut ensiklopedia online, Wikipedia, “Pada hari ini (Nyepi-Red) suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan “Catur Brata” Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu juga melaksanakan tapa, brata, yoga, dan semadhi.”

“Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci, dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa j├▒ana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.”

Saya tidak perlu menjelaskan lagi keterangan yang disodorkan Wikipedia itu. Saya hanya mengatakan, memang antara Nyepi, yang di Indonesia pusatnya di Bali, dan Conclave di Vatikan tidak ada hubungannya. Tetapi satu hal yang menonjol dari kedua hal tersebut yakni ada ruang yang sengaja diciptakan untuk hening dan berdiam diri. Masing-masing orang tertutup dan mengisolasi diri dengan dunia luar. Pada saat bersamaan mereka terbuka dan bercakap-cakap dengan Yang Ilahi. Atau dengan kata lain, keheningan menghantar orang pada penyatuan dengan Yang Ilahi. (Alex Madji)