Intim dengan Buah Hati

Intim dengan Buah Hati

316
SHARE

Sudah beberapa hari, blog ini tidak di”update”. Alasannya, karena saya sedang mengalami masalah di rumah. Dua pembantu kami meninggalkan rumah begitu saja, tanpa pemberitahuan. Tak tahu pula kemana mereka pergi. Untung, dua anak kami dititipkan di saudara saya yang rumahnya hanya sepelemparan batu jauhnya dari rumah kami. Mereka bermain bersama sepupu-sepupunya di situ ketika saya menjemputnya pada Rabu 13 Maret 2013 sore.

Kepergian dua pembantu baru diketahui ketika saya tiba di rumah, kondisi rumah gelap pada sore itu. Padahal, sudah jam 18.30. Biasanya, anak-anak sudah menyambut saya begitu mendengar suara motor saya. Beberapa saat kemudian, baru saya tahu bahwa dua pembantu itu kabur setelah diberitahu istri saya. Sempat agak emosi. Terutama karena cara mereka pergi meninggalkan rumah sangat tidak sopan. Mereka pergi bagaikan pencuri. Padahal, waktu datang, mereka bagaikan tuan.

Tetapi begitulah kondisi riil dunia pembantu rumah tangga. Kadang-kadang tidak tahu sopan santun. Mungkin hal ini terkait tingkat pendidikan yang rendah. Dan masalah seperti ini kerap terjadi dan dialami oleh beberapa orang lain.

Sejak itu, saya dan istri pun membagi tugas mengurus anak dan rumah. Pembagian tugas itu dilakukan berdasarkan jam kerja kantor masing-masing. Kebetulan saya bisa pulang setelah deadline, sementara istri saya bisa masuk kantor agak siang, kecuali kalau ada tugas pagi yang memang harus diselesaikan.

Prinsip dasarnya, kehilangan pembantu jangan sampai mengorbankan hal-hal lain yang lebih penting. Malah ini momentum yang bagus untuk semakin intim dengan anak.

Maka kami putuskan jaga anak dan urus rumah dibagi dua sift. Sift satu mulai jam 06.30 sampai pukul 13.00. Ini menjadi tanggung jawab istri saya. Sift dua mulai jam 13.00 sampai malam menjadi tanggung jawab saya. Kerjanya, mulai dari maen bareng, suapin, mandiin, cuci piring, masak nasi, nyapu-ngepel. Pokoknya, semua pekerjaan rumah.

Sejauh ini, hingga artikel ini dibuat, belum menemukan masalah, alias berjalan baik dan lancar-lancar saja. Rumah pun lumayan bersih.

Lebih dari itu, ada hal positif dari masalah yang dihadapi ini. Yaitu, kami semakin dekat dengan anak-anak. Waktu untuk bermain bersama mereka semakin banyak. Dengan demikian diharapkan hubungan dengan mereka akan semakin intim. Mereka semakin dekat dengan orang tuanya dan tidak melihat orang tuanya sebagai “om dan tante” yang hanya bertemu beberapa jam pada malam hari sepulang kerja.

Saya lalu teringat, seorang sahabat pernah bilang bahwa kedekatan dengan anak pada usia-usia dini seperti ini akan sangat menentukan kualitas hubungan atau relasi orang tua anak ketika mereka bertumbuh menjadi remaja dan orang dewasa di kemudian hari.

Saya hanya mau katakan bahwa intensitas hubungan dengan anak sangat penting. Dan kehilangan pembantu menjadi momentum untuk semakin intim dengan buah hati. Karena itu, jangan menyerahkan urusan anak pada pembantu. Tetapi uruslah sendiri.

Memang risikonya, banyak pekerjaan lain yang terlantar dan tidak terurus. Tetapi pada situasi seperti itulah mulai memilih berdasarkan skla prioritas. Dan, saat ini, saya prioritaskan untuk mengurus anak. (Alex Madji)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY