Jadikanlah Aku Pembawa Damai

Jadikanlah Aku Pembawa Damai

102
SHARE
Sumber Foto: ofm.org

Rabu, 4 Oktober 2017, saya membuat status di Facebook, “Selamat Hari Raya St Fransiskus Asisi. Tuhan Jadikanlah Aku Pembawa Damai.” Ya, dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik, 4 Oktober adalah peringatan wajib St Fransiskus Asisi atau bagi para pengikutnya, keluarga besar Fransiskan, statusnya sebuah pesta.

Perayaan ini biasanya dimulai tanggal 3 Oktober sore hari yang disebut perayaan Transitus. Sebuah kenangan akan saat-saat Fransiskus menghadapi saudari maut, sebutan untuk kematian.

Transitus adalah peralihan kehidupan Fransiskus dari dunia yang fana ini ke kehidupan abadi lewat kematiannya. Biasanya, perayaan transitus itu lebih meriah dibanding pesta tanggal 4 Oktober. Suasananya mirip dengan tirakatan Jumat Agung.

Dari sekian banyak tulisan Santo Fransisksus, yang paling masyur adalah doa “Pembawa Damai” yang antara lain saya kutip pada status di atas tadi. Doa ini sangat indah dan selalu aktual pada setiap zaman. Ia tidak hanya milik keluarga fransiskan, tapi menjadi milik gereja seara keseluruhan. Bahkan boleh juga didaraskan oleh mereka yang berada di luar gereja, kalau berkenan.

Doa itu selengkapnya berbunyi:

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,

Bila terjadi kebencian,

jadikanlah aku pembawa cinta kasih,

Bila terjadi penghinaan,

jadikanlah aku pembawa pengampunan,

Bila terjadi perselisihan,

jadikanlah aku pembawa kerukunan,

Bila terjadi kebimbangan,

jadikanlah aku pembawa kepastian,

Bila terjadi kesesatan,

jadikanlah aku pembawa kebenaran,

Bila terjadi kecemasan,

Jadikanlah aku pembawa harapan,

Bila terjadi kesedihan,

jadikanlah aku sumber kegembiraan,

Bila terjadi kegelapan,

jadikanlah aku pembawa terang,

Tuhan semoga aku ingin menghibur daripada dihibur,

memahami daripada dipahami,

mencintai daripada dicintai,

sebab

dengan memberi aku menerima,

dengan mengampuni aku diampuni,

dengan mati suci aku bangkit lagi,

untuk hidup selama-lamanya.

Amin.

Doa ini masih sangat relevan didaraskan pada situasi sosial Indonesia sekarang ini yang diwarnai saling mengumbar kebencian. Masih segar dalam ingatan, situasi mencekam terjadi selama hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta sejak pertengahan tahun lalu hingga awal tahun ini. Setelah pilkada, suasana sedikit mereda. Namun, kembali muncul lewat kemasan isu PKI menjelang peringatan hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2017.

Suasana panas kembali muncul setelah rekaman video Eggi Sudjana yang dianggap menyudutkan beberapa agama di Indonesia, termasuk Hindu dan Kristen viral di media sosiam sepanjang Kamis, 5 Oktober 2017. Eggi Sujana pun dilaporkan ke polisi dengan tuduhan melakukan ujaran kebencian.

Situasi panas ini diperkirakan akan terus terjadi hingga Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Emosi primordialisme akan dikocok habis hingga pilpres usai. Sentimen kebencian satu sama lain, antarpenganut agama yang satu dengan penganut agama yang lain, antar etnis itu dan ini, akan diputar ulang. Situasi ini bakal mencabik-cabik persatuan dan kesatuan, persis seperti yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Terkait situasi ini, pada sebuah acara sarasehan dalam rangka ulang tahun Paroki Bintaro Jaya, Gereja Santa Maria Regina 20 Agustus 2017, sebagai moderator sarasehan dengan pembicara tunggal Rm Benny Susatyo, saya menyitir Doa Damai St Fransiskus Asisi yang saya kutip di atas tadi.

Meski tidak disinggung sang pembicara, saya mengajak audiens untuk menjadi pembawa damai dalam situasi seperti yang saya gambarkan tadi. Minimal, saya mengingatkan diri sendiri untuk tidak menjadi provokator, melainkan sebagai pembawa damai paling tidak di lingkup paling kecil, keluarga saya dan di media sosial yang tiap hari saya pakai.

Bila Anda juga mau dan bisa menjadi pembawa damai, maka sadar atau tidak, kita sekaligus menjadi agen-agen perubahan. Kita mengubah masyarakat kita yang sedang sakit berat akibat dicekoki ideologi kebencian menjadi masyarakat yang suka damai, masyarakat yang tenteram. Tentu saja ini tidak mudah. Karena itu, bersama Fransiskus kita berdoa, “Tuhan Jadikanlah Aku Pembawa Damai.” (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY