Home Umum Inikah Aktor Politik yang Dimaksud Jokowi?

Inikah Aktor Politik yang Dimaksud Jokowi?

1911
0
SHARE
Sumber Foto: Posmetro Medan

Jumat, 4 November 2016, menjelang tengah malam, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar jumpa pers di Istana Merdeka menanggapi aksi unjuk rasa besar-besaran sepanjang hari itu yang mula-mula berlangsung damai dan simpatik, tapi berujung rusuh. Pernyataan paling penting Jokowi malam itu adalah bahwa aksi yang berujung kerusuhan tersebut ditunggangi kepentingan politik.

Jokowi berkata begini, “… Terima kasih kami sampaikan kepada para ulama, para kyai, para habaib, para ustaz yang telah memimpin umatnya yang menyejukkan sehingga sampai Maghrib tadi berjalan dengan tertib dan damai. Tapi kita menyesalkan kejadian ba’da Isya yang seharusnya sudah bubar, tetapi menjadi rusuh. Dan ini kita lihat telah ditunggangi oleh aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi…” Kutipan tersebut saya ambil dari sini.

Keesokan harinya, Harian Kompas menjadikan pernyataan ini sebagai berita utama halaman satu. Aksi demonya sendiri hanya ada di dalam tubuh berita. Minggu, 6 November 2016, harian yang sama masih menjadikan isu itu sebagai berita utama. Kali ini, mereka mengutip pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bahwa Presiden memiliki bukti dari informasi intelijen dan kepolisian tentang keterlibatan aktor politik dalam aksi tersebut.

Setelah pernyataan ini, muncul beberapa tanggapan. Ada politisi seperti Fadli Zon serta pengamat politik dan hukum yang komentarnya tersebar di sejumlah media online. Tapi dari sekian banyak orang yang menanggapi pernyataan Jokowi itu, saya lebih tertarik pada pernyataan yang dibuat Agus Harimurti Yudhoyono.

Mengapa? Karena, pertama, ia adalah salah satu calon gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Syilviana Murni. Kedua, ia adalah pensiunan TNI berpangkat mayor. Ketiga, ia adalah putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Agus Yudhoyono membuat pernyataan menanggapi Jokowi di Condet, Jakarta Timur, Sabtu, 5 November 2016. Ia bilang begini, “Saya pikir kita semua menyaksikan apa yang terjadi kemarin. Marilah kita berpikir jernih menggunakan akal sehat. Saya mengimbau tidak baik melakukan prasangka-prasangka.”

Ia melanjutkan, “Yang jelas setiap isu harus diselesaikan dengan baik, dengan profesional, dengan cepat, serta dengan urgensi yang ditunjukkan. Jangan sampai suatu permasalahan berlarut-larut dan belum selesai, solusi belum hadir. Sudah menciptakan masalah berikutnya.” Saya ambil kutipan ini dari sini.

Agus tergolong berani. Mungkin ia satu-satunya mantan mayor yang berani menanggapi seorang presiden. Pensiunan jenderal saja tidak menanggapi pernyataan Jokowi. Tetapi sebagai prajurit ia memang harus berani. Ia memanfaatkan panggung ini untuk menaikkan popularitasnya menjelang pilgub DKI 2017. Mungkin ia benar. Dalam negara demokrasi seperti ini, ia bisa bicara apa saja. Bebas. Tapi, saya kira ia tidak cermat dan terlalu reaktif. Saya melihat, komentar Agus ini justru langsung menjawab siapa yang dimaksud Jokowi dengan aktor politik.

Sebab Rabu, 2 November 2016, ayahnya, SBY membuat pernyataan politik yang menghebohkan dan blunder sehingga menjadi bulan-bulanan pengguna media sosial. Ia mendesak supaya Ahok diusut dan diadili atas kasus penistaan agama. Ahok, kata SBY, jangan sampai terkesan kebal hukum. Padahal, sebelum demo besar Jumat 4 November 2016 dan sebelum SBY membuat pernyataan ini, kasus tersebut sedang diselidiki polisi.

Baca juga: Provokasi SBY Sukses 

Bingkai

Keterangan pers atau yang lebih tepat pidato politik SBY di Cikeas itu membuat semua mata membelalak ke sana. Frame, terutama dari media sosial, pun langsung tercipta dengan sendirinya bahwa SBY tertuduh sebagai orang di belakang aksi unjuk rasa besar-besaran ini dengan mendatangkan orang-orang dari luar Jakarta.

Sumber Foto: Mindtalk
Sumber Foto: Mindtalk

Framing ini kembali diperkuat oleh pernyataan Agus Yudhoyono di atas tadi. Apalagi kalau melihat rekaman video yang beredar luas di media sosial, yang berisi pernyataan mereka yang mengikuti demonstrasi besar Jumat, 4 November 2016. Baik yang bicara pada video itu (seorang pria berjenggot lebat dan berpakaian gamis) maupun yang ada di sekelilingnya, semua mengacungkan jari telunjuk. Ini simbol yang dipakai Agus/Sylvi sebagai pasangan Cagub/cawagub nomor satu.

Reaksi Ani Yudhoyono lewat akun istagramnya @aniyudhoyono yang dikutip berbagai media online seperti pada berita ini sebagai sumber berita justru semakin mempertajam frame tersebut. Menjawab pertanyaan pengguna akun @estikartika2410, Ani Yudhoyono menulis:

“Saya sangat menghargai pendapatmu. 10 tahun pak SBY memimpin negara, tidak ada DNA keluarga kami berbuat yg tidak-tidak. Jadi kalau ada tuduhan kpd pak SBY yg menggerakan dan mendanai aksi damai 4 Nov lalu, itu bukan hanya fitnah yg keji, tetapi juga penghinaan yang luar biasa kpd pak SBY. Dalam perjalanan hidupnya selama 30 th di TNI dan selanjutnya di pemerintahan, pak SBY telah mengabdi kepada bangsa dan negara, siap mempertahankan dan membela NKRI dengan taruhan nyawanya. Sekali lagi, tuduhan itu sangat kejam. Allah Maha Tahu apa yang kami lakukan selama ini.”

Meski demikian, Jokowi juga perlu menjawab pertanyaan Fadli Zon, siapa aktor politik yang dimaksud dalam pernyataannya. Siapa tahu analisa saya di atas keliru dan pernyataan Ani Yudhoyono benar. Tapi mengutip Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Jokowi sudah pegang bukti dari infromasi intelijen dan polisi. Nanti polisi yang akan bertindak. Jadi, kita tunggu saja episode selanjutnya. (Alex Madji)