Home Umum Jadi Bapak Rumah Tangga, Siapa Takut?

Jadi Bapak Rumah Tangga, Siapa Takut?

969
0
SHARE
Foto Ilustrasi diambil dari www.mommiestories.com

Istilah ibu rumah tangga sudah sangat lazim. Bahkan, ini menjadi status atau profesi. Di Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagian kaum perempuan, pada kolom pekerjaan, tertulis sebagai ibu rumah tangga. Tapi, jarang sekali kita mendengar istilah bapak rumah tangga. Mengapa? Ini terkait status bapak sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah.

Karena itu, di kelompok masyarakat tertentu, tidak ada kaum bapak yang membantu pekerjaan istri di dapur untuk sekadar mencuci piring, menyapu, mengepel, setrika, jaga anak, dan berbagai jenis pekerjaan rumah tangga lainnya. Bapak-bapak dilayani sebagai “raja”.

Tapi pada masa kini, tidak sedikit kaum perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia bekerja kantoran untuk menghidup keluarga. Pada saat yang sama, ia merangkap sebagai ibu rumah tangga. Ia mengurus rumah; mulai dari mencuci, setrika, masak, bersih-bersih rumah, mengurus anak, dan sebagainya. Ketika ada asisten rumah tangga, sebagian pekerjaan bisa didelegasikan.

Tapi asisten rumah tangga kerap kali menjadi soal dalam kehidupan kota besar seperti Jakarta. Asisten rumah tangga kadang hanya datang untuk sebulan lalu pergi. Atau bahkan ada yang bertahan hanya dalam hitungan hari. Ketika orang-orang seperti ini pergi, maka segala urusan rumah tangga diambil alih sendiri.

Menyerahkan semua urusan rumah tangga kepada istri juga tidak adil. Apalagi ia masih bekerja. Maka di sinilah peran bapak rumah tangga sangat diperlukan. Artinya pekerjaan rumah tangga bukan hanya menjadi tanggung jawab istri tapi juga suami. Mungkin di beberapa keluarga hal ini tidak biasa. Bahkan bisa menimbulkan percecokan. Pada sejumlah keluarga lain, hal seperti ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah.

Urusan

Kami, misalnya, dalam satu bulan terakhir segala urusan rumah tangga dikerjakan sendiri sejak ponakan yang tinggal dengan kami selama dua setengah tahun terakhir memilih tinggal di kos. Sebelum ia datang, kami juga mengurus rumah tangga sendiri selama enam bulan. Jadi, tidak soal.

Saya dan istri saya sama-sama bekerja. Kebetulan waktu kerja kami cukup fleksibel. Kami bisa berbagi tugas dengan enak. Pagi-pagi, istri memasak menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Nanti pada pukul 06.30 WIB, saya mengantar anak pertama ke sekolah lalu terus ke kantor. Kemudian, jam 10.00 WIB, istri saya mengantar anak nomor dua ke sekolah lalu nanti lanjut ke kantor. Pulang sekolah, anak-anak pakai jemputan.

Kami sedikit terbantu karena ada adik ipar yang rumah berdekatan. Pulang sekolah, anak-anak didrop di rumah adik ipar saya. Mereka makan dan tidur siang di sana. Kadang juga mereka mandi di sana. Lalu sore, sekitar jam 16.00 WIB, saya sudah tiba di rumah. Sekarang giliran saya yang mengurus rumah. Mulai dari mencuci alat-alat masak, piring, sapu ngepel, memanas makanan yang sudah dimasak istri saya. Juga menyiapkan makan malam untuk anak-anak, lalu mencuci atau jemur pakaian. Kadang juga mengantar pakaian ke loundry serta sikat kamar mandi. Atau kalau istri tidak sempat masak, saya harus masak. Dan, bisa. Soal rasa, itu belakangan.

Sedapat mungkin ketika istri sudah pulang kantor sekitar jam 20.00 atau 21.00 WIB, rumah sudah beres. Ia tidak dibebani lagi dengan urusan mencuci piring dan pekerjaan-pekerjaan tetek bengek lainnya. Tapi kadang memang perempuan tidak bisa diam. Ia masih akan membereskan pekerjaan rumah yang belum rampung dan luput dari perhatian saya. Kalau sudah begini, saya harus akui bahwa perempuan memang detail.

Tapi saya hanya mau mengatakan bahwa sudah bukan zamannya lagi urusan rumah tangga dibebankan hanya kepada istri. Apalagi, istri bekerja. Ayah/bapak-bapak juga harus bisa dan mau menjadi bapak rumah tangga dengan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Tinggal bagi tugas yang baik dengan pasangan. Ini juga menjadi salah satu cara menjaga keharmonisan rumah tangga. Karena itu, bapak-bapak, selamat mencoba menjadi bapak rumah tangga. Nah bagimana di rumah Anda masing-masing? (Alex Madji)