Home Inspirasi Jangan Anggap Enteng Kartu Nama

Jangan Anggap Enteng Kartu Nama

1822
3
SHARE
Contoh Kartu Nama (foto: ciarciar.com)

Kartu nama, bentuknya sederhana. Isinya juga hanya nama institusi, nama dan alamat serta jabatan pemiliknya. Tersaji juga informasi-informasi seperti nomor telepon, alamat email sang empunya. Atau zaman sekarang, kartu nama dilengkapi pula dengan alamat akun facebook, twitter, whatsapp, atau PIN BB. Pokoknya semua informasi ringkas tentang bagaimana pemilik kartu nama itu hubungi. Pembuatannya pun gampang dengan harga terjangkau.

Kartu nama memiliki arti dan peran yang sangat penting. Ketika Anda bertemu seseorang dalam sebuah acara, yang diajak pertama adalah tukar kartu nama. Dengan kartu nama, Anda bisa mengenal lawan bicara Anda. Dalam dialog, Anda bisa langsung menyebut namanya sehingga bisa lebih akrab. Atau setelah itu, Anda bisa berkomunikasi lebih lanjut melalui berbagai platform media yang tertera pada kartu nama masing-masing.

Coba kalau tanpa kartu nama. Sambil ngobrol, sebenarnya dalam hati Anda bertanya siapa nama lawan bicara Anda itu. Atau setelah bicara ke sana kemari, pas pulang, Anda bertanya-tanya, siapa gerangan nama lawan bicara tadi. Tanpa bertukar kartu nama, Anda pasti tidak bisa berkomunikasi lagi dengan orang yang Anda jumpai itu. Beda kalau Anda bertukar kartu nama. Setelah pertemuan sesaat itu, Anda masih bisa menghubungi lebih lanjut.

Dalam dunia jurnalistik, kartu nama menjadi mutlak penting. Seorang reporter baru diingatkan untuk meminta kartu nama nara sumbernya pada kesempatan pertama. Maksudnya supaya dia bisa menulis nama dan atribut nara sumber yang diwawancarai dengan tepat. Lebih dari itu, kalau ada pernyataan yang membingungkan bisa ditelepon ulang untuk konfirmasi/klarifikasi. Di kesempatan lain, mereka akan menjadi nara sumber untuk isu-isu yang terkait dengan keahlian sang nara sumber.

Saking pentingnya sebuah kartu nama, maka sebagian tukang ojek sekarang juga mengantongi kartu nama guna memudahkan kliennya menghubungi. Atau dengan kartu nama itu, dia menjadi tukang ojek “panggilan” alias tukang ojek langganan.

Tetapi, di tengah masyarakat kita, masih ada semacam sebuah keyakinan bahwa yang punya kartu nama hanyalah para pekerja kantoran. Padahal tidak demikian. Seperti saya sudah bilang di atas, siapa saja bisa membuat kartu nama untuk kepentingan apa saja.

Kartu nama ini mutlak penting bagi para start up atau yang baru merintis usaha sendiri serta mereka yang akan memasuki dunia entrepreneur. Kalau dia dan usahanya mau dikenal orang, maka dia harus memiliki kartu nama. Dalam arti tertentu, kartu nama ini adalah aset.

Seorang pengusaha media yang sudah menerbitkan majalah dalam 11 tahun terakhir, William, bercerita, kartu nama adalah sebuah aset. Pada setiap kesempatan bertemu orang, lebih-lebih di pameran yang terkait segmentasi majalahnya, dia tidak canggung-canggung bertukar kartu nama.

Dengan bertukar kartu nama, dia bisa bertukar informasi melalui berbagai platform media seperti email, telepon, short message service (sms), whatsapp, atau blackberry messenger. Dari komunikasi itu, bukan tidak mungkin ada kepentingan bisnis yang tersangkut di antara kedua belah pihak. Atau minimal, mereka yang bertukar kartu nama menjadi narasumbernya.

Karena itu, setiap kali mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri, yang dilakukannya adalah bertukar kartu nama dan mengoleksi brosur peserta pameran. Biasanya, brosur-brosur itu disertai pula dengan kartu nama. Sesampai di kantornya, dia mengkomputerisasi kartu-kartu nama itu agar tidak tercecer. Ketika sewaktu-waktu dibutuhkan, bila kartu nama secara tak sengaja tercecer, minimal masih ada soft copy.

Dari kartu-kartu nama itu dia bisa berkomunikasi dengan para calon kliennya. Sistem dan cara kerja seperti itu sudah terbukti sukses. Usahanya terus berkembang, bahkan dia berencana melebarkan usahanya dengan menerbitkan media lain.

Karena kartu nama ini begitu penting, kepada anak buahnya dia mewajibkan mengumpulkan dan menyimpan kartu nama dari setiap orang yang dijumpainya secara rapi. Berkali-kali pula dia menegaskan bahwa kartu-kartu nama yang sudah dikumpulkan itu adalah aset. Karena itu jangan menganggap enteng dengan kartu nama.

Poinnya adalah buatlah kartu nama, bagikan kepada mereka yang dijumpai. Kumpulkan pula kartu-kartu nama dari orang-orang yang dijumpai. Siapa tahu mereka bisa menjadi klien untuk usaha Anda atau minimal bisa menjadi nara sumber Anda di kemudian hari. (Alex Madji)