Gertak Sambal Amien Rais

Gertak Sambal Amien Rais

323
SHARE
Sumber Foto: Kompas.com

Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais bagai tersambar petir di siang bolong pada Kamis 1 Juni 2017. Namanya disebut dalam tuntutan jaksa penuntut umum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) saat membaca tuntutan untuk mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam kasus korupsi pengadaan alat kesehatan (Alkes). Amien Rais disebut-sebut menerima aliran dana korupsi alkes sebesar Rp 600 juta yang ditransfer sebanyak enam kali masing-masing Rp 100 juta setiap kali transfer 10 tahun silam.

Pada hari itu juga, Amien langsung membuat pernyataan dari Yogyakarta. Mantan Ketua MPR itu mengatakan, penyebutan namanya oleh jaksa menjadi semacam berkah tersembunyi (blessing indisgues). Ia berjanji akan menjelaskan secara rinci dugaan aliran dana tersebut dalam jumpa pers di rumahnya di Jakarta, Jumat, 2 Juni 2017. Ia juga berjanji berjumpa Ketua KPK, dan bila perlu para pimpinan KPK, untuk menjelaskan kasus tersebut sekaligus akan melapor dua tokoh besar yang terlibat korupsi.

Janji-janji itu benar dilakukan Amien. Ia menggelar jumpa pers, Jumat, 2 Juni 2017 pagi di kediamannya di Jalan Gandaria, Jakarta Selatan. Dalam keterangan pers tanpa tanya jawab dengan wartawan itu ia mengaku mendapat aliran dana dari mantan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir. Dana itu dimaksud untuk dana operasional kegiatan keagamaan dan sosial. Bantuan seperti itu sudah dilakukan Soetrisno jauh sebelum ia mendirikan PAN pada 1998.

Karena hal itu terjadi 10 tahun lalu, saya me-refresh memori saya. Pada waktu itu, Soetrisno Bachir mengatakan akan memberi bantuan untuk tugas operasional saya, untuk semua kegiatan sehingga tidak membebani pihak lain kalau saya pergi ke mana pun, travel, aksi, itu sudah kita sendiri yang bayar,” kata Amien dalam jumpa pers tersebut seperti dituliskan Kompas.com.

Amien mengaku tidak tahu sama sekali kalau dana itu berasal dari hasil korupsi dana alkes Siti Fadilah Supari yang menjadi menteri karena disodorkan Muhammadiyah. Pada kesempatan terpisah, Soetrisno Bachir membenarkan dana yang dialirkan ke rekening Amien Rais berasal darinya. Namun, sumber dana itu berasal dari dirinya sendiri. Bukan hasil korupsi.

Hanya satu janji Amien yang tidak ditepati. Ia batal datang ke kantor KPK pada Senin, 5 Juni 2017. Ia hanya mengutus wakilnya, antara lain politisi PAN Drajad Wibowo dan putranya sendiri yang juga anggota DPR Hanafi Rais dan beberapa orang lain lagi. Kompas.com, mengutip alumni aktivis 212 Ansfri ID Sambo menulis, Amien Rais batal datang ke KPK karena pimpinan lembaga anti rasuah itu tidak mau menjumpainya.

Menjelaskan

Kedatangan utusan Amien Rais ke KPK itu juga ternyata hanya menjelaskan duduk perkara versi mereka terkait dugaan aliran dana korupsi alkes sebagaimana disebut jaksa penuntut umum.

Hingga saat ini, Amien Rais juga tidak jadi menyampaikan ke publik soal dua nama besar yang, menurutnya, terlibat kasus korupsi. Padahal, saya sudah tidak sabar menunggu kira-kira siapa orang-orang besar yang dimaksudnya. Apalagi, ia mengklaim memiliki data lengkap terkait keterlibatan kedua orang tersebut.

Meskipun, sejak awal, saya mengira, ini hanya gertak sambal. Bahkan, dalam derajat tertentu, ini bentuk sebuah kepanikan. Untung juga ia tidak langsung menyebut nama kedua orang yang dimaksudnya saat itu secara terbuka. Kalau tidak, ia bakal menghadapi kasus hukum lainnya dengan tuduhan pencemaran nama baik oleh orang-orang besar yang dimaksud.

Penyebutan nama Amien Rais di tuntutan jaksa Tipikor juga membuat para politisi PAN sedikit panik. Salah satu buktinya, pernyataan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang menyebutkan bahwa penyebutan nama besannya dalam tuntutan untuk Siti Fadilah Supari karena ada orderan sebagaimana disebutkan dalam berita ini.

Berita tersebut ditanggapi kalem Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah. Menurutnya, seperti diberitakan Detik.com, Senin 5 Juni 2017, KPK memiliki bukti rekening koran terkait transfer dana ke rekening Amien Rais. Pernyataan Febri yang juga mantan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) itu hanyalah satu bukti untuk memperkuat fakta persidangan dalam kasus Siti Fadilah Supari.

Kasus Amien Rais ini belum akan segera digarap KPK. Masih jauh. Mereka baru akan menindaklanjutinya setelah ada putusan terhadap Siti Fadilah Supari. Karena itu, sebaiknya Amien Rais, para politisi PAN, dan pendukung Amien Rais tidak perlu melakukan aksi jalanan dan kegaduhan di media. Lebih baik dan arif kalau mempersiapkan bukti-bukti yang lebih valid untuk membantah dugaan KPK. Semua itu akan disampaikan bila suatu waktu nanti Amien Rais diperiksa KPK, sebelum data-data akan diuji dalam persidangan di pengadilan Tipikor.

Mudah-mudahan saja kasus ini bisa sampai di pengadilan. Sebab hanya pengadilan yang bisa membuktikan tuduhan jaksa dan klaim-klaim yang dipaparkan Amien Rais dalam beberapa hari terakhir. Kita tunggu saja ujung dari kasus ini dengan tenang. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY