Home Buku Hebat Karena Memberi Diri

Hebat Karena Memberi Diri

1025
0
SHARE

Orang hebat tidak selalu berarti mereka yang tampil memukau di depan umum. Juga bukan melulu mereka yang dipuji-puji dan dielu-elukan banyak orang. Orang-orang yang memberikan hidupnya bagi orang lain, tetapi justru jauh dari publikasi, jauh dari puja-puji publik juga masuk kategori sebagai orang hebat.

Orang-orang seperti itulah yang diangkat Emanuel Dapa Loka dalam bukunya, “Orang-orang Hebat; dari Mata Kaki ke Mata Hati”. Buku ini adalah kumpulan wawancara penulis terhadap 20 tokoh yang dimuat di beberapa media, terutama “The Jakarta Post”. Beberapa tulisan pernah diterbitkan “Majalah Hidup” dan “Pos Kupang”.

Dari ke-20 tokoh yang diangkat, mereka diikat oleh sebuah benang merah, yaitu bahwa mereka memberikan hidupnya untuk orang lain, tanpa pernah memikirkan akan menjadi terkenal dan mendapat penghargaan seperti kebanyakan orang di republik ini. Inilah yang membuat mereka menjadi hebat, sebagaimana ditulis R Priyono dalam kata pengantar buku itu.  “Mereka menjadi hebat karena pengabdian yang total bagi rakyat, bangsa dan negara Indonesia tanpa harus meminta perhatian atau penghargaan khusus,” tulis Priyono.

Cerita tentang sang penggali sumur di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) Andre Graff (hal 58-65) misalnya, adalah seorang warga negara Prancis, pengusaha travel dan mantan pilot balon panas. Dia meninggalkan kenyamanan hidup di negaranya dan memilih menetap di Sumba karena prihatin dengan kehidupan warga yang dijumpainya pertama kali saat datang sebagai turis.

Dia terenyuh atas kesulitan warga setempat untuk mendapatkan air bersih. Maka dia datang lagi ke daerah yang terkenal dengan kuda sandel wood-nya itu dan belajar bersama warga setempat untuk menggali sumur. Kerja kerasnya kemudian bisa dinikmati warga dengan memperoleh air bersih. Upayanya ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mengatasi kesulitannya mendapatkan air bersih. Tetapi, pria lajang ini tidak pernah menepuk dada bahwa dialah “juru selamat” orang Sumba. Dia tidak mengumbar popularitas.

Cerita serupa juga terlukis dalam karya Romo Cassut atau yang bernama lengkap Johan Balthasaar Cassut (hal 203-212). Dia seorang misionaris Jesuit yang mengabdikan seluruh hidupnya pada sekolah teknik di Solo (ATMI Solo) dan ATMI Cikarang, hingga akhir hayatnya pada 24 Agustus 2013 lalu. Meski tidak disiapkan untuk mengelola sekolah teknik, tetapi ketika ditugaskan, pastor asal Swiss ini menjalankannya dengan sepenuh hati. Hasilnya? Mencengangkan.

Lulusan ATMI Solo selalu siap kerja dengan berbagai kualitas baik akademik maupun integritas kepribadian, kejujuran, disiplin, dan semangat kerja keras. Bukan hanya itu. Dia berperan sangat penting dalam kemajuan industri di Indonesia. Tetapi dia tidak butuh penghargaan dari Pemerintah Indonesia.

Begitu juga cerita tentang Aloysius Giyai, seorang dokter gigi yang lahir dari keluarga miskin Papua lalu kemudian mengabdi untuk kaumnya, melayani orang-orang miskin di tanah Papua (hal 151-161). Kini, dia menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, Papua. Demi melayani orang, dia tidak jarang menabrak aturan untuk melayani orang-orang miskin yang tidak mendapat kartu Jaringan Pengaman Sosial Bidang Kesehatan.

Satu lagi tokoh yang diangkat adalah Dr Kebamoto lulusan Universitas Muenchen Jerman. Dia anak orang miskin dan buta huruf dari Sumba, NTT dengan fasilitas pendidikan yang sangat minim pada masa kecil, tetapi dianugerahi otak yang cemerlang. Dia kemudian bisa meraih pendidikan tinggi hingga tingkat doktoral di Jerman dan bahkan berhasil menemukan “Coating Nano Composite” (suku cadang yang lebih keras dari intan dan bisa dipakai sebanyak 3000 kali dan dipasang pada alat potong). Selain aktif mengajar di Universitas Indonesia, dia mengabdikan waktu dan tenaganya untuk memberdayakan masyarakat NTT. Dia mengajarkan anak-anak sekolah NTT tentang bagaimana belajar fisika. Dia juga memberikan pelatihan kepada guru-guru tentang metode mengajar yang efektif dan menyenangkan untuk para siswa.

Masih banyak tokoh yang diangkat Eman dalam bukunya itu yang kesemuanya bisa menginspirasi siapa pun. Dan, uniknya, tokoh-tokoh yang diangkat itu kebanyakan mereka yang mungkin belum dikenal banyak orang. Tetapi tak bisa disangkal lagi bahwa mereka adalah orang-orang hebat lebih karena karya mereka, sebagaimana diungkapkan Jaya Suprana dalam epilognya.

“Mereka ini dipilih karena nilai hidup dan karya yang mereka tawarkan. Karena kedua nilai inilah mereka layak digelari “Orang Hebat”. Dan menariknya, kehebatan mereka itu tidak mereka umbar,” tulis Jaya Suprana dalam epilog buku tersebut. (Alex Madji)