Home Umum Flores, Seharum Wangi Kopi Arabika dan Robusta

Flores, Seharum Wangi Kopi Arabika dan Robusta

1534
0
SHARE

Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan hanya punya Komodo. Juga bukan cuma memiliki danau tiga warna Kelimutu. Atau bukan hanya terdapat kampung tradisional seperti Wae Rebo di Manggarai atau Bena di Kabupaten Ngada. Flores juga punya kopi. Ya, kopi yang keenakannya hanya bisa dicecap dengan lidah hingga tetesan terakhir. Karena itu, kalau menjelajah Flores jangan cuma nikmati keindahan alamnya. Rasakan juga keenakan kopinya.

Kenikmatan kopi Flores ini dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dalam sebuah acara bertajuk “Festival Kopi Flores” yang berlangsung 15-17 September 2016. Judulnya begitu. Tapi yang ditampilkan hanya Kopi Manggarai yang terdiri dari tiga kabupaten yaitu Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur serta Ngada.

Maklum, kopi menjadi komoditi andalan untuk petani di empat kabupaten ini dan sedikit di Kabupaten Ende. Paling banyak, kopi terdapat di Manggarai Raya. Para petani yang memiliki kebun kopi bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Saya salah satunya. SMP-SMA diongkosi dari hasil kopi. Sedangkan kuliah dibiayai Ordo Fratrum Minorum (OFM). Terima kasih ordo.

Meski demikian, yang terkenal hingga ke seluruh dunia adalah Kopi Bajawa. Produk dari kabupaten ini lebih banyak diekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Karena itu, selama ini, kopi Flores identik dengan kopi Bajawa. Jenis kopi yang ditanam di sana adalah Arabika. Tapi sesungguhnya, kopi Flores lebih kaya dari kopi Bajawa.

Pada festival Kopi Flores di BBJ, beberapa merek kopi dipamerkan. Ada kopi Flores Bajawa, Kopi Colol, kopi La Bajo, dan beberapa merek lain lagi. Mereka memajang mulai dari biji kopi mentah, biji kopi yang sudah disangrai, hingga bubuk kopi yang sudah dikemas secara cantik. Pengunjung juga boleh menikmati kopi secara gratis baik jenis kopi Arabika, robusta, maupun campuran Arabika dan Robusta.

Kopi Flores Bajawa seluruhnya Arabika. Sedangkan di tiga kabupaten Manggarai, paling banyak adalah jenis kopi robusta. Tapi ada beberapa wilayah yang memiliki jenis kopi Arabika, seperti Colol di Manggarai Timur. Karena itu pula, Colol terkenal sebagai sentra kopi terbesar di Manggarai Raya. Makanya, mereka menciptakan merek sendiri, “Kopi Colol”. Dan, kualitas Kopi Colol ini sudah teruji. Kopi Colol berhasil menjuarai festival kopi di Jawa Timur beberapa waktu lalu dan potensial menjadi pesaing kopi Flores Bajawa di pentas nasional dan internasional.

Sedangkan kopi La Bajo yang diproduksi PT Aneka, berasal dari seluruh Manggarai, juga Ngada. Maklum, sebelum memproduksi kopi bubuk ini, mereka adalah pemain/pedagang kopi sejak lama. Toko Aneka di Ruteng, sudah lama terkenal sebagai pembeli kopi dari para petani. Seluruh kopi dari Manggarai, pasti muaranya ke sini.

Sebagai pemain kopi utama di Manggarai, mereka tidak akan pernah kehabisan stok untuk memproduksi kopi La Bajo sepanjang tahun. Wemmi Sutanto, pemilik La Bajo, mengaku selain tetap mengirim ke Surabaya seperti yang dilakukan selama bertahun-tahun, mereka memulai dengan produksi kopi bubuk secara mandiri.

Malahan, dalam sebulan, mereka bisa memproduksi satu ton. Tentu saja ini masih kecil untuk pasar nasional. Namun dengan ukuran pasar yang masih terbatas, angka ini sudah sangat lumayan. Bila pasar makin luas, produksi akan terus ditingkatkan.

Begitu juga dengan Kopi Colol yang masih menjadi usaha orang per orang. Skala mereka lebih kecil dari La Bajo. Meskipun, untuk produksi dalam jumlah besar, para petani kopi di Colol dan sekitarnya sudah sangat siap. Hanya saja, yang perlu dibangun sekarang adalah pasar yang luas. Pasar yang besar akan diikuti oleh produksi yang besar pula. Karena itu, acara festival kopi Flores yang diselenggarakan Kompas di Jakarta ini dan festival-festival kopi selanjutnya sangat membantu mereka memperluas pasar bagi berbagai produk kopi dari Flores.

Wemmi sangat yakin, kopi dari Flores akan bisa dengan mudah diterima pasar. Pasalnya, kopi dari kawasan ini murni. Tak ada campuran dengan bahan-bahan lain seperti produk-produk kopi yang sudah ada di super market. Apalagi kualitas dan rasa kopi dari Flores sangat khas dan enak. Ia menyebut, untuk Arabika, wanginya lebih harum dan tidak terlampau hitam. Sementara robusta lebih pahit dan hitam. Jadi, tinggal pilih sesuai selera.

Joseph Janu dari Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis Kopi Manggarai menambahkan, tekstur arabika lebih lembut dibanding robusta. Meski demikian, kualitas rasa kopi, baik arabika maupun robusta, terutama dari wilayah Colol sama. Sebab seluruh proses pembuatannya dilakukan dengan standar yang sama. Nah, hal-hal seperti ini menjadi sensasi tersendiri untuk kopi-kopi asal Flores.

Warung Kopi

Kopi Arabika Flores (Foto: Ciarciar.com)
Kopi Arabika Flores (Foto: Ciarciar.com)

Tapi, kopi Flores juga perlu dinikmati oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mengunjungi pulau ini. Karena itu, idealnya, warung-warung kopi di Flores, minimal mulai dari Labuan Bajo, Ruteng, Borong, Bajawa, dan Ende, bahkan Maumere hingga Larantuka bertebaran di mana-mana.

Sudah saatnya kopi dijual juga sebagai bagian dari pariwisata yang sedang gencar dipromosikan di wilayah ini. Setiap turis yang datang ke Flores, baik lokal maupun mancanegara, setelah melihat pemandangan, mereka juga duduk di warung-warung kopi menikmati enaknya kopi Flores di tengah dinginnya udara pegunungan di Ruteng atau Bajawa.

Sayang sekali pertumbuhan warung-warung kopi di Flores tidak sesubur di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Di kota paling barat Indonesia itu, sepulang kantor, orang tidak langsung kembali ke rumah. Ada semacam kewajiban untuk nongkrong di warung kopi. Karena itu, bila Anda ke Banda Aceh, jangan heran kalau setiap warung kopi yang berdempetan, semua penuh. Mereka bisa duduk di situ berjam-jam.

Di Flores, warung kopi sebagai sebuah tempat nongkrong yang asyik belum menjamur. Tapi sudah mulai muncul. Di Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai, misalnya, sudah ada warung kopi. Kopi Mane namanya. Warung yang sama juga terdapat di Labuan Bajo, Ibukota Manggarai Barat.

Padahal, minum kopi sudah menjadi budaya di Flores. Hidangan pertama yang disuguhkan untuk setiap tamu di Flores adalah kopi. Sering kali disajikan dengan ubi, singkong, atau kalau pas musimnya dengan jagung rebus. Untuk kalangan elite (biasanya pegawai), dengan kue.

Munculnya budaya nongkrong di warung kopi akan turut menggerakkan roda perekonomian di kawasan ini. Harapannya, bukan hanya mereka yang memiliki modal besar yang mendapat nikmat harumnya kopi Flores, tapi juga mereka yang bermodal cekak pun bisa merasakan keuntungannya.

Untuk itu, pemerintah jangan hanya tidur. Selama berpuluh-puluh tahun, budi daya kopi dilakukan secara tradisional. Tanpa ada pendampingan. Petani menanam, memelihara, dan mengolah hasil berdasarkan ilmu yang diwariskan orang tuanya secara turun temurun. Pemerintah tidak memberi nilai tambah apa pun.

Saya masih ingat, pada era 1980-an hingga 1990-an, selesai panen, biji-biji kopi dijual kepada tengkulak yang datang dari kampung ke kampung dengan membawa mug. Harga dan takaran tiap tengkulak pun bervariasi. Yang umum adalah satu kilogram disetarakan dengan lima mug. Tak jarang, ada tengkulak yang curang. Mug-nya diperbesar dengan meruncingkan bagian pantatnya.

Kadang-kadang, pada musim panen kopi, petani tidak mendapat apa-apa karena terjerat sistem ijon. Petani sudah menerima uang dari tengkulak di muka. Biasanya pada bulan-bulan sulit, Oktober sampai April. Selama itu pula, tidak ada intervensi pemerintah untuk memerangi para tengkulak.

Beberapa tahun belakangan, para petani kopi mulai mengerti. Mereka langsung menjual hasil kopi mereka kepada pemain besar di Ruteng, termasuk Toko Aneka. Takarannya sudah menggunakan timbangan. Meskipun, kadang para petani kopi dicurangi. Tapi minimal sudah ada langkah maju.

Ke depan, dengan meningkatnya minat akan kopi Flores, pemerintah perlu bangun. Jangan tidur terus. Pendampingan kepada petani kopi digencarkan mulai dari menanam, pemeliharaan, pengolahan hasil, hingga pemasaran. Jangan andalkan lembaga swadaya masyarakat. Bila pemerintah melakukan hal seperti ini dari dulu, kopi Flores mungkin sudah jauh lebih terkenal dan mendunia seperti yang terjadi dengan kopi Bajawa. Flores pun tidak hanya terkenal karena Komodo dan Kelimuta, tapi juga karena harum kopinya. (Alex Madji)