Dapat Jodoh Setelah Bertekun dalam Pengharapan

Dapat Jodoh Setelah Bertekun dalam Pengharapan

837
SHARE
Sumber Ilustrasi: http://www.infobacan.com

Sabtu, 21 Januari 2017 siang sahabat saya (amica mea), menikah. Usia persahabatan kami cukup lama, 15 tahun. Sejak 2002. Selama itu, kami tetap berkomunimasi, meski saya sudah lebih dulu berkeluarga. Sesekali kopi darat dengan ikut misa Jumat Pertama (Jumper) di kawasan Kuningan, lalu makan siang bareng.

Setiap kali bertemu, selalu ada topik utama yang dibicarakan. Tentang arah hidup. Yang saya cari sebenarnya apa? Itu selalu jadi pertanyaan pokoknya. Entah kenapa, saya menjadi semacam konsultan yang memberi arah untuk sahabat ini yang suka galau. Padahal, hidup saya sendiri belum benar dan masih jatuh bangun serta berupaya untuk terus mencari.

Kadang kami berbicara tentang jodoh. Sering kali saya bertanya tentang pasangan hidupnya, mengingat umur yang terus bertambah. Untuk masalah yang satu ini, ia bercerita secara jujur dan terbuka. Kami memang suka curhat sejak lama. Ia pernah menceritakan tentang hubungan dengan teman kuliahnya yang kemudian menikah dengan perempuan lain. Ia sangat sayang dengan lelaki ini dan sulit sekali melepasnya. Sampai-sampai, mereka tetap pergi berdua meski teman lelakinya sudah punya anak. Mereka suka bertemu malam-malam. Kadang saya tiba-tiba ditinggal demi temannya itu. Topik ini kami bahas selama bertahun-tahun.

Berulang-ulang saya anjurkan agar segera bangkit atau move on dan membiarkan cowok itu bahagia dengan istri pilihannya. Sebab, bila terus memelihara situasi tersebut, ia takkan bisa mendapat lelaki lain. Singkat cerita, akhirnya ia pelan-pelan move on dan meninggalkan sang mantan. Saya pun lega.

Tapi untuk mendapatkan laki-laki lain, bukan perkara mudah. Walaupun sahabat saya ini cantik. Secara ekonomi juga mapan. Punya rumah dan kendaraan. Dalam hati saya membatin, lelaki yang akan menikahinya cukup beruntung. Tapi, lelaki yang diharapkan tak kunjung datang juga dalam kurun waktu yang diharapkan. Sementara usia terus berlipat.

Kegalauan ini ikut membuat arah hidupnya kabur. Pertanyaan, apa yang saya cari selalu hadir dan kami diskusikan. Belum lagi urusan pekerjaan di kantor yang kadang bertentangan dengan hati nuraninya. Oh iya, teman saya ini cukup religius. Ia lektris di gereja. Rajin ikut misa Jumat Pertama. Pokoknya, taat beragama sejak dibabtis secara Katolik.

Suatu sore, ia bercerita tentang seorang teman kantornya, pria, yang suka memberi perhatian lebih untuknya. Lama-lama, temannya ini suka ajak dia pergi. Hal seperti ini cukup lama berjalan. Bertahun-tahun juga. Tapi, si cowok belum berani juga menembak. Padahal cowok ini sudah sangat dewasa dan sahabat saya sedang menunggu demi jelasnya status hubungan keduanya.

Meski demikian, ia selalu tidak bisa menolak bila diajak pergi berdua. Kata sahabat saya, keduanya nyambung. Cocok. Tapi, ya itu tadi. “Kok nggak ngomong-ngomong ya tem,” ujarnya suatu ketika. Oh iya, saya dipanggilnya item karena saya memang hitam.

Status yang tidak jelas itu membuatnya tetap galau. Kegalauan itu memuncak ketika ia memutuskan keluar dari pekerjaan. Ia ingin bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di dunia pendidikan. Harapannya, hati bisa tenang karena akan bekerja sesuai hati nuraninya. Ternyata tidak. Ia hanya bertahan dua minggu. Setelah itu, ia pusing sendiri karena harus mencari pekerjaan baru.

Ia sempat mencoba menjadi pekerja mandiri dengan menjual makanan tapi gagal sebelum mulai. Meskipun, ia sebenarnya punya toko tas tapi dijaga kedua orang tuanya. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya, ia mendapat pekerjaan baru di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Dekat kantor saya. Setiap kali bertemu, saya selalu bertanya tentang hubungannya dengan teman kantor lama yang suka jalan dengannya. “Masih sih. Dia mulai berani bawa saya ke keluarganya,” ceritanya beberapa bulan lalu.

Menjelang akhir 2016, kami makan bareng lagi di Ambasador. Kali ini saya kaget bukan kepalang. Tiba-tiba ia mengabarkan akan segera menikah dengan mantan teman kantornya itu. Saya ikut berbahagia. Ia sudah memilih jalan menuju kebahagiaan hidupnya yang ia cari-cari selama ini. Meskipun, usia keduanya sudah sangat-sangat matang. Bahkan terhitung terlambat menikah.

Saya mencoba merenung dan menemukan jawaban bahwa ini adalah buah dari ketekunannya dalam pengharapan. Setelah melewati jalan berliku, ia tidak putus asa. Walaupun, kadang muncul di tengah jalan. Keteguhan hatinya meniti jalan itu mengantarnya ke puncak kebahagian yaitu pernikahan, Sabtu 21 Januari 2017.

Sebagai sahabat, saya hanya mengingatkan bahwa pernikahan ini bukanlah akhir dari pencarian, tapi awal dari sebuah pencarian baru. Tapi kali ini dilakukan bersama suaminya. Semoga pencarian bersama ini menemukan kebahagiaan sejati yang selalu didambakan selama ini. Akhirnya, saya hanya menyampaikan selamat berbahagia amica mea. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY