Home Inspirasi Jaga Optimisme Anda

Jaga Optimisme Anda

1044
0
SHARE
Sumber Foto: www.starbrydge.com

Saya bukan pengusaha. Hanya karyawan biasa. Malah pegawai rendahan. Dalam kondisi perekonomian global dan Indonesia yang melambat seperti ini, para pengusaha pusing tujuh keliling. Mereka harus memutar otak bagaimana usaha tetap jalan dan pada saat bersamaan tidak merumahkan karyawan. Belum lagi menghadapi tuntutan karyawan yang minta menaikkan upah.

Seorang senior di kantor yang sangat paham ekonomi menyebutkan, situasi ekonomi saat ini setara dengan kondisi 1998. Bedanya, krisis 1998 menimpa sektor keuangan yang merembet ke mana-mana. Sedangkan saat ini menerpa sektor riil. Akibatnya, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di hampir semua sektor, termasuk industri pers. Media massa kehilangan sumber pendapatan dari kue iklan karena biaya sosialisasi atau apa pun namanya dipotong habis. Sementara sirkulasi terjun bebas menyusul lahirnya media-media “new era”. Dalam situasi seperti ini industri media mana pun sudah pasti megap-megap.

Sekadar contoh, gara-gara pelambatan ekonomi ini sejumlah media melakukan penghematan besar-besaran. Koran Tempo, misalnya, sudah mengurangi jumlah halaman menjadi tinggal 32. Koran Tempo edisi Minggu juga berhenti terbit. Di tempat saya bekerja juga melakukan hal serupa. Memangkas jumlah halaman hanya tersisa 32. Malahan, Harian Bola (anak usaha Tabloid Bola) harus berhenti cetak terhitung 2 November 2015.

Bagian dari paket penghematan ini adalah PHK. Ada gosip bahwa di beberapa media PHK sudah mulai dilakukan per November 2015. Bila gempa ekonomi global ini masih berlanjut sepanjang tahun depan maka Anda yang masih bekerja saat ini, siap-siaplah menyandang status PHK karena akan ada PHK besar-besaran.

PHK dan ancaman PKH itulah yang melanda karyawan seperti saya. Mungkin Anda juga. Bagi sebagian orang, PHK adalah monster yang menakutkan. Sebab PHK berarti asap dapur berhenti mengepul. Anak-anak terancam berhenti sekolah, fasilitas kesehatan tidak ter-cover oleh kantor lagi. Masih banyak dampak ikutannya. Tapi bagi orang lain, PHK ini adalah momen yang ditunggu-tunggu. Dengan PHK, karyawan mendapat pesangon dan dana ini bisa dialihkan ke deposito atau menjadi modal awal untuk naik ke kelas entrepreneur atau dunia wirausaha. Untuk orang-orang seperti ini, mereka sangat menunggu momen PHK ini bahkan mengajukan diri untuk di-PKH. Ada juga orang yang menjadikan PHK sebagai momen untuk memperbesar simpanan di bank sementara ia mencari pekerjaan baru.

Tapi satu hal yang pasti dalam situasi seperti ini adalah ada perasaan khawatir dan ketakutan kehilangan pekerjaan bagi mereka yang belum siap. Kalau situasi ini tidak dikelola dengan bagus bukan tidak mungkin berdampak buruk. Orang yang tidak siap mental untuk PHK bisa saja depresi. Maka agar tidak terjadi hal seperti itu, sikap yang sangat diperlukan adalah optimisme.

Apa itu? Ringkasnya, hidup dalam penuh pengharapan atau mengharapkan semua yang terbaik dalam segala hal. Penjelasan panjangnya, menurut kamus besar Bahasa Indonesia, optimisme adalah keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menguntungkan. Atau, selalu berpengharapan akan semua hal yang baik.

Dalam kondisi ekonomi yang melambat dengan ancaman PHK seperti ini, janganlah berpikir tentang yang buruk. Pandanglah segala sesuatu dari sudut yang baik saja. Dengan kata lain, selalu berpikir positif. Cara pikir positif ini akan membuat Anda selalu memiliki energi untuk melangkah atau bahkan melompat lebih tinggi, ketika benar-benar di PHK sekali pun. PHK bukan akhir dari segalanya. Ini peluang untuk menatap hidup lebih baik dari sekarang. Itulah arti sebuah optimisme. (Alex Madji)