Jalan Keheningan Maria Hartiningsih

Jalan Keheningan Maria Hartiningsih

445
SHARE
Foto: Ciarciar.com

Sastrawan Brasil, Paulo Coelho pernah melakukan ziarah ke Santiago de Compestela di Spanyol atau yang terkenal dengan sebutan Camino Santiago de Compestela. Kisah berjalan kaki yang menempuh jarak ratusan kilometer dari wilayah Prancis ke Santiago de Compestella, Spanyol, ini kemudian ia tulis dalam bentuk novel. Ziarah ini menjadi titik awal perubahan hidup Paulo Coelho.

Memang, Paulo Coelho menghasilkan beberapa buku dari kisah perjalanan seperti ini. Ia pernah menulis novel yang berisi tentang pengalamannya naik kereta api sepanjang Siberia di Rusia untuk menjumpai para pembaca setianya serta para penerbit. Dibumbui sedikit imajinasi, hasil karyanya menjadi bahan bacaan yang sangat enak. Novel ini berjudul “Aleph”.

Sebenarnya, Paulo Coelho bukan orang pertama yang menulis tentang kisah perjalanan ziarah Camino Santiago de Compestela. Berada-abad sebelumnya, kisah-kisah perjalanan ini sudah banyak bertebaran. Maklum, ini adalah tempat ziarah sangat tua. Tapi, tentu saja sudut pandang dan refleksi tentang ziarah itu selalu berbeda dari satu penulis dengan penulis lainnya. Termasuk Paulo Coelho. Tergantung itensi dan tujuan melakukan ziarah tersebut.

Itu sebabnya, wartawan Kompas, Maria Hartiningsih mengaku bahwa kisah perjalanan Camino Santiago de Compestela yang ditulis Paulo Coelho sangat menginspirasinya. Ia pun melakukan perjalanan ziarah serupa dan nukilan pengalaman ziarah tersebut ia tuliskan dalam buku berjudul, Jalan Pulang. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Januari 2017.

Maria Hartiningsih mencatat perjalanan ziarah, Camino Santiago de Compestela, dengan sangat deteil. Bukan hanya perjalanannya itu sendiri, tetapi setiap perhentian, ia lukiskan dengan sangat jelas. Situasinya dan apa yang ia lihat dan rasakan sepanjang ziarah itu dituangkan dalam buku ini. Lebih banyak, perjalanan itu dilakukan dalam hening, meski ada begitu banyak orang yang melakukan perjalanan serupa. Membaca buku ini, serasa kita juga berjalan bersamanya.

Dalam ziarah tersebut, Maria Hartiningsih tidak hanya bertugas sebagai wartawan yang mencatatkan secara detail tentang perjalanannya. Termasuk dialog dengan sesama peziarah, tidak luput dari rekamannya. Lebih dari itu, ia melakukan refleksi yang sangat dalam. Tentang hidupnya, dan paling banyak, paling kuat, dan paling tajam adalah tentang kemanusiaan. Ia merenungkan topik ini pada setiap perhentian menuju Santiago de Compestella.

Karena itu, saya tidak menganggap buku ini sebagai sebuah novel. Bagi saya, Jalan Pulang adalah sebuah buku sejarah yang ilmiah karena dilengkapi dengan catatan kaki. Disajikan dengan cara yang enak dan mudah dimengerti sehingga membacanya serasa membaca sebuah novel kisah nyata.

Dalam refleksinya, wartawan yang sudah pensiun dari Kompas ini sangat jujur dengan dirinya sendiri. Ia tidak menyembunyikan suasana batinnya. Ia ungkapkan dengan terus terang ketika batinnya diliputi rasa tenang, sangat indah, dan penuh kebahagiaan berada di kapel dan gereja-gereja yang sepi dan teduh sepanjang ziarah itu. Tapi, ia juga kadang mengalami kegersangan batin dan tidak merasakan apa-apa.

Puncak

Puncak dari ziarah Camino Santiago de Compestela selama 10 hari ini adalah Katedral Santiago de Compestella yang terletak di Kota Tua Santiago de Compestela yang sudah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Banyak cara orang meluapkan kegembiraannya setelah mencapai tujuan akhir.

Tapi, Maria Hartiningsi sendiri menulis, “Sementara aku tak merasakan gejolak apa pun. Kulihat pemandangan dengan luar biasa dengan sejarah panjang dari masa lalu yang selama ini hanya bisa kulihat gambarnya. Kini aku berdiri di jantungnya dengan perasaan datar. Apakah Katedral ini tujuanku? Ketibaan di Katedral Santiago, meski membuat lega, menjadi anti-klimaks. Ingatanku tidak beranjak dari seluruh pengalaman selama perjalanan…” (hal 130)

Setelah menyelesaikan Camino Santiago de Compestela, Maria Hartiningsih melanjutkan ziarah ke tempat penampakan Bunda Maria di Lourdes, Prancis. Di sana, ia juga masuk dalam keheningan. Lagi-lagi refleksi tentang kemanusiaan sangat tajam terlihat selama permenungannya di sini.

Puncaknya, ketika bertemu dengan seorang relawan Santa Teresa dari Kolkata di Lourdes, ingatan Maria Hartisingsih langsung terbang ke India ketika juga menjadi relawan di salah satu rumah perawatan orang-orang yang hendak menjemput ajal di Kolkata. Maria menceritakan kembali kisah pelayanan ini dengan sangat lengkap, deteil, dan sangat menyentuh.

Tidak puas dengan keheningan di Lourdes, Maria Hartiningsih mengejar keheningan lain di Plum Village, juga di Prancis. Ini adalah tempat pertapaan para rahib Budha seluas 35 hektar. Maria Hartiningsih lagi-lagi masuk dalam keheningan di tempat ini guna mengasah ketajamannya dalam refleksi tentang kemanusiaan.

Buku setebal 461 halaman ini ini kemudian ditutup dengan kisah keikutsertaannya pada konferensi tentang perempuan sufi di Aljazair dan perjumpaan dengan tokoh-tokoh sufi terkenal seperti Syeikh Khaled Bentounes, Pemimpin Tarekat Persuadaraan Sufi Alawiyah di sana. Muaranya, ya itu tadi, tentang kemanusiaan dan tentang kedamaian.

Buku ini sangat penting dibaca oleh siapa pun, terutama oleh para pencinta dan penyokong nilai-nilai kemanusiaan universal. Maria Hartiningsih tidak terlalu menonjolkan sisi rohani Katolik dari perjalanan ziarah Camino Santiago de Compestela dan ke Lourdes. Yang ia utamakan adalah nilai-nilai kemanusiaan universal. Buku ini adalah sebuah kisah, sehingga tidak akan sulit dimengerti. Karena itu, selamat membaca. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY