Home Inspirasi Dulu Hanya Kapten, Sekarang Presiden Brasil

Dulu Hanya Kapten, Sekarang Presiden Brasil

128
0
SHARE
Jair Bolsonaro (Sumber Foto: The Guardian)

Brasil punya presiden baru. Jail Messias Bolsonaro, namanya. Ia terpilih pada pemilu putaran kedua Brasil, Minggu 28 Oktober 2018 dengan raihan 55,1% suara atau 57,7 juta pemilih. Mengalahkan pesaingnya, Fernando Haddad dari Partai Buruh, yang mengumpulkan 47 juta suara atau 44,9%. Bolsonaro baru akan dilantik pada Januari 2019 sekaligus mengakhiri dominasi Partai Buruh yang memimpin Brasil dalam tiga dekade terakhir.

Bolsonaro sendiri berasal dari kelompok sayap kanan, Partai Sosial Liberal. Keterpilihannya sekaligus memperkuat bangkitnya kelompok sayap kanan dalam kancah politik dunia. Ia dinilai sealiran dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte.

Keterpilihan Bolsonaro segera membangkitkan harapan baru untuk rakyat Brasil. Yaitu, mengakhiri praktik korupsi yang begitu merajalela selama pemerintahan Partai Buruh. Sejumlah pentolan partai itu, termasuk mantan Presiden Inacio Lula da Silva yang berkuasa 2003-2011 sudah dijebeloskan ke penjara karena kasus korupsi. Penerusnya, Dilma Roussef yang berkuasa sejak 2011 diturunkan dari tahta kepresiden pada 2016 juga karena dugaan korupsi. Belum lagi sejumlah menteri kabinet sejak Lula dan Dilma berkuasa. Banyak yang terjerat kasus korupsi.

Lula sendiri tetap menjadi tokoh paling populer di Brasil. Kalau saja, ia bisa maju lagi pada pilpres 2018, bisa jadi akan terpilih kembali. Sayang, Partai Buruh urung mengajukannya karena harus menjalani masa tahanan selama 12 tahun. Terpaksa mengajukan mantan Walikota Sao Paulo periode 2013-2017 yang juga mantan akademisi, Fernando Haddad. Sayang, ia gagal memaksimalkan popularitas Lula.

Perang melawan korupsi menjadi salah satu jualan pokok dan kunci kemenangan Bolsonaro selama kampanye Pilpres Brasil. Isu itu terbukti jitu. Ditambah dengan nada bicara dan sikap yang tegas, seperti para pemimpin sayap kanan dunia lainnya, ia akhirnya terpilih untuk memimpin Brasil.

Tetapi pada saat bersamaan, ada juga kekhawatiran yang melanda rakyat Brasil. Yakni, hidup laginya kediktatoran. Mengapa? Jejak Bolsonaro cukup beralasan munculnya kekhawatiran tersebut. Ia adalah pensiunan militer, dengan pangkat terakhir kapten. Ia mantan anggota pasukan artileri dan berkarier di militer Brasil selama 17 tahun sejak 1971 sampai 1988.

Artinya, selama Brasil dipimpin rejim militer 1964-1985, pria kelahiran Sao Paulo 21 Maret 1955 itu adalah bagian dari pemerintahan diktator itu sendiri. Ketika itu, pria 63 tahun itu ikut mendukung pembunuhan lawan-lawan politik penguasa. Bahkan, ia menjadi pejabat militer tingkat bawah di Kota Sao Paulo saat Dilma Roussef, yang dimakzulkannya pada 2016, dipenjara dan disiksa oleh pemerintahan diktator.

Setelah pensiun dari militer pada 1988, setahun berselang, ia langsung terjun ke politik. Ia terkenal gonta ganti partai politik, sebelum akhirnya berlabuh di Partai Sosial Liberal yang mengantarnya ke kursi presiden. Total, ia sudah berada di dunia politik selama 30 tahun. Meski demikian, menjelang Pilpres 2018, ia menempatkan diri sebagai “orang luaran”.

Pendukung Jair Bolsonaro (Sumber Foto: The Guardian)

Sejak terjun ke politik, ia sering membuat pernyataan kontroversial. Salah satunya, yang kemudian memunculkan kekhawatiran rakyat Brasil setelah terpilih sebagai presiden, adalah pernyataannya pada 1992 dan 1999. “Saya adalah pengagum kediktatoran. Kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah-masalah nasional dengan demokrasi yang tidak bertanggung jawab seperti ini,” katanya pada 1992

Pada Mei 1999 ia juga membuat pernyataan lebih menyeramkan lagi. “Anda tidak akan pernah mengubah apa pun di negara ini lewat pemilihan. Sama sekali tidak. Perubahan baru akan terjadi bila dimulai perang sipil dan kita melakukan apa yang tidak dikerjakan militer. Bunuh sekitar 30.000 orang tidak masalah. Bila beberapa orang yang tidak bersalah mati, juga baik-baik saja.”

Pernyataan-pernyataan inilah yang mengkhawatirkan bahwa Brasil akan mengalami kemunduran dari sebuah negara demokrasi. Tapi namanya juga politik. Bolsonaro cepat menangkap kekhawatiran rakyat Brasil, khususnya para pendukungnya. Dalam pidato kemenangan, ia langsung sejak awal memastikan bahwa ia akan menjadi pembela demokrasi dan mematuhi konstitusi Brasil.

Selain kekhawatiran tersebut, jalan Bolsonaro dalam memimpin Brasil bakal tidak mudah. Sebab, partai pendukungnya hanya meraih 52 kursi parlemen pada pemilu legislatif bulan ini. Sementara, Partai Buruh masih menjadi partai yang menguasai parlemen dengan 56 kursi. Karena itu, upayanya mendapat dukungan dari parlemen dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya tidak bakal mudah.

Kepiawaian sang pensiunan kapten akan sangat dinanti. Janji akan tetap membela demokrasi tentu saja yang paling ditunggu rakyat Brasil. Lebih dari itu, kemampuannya melobi parlemen Brasil juga dinanti agar janji-janji kampanye, terutama pemberantasan korupsi bisa terwujud selama memimpin Brasil empat tahun ke depan. (Berbagai Sumber/Alex Madji)