Home Inspirasi Dan Gereja Pun Berbisnis

Dan Gereja Pun Berbisnis

460
0
SHARE


Gereja Inggris ternyata terlibat dalam bisnis. Gereja Katolik juga begitu. Mereka menanamkan saham di banyak perusahan. Tidak sedikit kongregasi yang memiliki saham di perusahan A sampai Z. Gereja Inggris, misalnya, ternyata memiliki saham di perusahan media milik Rupert Murdoch, News Corporation. Jumlahnya kecil. Hanya 0,005 persen dari total saham publik atau senilai 1,9 juta pound. Tetapi gara-gara skandal penyadapan yang dilakukan raksasa media itu di Inggris tahun lalu, Gereja Inggris atau Gereja Anglikan akhirnya menjual seluruh sahamnya.

Ini bukan yang pertama dilakukan Gereja Inggris. Pada 2010, Gereja Inggris pernah melakukan divestasi atas seluruh sahamnyanya di Vedanta Resources senilai 3,6 juta pound karena keterlibatan perusahan tersebut dalam pelanggaran hak asasi manusia di perusahan tambang India.

Kembali ke masalah News Corporation. Gereja Inggris menjual semua sahamnya karena khawatir kerajaan bisnis Rupert Murdoch tidak mau belajar dari skandal penyadapan tersebut. Sebab skandal tersebut memperlihatkan bisnis media Rupert Murdoch tidak etis. Sekretaris Komisioner Gereja Andre Brown, seperti diberitakan The Guardian, edisi 7 Agustus 2012, mengatakan, “Skandal penyadapan yang terjadi tahun lalu itu sudah menjadi perhatian serius di kalangan lembaga investasi Gereja tentang penyertaan saham kami di News Corporation.”

Keputusan untuk menjual saham itu tidak dilakukan serta merta, tetapi setelah dilakukan dialog terus menerus dengan pihak perusahan. Apalagi, pihak perusahan tidak melakukan perubahan, meskipun Church’s Ethical Investment Advesory Group (EIAG) sudah memberikan sejumlah rekomendasi. Sayangnya, rekomendasi itu tidak diterima. Hingga akhirnya, rekomendasi EIAG untuk menjual saham dilakukan.

Pihak gereja sudah melakukan dialog pada tingkat dewan dengan pihak News Corporation dan sudah mengungkapkan keprihatinan mereka soal skandal penyadapan yang terjadi tahun lalu tersebut. “Menjual saham adalah pilihan terakhir. Kami lebih menggunakan suara kami. Ini adalah sebuah pertanyaan pada dialog yang berkelanjutan,” kata Edward Mason dari EIAG.

Nah, berita ini sengaja saya tulis di blog ini untuk menunjukkan bahwa institusi gereja juga terjun dalam bisnis. Dia bukan melulu institusi yang hanya berurusan dengan Tuhan. Tetapi juga memikirkan keberlangsungan hidupnya yang butuh dana yang tidak sedikit. Caranya, yaitu tadi, dengan menyertakan saham di perusahan-perusahan publik. Lalu apakah ini salah? Saya tidak mau menilai. Silahkan Anda menilai sendiri. Menilai ini salah atau tidak bisa menjadi topik diskusi yang panjang.

Tetapi apa yang dilakukan Gereja Inggris ini menarik. Mereka berani menjual sahamnya ketika perusahan itu melenceng dari nilai-nilai yang dianut gereja. Artinya mereka tidak kompromi dengan nilai-nilai yang tidak benar. Nah, apakah gereja Katolik juga seperti itu? Berani menjual sahamnya di perusahan-perusahan yang nyata-nyata merusak lingkungan dan melanggar hak asasi manusia? Walauhalam. (Alex Madji)