Home Umum Demokrat Jilat Ludah Sendiri pada Drama Penentuan Cawapres

Demokrat Jilat Ludah Sendiri pada Drama Penentuan Cawapres

305
0
SHARE
Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin (Sumber Foto: Kompas.com)

Peta pertarungan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 sudah jelas. Pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma’ruf Amin akan melawan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Namun, pemilihan pasangan dari Jokowi dan Prabowo bagaikan sebuah drama yang penuh kejutan. Saya mengamati, seluruh drama ini berlangsung tiga babak plus satu babak tambahan Partai Demokrat yang pada akhirnya harus menjilat ludah sendiri.

Drama ini dibuka dengan adegan Rabu, 8 Agustus 2018 tengah malam. Tanpa ada angin dan hujan, politisi Partai Demokrat Andi Arief tiba-tiba menghebohkan jagat dunia maya, twitterland. Ia langsung menyerang Prabowo Subianto dengan sebutan Jenderal Kardus. Alasannya, Prabowo ingkar janji. Ia lebih memilih Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden (cawapres) dibanding Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang adalah putra mahkota Partai Demokrat. Andi Arief juga menuduh Sandiaga sudah membayar Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masing-masing Rp 500 miliar.

Gelar” Jenderal Kardus ini tentu saja tidak diterima politisi-politisi Partai Gerindra. Mereka membalas. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut sebagai Jenderal Baper. Yang lain menyebut SBY sebagai Jenderal Kardus sesungguhnya. Perang kedua jenderal, yang juga teman satu angkatan di AKABRI, diikuti rentetan pertemuan sepanjang Kamis, 9 Agustus 2018 sejak pagi hingga tengah malam.

Babak kedua yang berlangsung lebih mengejutkan terjadi di kubu Jokowi pada Kamis, 9 Agustus 2018 sore. Sejak pagi hingga detik-detik menjelang pengumuman, nama Mahfud MD sudah diyakini publik sebagai cawapres Jokowi. Para analis politik di sejumlah televisi sudah meyakini hal itu.

Tanda-tandanya sangat jelas. Ketika Jokowi bersama Ketua Umum dan para Sektretaris Jenderal partai pendukung berkumpul di Pelataran Menteng, tidak jauh dari situ, Mohamad Mahfud MD menunggu panggilan bersama tim relawan. Ia juga sudah mengenakan kemeja putih, sepadan dengan yang dipakai Jokowi di Pelataran Menteng.

Sebuah televisi menayangkan secara langsung suasana di Pelataran Menteng dan tempat tunggu Mahfud MD. Beberapa kali disorot, Mahfud MD melakukan percakapan telepon. Entah dengan siapa. Tak lama berselang, ia tiba-tiba menghilang. Drama ini disusul dengan pengumuman Jokowi. Ternyata, ia memilih KH Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Bukan Mahfud MD. Pilihan terhadap Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu sungguh mengejutkan. Ia tidak terduga. Meskipun, ia masuk dalam daftar 10 nama cawapres yang ada dalam saku Jokowi dan termasuk yang berinisial “M”.

Pilihan Jokowi ini juga mengecewakan sejumlah pihak, termasuk kelompok milenial. Kekecewaan terungkap dalam percakapan berbagai grup whattsapp (WA). Mereka sangat mengharapkan tokoh yang lebih muda dari Ma’ruf Amin untuk mendampingi Jokowi. Mahfud MD adalah pilihan paling tepat. Namun, Jokowi sudah memilih. Pasangan itu sudah dideklarasikan di Gedung Joeang sebelum dilanjutkan dengan pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat, 10 Agustus 2018 pagi WIB.

Babak ketiga yang berlangsung lebih panjang dan cenderung membosankan terjadi di rumah Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Itu terjadi karena masih adanya tarik menarik soal calon pendamping Prabowo di antara partai pendukung. Sejak Rabu, 8 Agustus 2018 malam, nama Sandiaga Uno sudah beredar yang menyebabkan drama babak pertama terjadi.

Sementara itu, PKS tetap ngotot supaya Ketua Dewan Syuro mereka, Salim Segaf Al Jufri jadi wapres. Di pihak lain, PAN masih menggelar Rapimnas yang baru berakhir Kamis, 9 Agustus 2018 malam. Hasilnya, mereka mendukung Prabowo sebagai capres dan Zulkifli Hasan serta Abdul Somad sebagai cawapres. Tarik menarik kepentingan ini membuat jadwal pengumuman pasangan Prabowo molor dari pukul 22.00 WIB ke 23.30 WIB. Seperti diduga, tidak ada kejutan berarti seperti yang dilakukan Jokowi. Ia mengumumkan Sandiago Uno sebagai pendampingnya. Pasangan ini mendaftar ke KPU pada Jumat, 10 Agustus 2018, setelah solat Jumat di Masjid Sunda Kelapa.

Seluruh drama ini akhirnya ditutup oleh aksi Partai Demokrat yang pada akhirnya tetap memilih mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Ini adalah pilihan terakhir. Tidak ada yang lain. Sebab rapat Dewan Pembina baru dilakukan di kediaman SBY, Jumat, 10 Agustus 2018 pagi. Saat bersamaan, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin mendaftar ke KPU. Artinya, peluang merapat ke kubu Jokowi tertutup rapat.

Tidak ada pilihan lain bagi Demokrat, selain harus ke kubu Prabowo. Sebab, abstain pada Pilpres 2019 membuat mereka akan didiskualifikasi dan tidak bisa mengajukan calon pada pilpres 2024. Pilihan ke Prabowo memang pahit. Tetapi harus ditelan. Dan, demi “keselamatan politik”, Partai Demokrat rela menelan ludah sendiri. Sejumlah kadernya sudah menyerang Prabowo dengan sebutan Jenderal Kardus. Sekarang mereka berada dalam “kardus” yang sama.

Akhirnya, selamat berjuang untuk Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Semoga kalian sukses menjual gagasan, program kerja, dan rekam jejak. Bukan memproduksi berita hoax, tidak menjual propaganda yang memecah belah dan mencabik-cabik persatuan bangsa. Seperti kata Jokowi, jadikanlah pilpres 2019 sebagai pesta yang menggembirakan semua rakyat Indonesia. (Alex Madji)