Home Inspirasi Daniel Barenboim, Calon Peraih Nobel Perdamaian

Daniel Barenboim, Calon Peraih Nobel Perdamaian

579
0
SHARE



Kantor Berita AFP, Kamis 11 Agustus 2011 memberitakan bahwa Konduktor kelahiran Argentina, Daniel Barenboim dinominasi meraih penghargaan prestisius, Nobel Perdamaian atas jasanya menggunakan musik untuk mempromosikan perdamaian di Timur Tengah.

Pengumuman secara resminya akan dilakukan pada 17 Agustus pekan depan di Academia Argentina de Letras di Buenos Aires. Sebanyak 2.500 orang di Argentina sudah menyatakan dukungannya atas nominasi yang diberikan kepada pria berusia 69 tahun itu.

Mantan Presiden Urugay Julio Maria Sanguinetti dan penulis Juan Jose Sebreli juga masuk dalam daftar nama yang dinominasi untuk mendapat penghargaan paling prestisius di mua bumi ini tersebut.

Nah, mana tahu nanti Daniel Barenboim terpilih sebagai peraih Nobel Perdamaian tahun ini, yang biasanya diumumkan pada 10 Desember bertepatan dengan peringatan hari HAM sedunia, saya tuliskan untuk Anda sekelumit tentang Daniel Barenboim ini. Sekedar untuk mengetahui sedikit tentang tokoh ini.

Keturunan Yahudi

Daniel Barenboim lahir di Buenos Aires tahun 1942. Orang tuanya adalah keturuan Yahudi Rusia. Dia belajar piano sejak umur lima tahun pada ibunya, kemudian dilanjutkan belajar pada ayahnya.

Daniel memang anak jenius. Bayangkan! Pada Agustus 1950, ketika baru berumur 8 tahun, dia sudah menggelar konser resmi pertama di Buenos Aires. Musisi-musisi penting sungguh mempengaruhinya seperti Rubinstein dan Adolf Busch yang pernah konser di Argentina.

Keluarga Barenboim kemudian pindah ke Israel pada 1952. Dua tahun kemudian pada musim panas 1954, orang tuanya membawa anak jenius ini ke Salzburg, Austria, untuk mengambil kelas dirigen/konduktor pada Igor Markevich. Pada saat itu dia juga bertemu dengan Wilhelm Furtwangler, bermain bersamanya dan mengikuti konser-konser kondukter hebat dunia.

Furtwangler kemudian menulis sebuah surat yang mengungkapkan kehebatan bocah ini. Dia menuliskan, “Anak berumur 11 tahun bernama Barenboim adalah sebuah fenomena.” Kalimat ini kemudian membuka begitu banyak pintu bagi Daniel Barenboim dalam seluruh kariernya di kemudian hari.

Pada 1955, Daniel Barenboim muda belajar harmoni dan komposisi pada Nadia Boulanger di Paris, Prancis. Tetapi mulai 1952, Barenbom sudah melakukan debut sebagai pianis di Wina dan Roma. Lalu pada 1955 dia tampil di Paris, London (1956), dan New York pada 1957 bersama Leopold Stokowski dan Symphony of the Air. Sejak itu dia melakukan tur konser tahunan ke Amerika Serikat dan Eropa. Kemudian pada 1958, dia tur ke Australia dan segera setelah itu dia menjadi terkenal sebagai salah satu pianis hebat pada generasinya.

Pada saat bersamaan dia masuk dapur rekaman pertama pada 1954 yang kemudian disusul dengan berbagai rekaman penting untuk karya reportoir pianonya, termasuk sonata piano Mozart dan Beethoven dan concerto Mozart, Beethoven (bersama Otto Klempere), Brahms (bersama John Barbirolli) dan Bartok (bersama Pierre Boulez).

Kemudian Barenboim mulai lebih konsentrasi pada dunia konduktor. Dia mulai begitu dekat dengan English Chamber Orchestra sejak 1965 hingga berdekade-dekade kemudian. Dia lalu tampil secara rutin di Inggris baik sebagai konduktor maupun solo piano.

Pria 69 tahun ini juga berkeliling dunia mengadakan konser seperti ke Eropa, AS, Jepang, Australia dan Selandia Baru. Dia pernah mempimpin orkestra-orkestra terkenal di AS dan Eropa seperti The New Philharmonia Orchestra di London.

Sejak 1975-1989 Barenboim menjadi Direktur Musik Orchestre de Paris. Di sini dia lebih konsen pada musim-musik kontemporer termasuk kareya-karya Lutoslawski, Berio Boulez, Henze, Dutilleux, Takemitsu dan yang lainnya.

Lalu, bersama temannya, seorang intelektual Palestina Edward Said, Barenboim mengumpulkan pemuda-pemuda Arab, Israel dan Iran untuk membentuk sebuah orkestra pada 1999 dengan nama The West-Eastern Divan Orchestra. Orkestra ini keliling dunia untuk menggelar konser. Karya inilah yang membuat Barenboim dinominasi mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini.

“Musik tidak bisa mencegah konflik, tetapi musik memiliki kemampuan menarik minat orang dan menggeluti hal yang sama,” kata Barenhoim Selasa, 9 Agustus 2011 sebelum konser di Korea Selatan.

Raih Berbagai Penghargaan

Selain karya-karya di atas, masih sangat banyak karya monumental Barenboim selama karier musiknya. Dia pun sudah banyak mendapat penghargaan. Sekedar contoh saja: pada 2002, Daniel Barenboim dan Edward Said mendapatkan penghargaan paling prestisius yaitu Prince Asturias Concord Prize atas karya mereka mendirikan The West-Easter Divan Orchestra.

Barenboim juga dianugerahi sebagai warga negara kehormatan Spanyol. Pada tahun yang sama dia juga diberi penghargaan Tolerance Prize oleh Akademi Protestan Tutzing, Jerman atas upayanya menciptakan persaudaraan dan perdamaian Israel-Palestina. Dia juga memegang paspor Palestina.

Lalu pada 2007, dia mendapat Goethe Medal dari Goethe Institute dan mendapat gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang musik dari Universitas Oxford. Dia juga digelari Commandeur de la legion d’honneur oleh Presiden Prancis, ketika itu, Jacques Chirac dan mendapat penghargaan Preaemium Imperiale di Jepang.

Barenhoim juga dikenal sebagai penulis buku. Buku-bukunya antara lain A Life in Music dan Everyting is Connected. Dia juga ikut menulis buku Parallels and Paradoxes: Explorations in Music and Society. Buku ini adalah seri percakapan antara Daniel Barenboim dengan Edward Said. Dia juga ikut munulis buku Dialoghi su musica e teatro: Tristano e Isotta bersama Patrice Chereau. Buku ini mengisahkan panjang lebar hubungan antara direktur dan konduktor dalam produksi opera Tristan und Isolde.

Penghargaan Nobel Perdamaian, kalau dia yang memenangkan, akan menjadi mahkota atas seluruh penghargaan yang sudah dia terima selama ini. Dan, Barenhoim akan menambah daftar penerima Nobel Perdamaian dari Argentina. Hingga saat ini, sudah lima orang Argentina meraih Nobel Perdamaian. (Dari berbagai sumber/Alex Madji)