Jangan Pikirkan Kegagalan, Serahkan pada Yang Di Atas

Jangan Pikirkan Kegagalan, Serahkan pada Yang Di Atas

188
SHARE
Sumber Ilustrasi: http://www.bisnislaundry.co.id

Dalam sebuah diskusi ringan bersama istri dan dua adik saya, Rabu 6 September 2017 malam, kami berbicara tentang sebuah rencana usaha kecil-kecilan. Kami membicarakan hal-hal yang harus dilakukan dalam menjalankan rencana tersebut. Semuanya sangat optimistis.

Tiba-tiba istri saya menyela. “Seharusnya kita tidak hanya memikirkan hal-hal seperti itu. Kita juga harus memikirkan bagaimana kalau rugi,” ucapnya. “Kita jangan terlalu memikirkan kegagalan, meski tetap harus mengantisipasinya. Sebab, kalau memikirkan hal tersebut, kita akan takut dan tidak bisa memulai,” timpal saya.

Diskusi malam itu berlangsung tidak lama. Dua adik saya kemudian memilih masuk kamar. Mata sudah merah. Padahal, baru jam 10 malam. Sementara, anak-anak masih menonton acara kesukaan mereka di televisi. Singkat cerita, diskusi berakhir tanpa keputusan berarti.

Lalu Kamis, 7 September 2017, pagi-pagi buta saya berangkat ke Kudus, Jawa Tengah, untuk sebuah undangan liputan. Dalam jumpa pers di GOR PB Djarum, Jati, Kudus, sore harinya, Direktur Program Djarum Foundation, Yoppy Rosimin membuat pernyataan yang menghentak ingatan saya akan diskusi kami malam sebelumnya di rumah.

Ia menjawab pertanyaan wartawan tentang cara mereka mencari atlet bulutangkis berbakat dari seluruh Indonesia bertajuk “Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis”. PB Djarum sudah melakukan kegiatan ini sejak 2006 alias sudah berjalan 11 tahun. Namun hasilnya, baru satu pemain yang memperlihatkan bakat yang luar biasa yaitu, pemain ganda putra, Kevin Sanjaya yang berhasil menjuarai All England 2017 bersama Marcus Gideon.

Teman wartawan tadi bertanya, bila hanya bisa menghasilkan seorang pemain super dalam 11 tahun, apakah pencarian bakat ini tidak dianggap gagal dan segera mencari bentuk lain? Jawaban Pak Yoppy cukup menghentak saya. “Kami tidak memikirkan kegagalannya. Sebab kalau kita hanya memikirkan kegagalan, kita tidak akan maju-maju. Kita tidak akan jalan. Jadi, kami jalan terus,” tegasnya.

Jawaban ini seolah menjadi refrein atas jawaban saya kepada istri pada diskusi singkat kami malam sebelumnya. Kemudian saya berpikir, untuk meraih kesuksesan, memang jangan terlalu memikirkan kegagalannya. Sebab, kegagalan itu adalah hantu yang membuat kita takut memulai melakukan sesuatu.

Kredonya adalah bahwa mulai saja dulu. Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Dalam perjalanan, kegagalan ini bisa diminimalisasi dengan memerhatikan sejumlah variabel yang sudah diukur dan peta yang sudah kita tentukan sebelum sebuah rencana usaha dimulai.

Selebihnya, kesuksesan yang diraih dari sebuah rencana usaha ini adalah campur tangan “Yang Di Atas”. Terkait ini, pengalaman mantan pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Hariyanto Arbi patut menjadi contoh yang sangat baik.

Pengalaman Hariyanto Arbi

Masih pada kesempatan jumpa pers dengan Pak Yoppy Rosimin beserta para legenda bulutangkis Indonesia itu, Hariyanto Arbi memberikan perspektif lain dalam meraih kesuksesan. Berdasarkan pengalamannya, kesuksesan yang ia raih juga tidak terlepas dari campur tangan “Yang Di Atas”.

Saya sering kali kalah dari pemain Cina. Tapi ketika hendak menjadi juara, pemain yang sering mengalahkan saya, bisa saya kalahkan. Menurut saya, ini jalan yang sudah diberikan Yang Di Atas,” ujarnya.

Hariyanto Arbi (Sumber foto: Swa.co.id)

Hariyanto Arbi adalah pemain tunggal putra Indonesia terakhir yang menjuarai All England, pada 1994. Ia juga menjuarai gelar yang sama pada 1993. Setelah dia, Indonesia masih memiliki pemain tunggal putra hebat yaitu Taufik Hidayat. Namun, pemain ini belum pernah menjuarai All England hingga pensiun sebagai pemain. “Mengapa Taufik tidak bisa menjuarai All England, karena Yang Di Atas belum memberi,” ucapnya terkekeh.

Poin yang mau saya sampaikan dari cerita di atas adalah bahwa, pertama, memulai sesuatu jangan diawali dengan sikap takut gagal. Bila diawali dengan cara seperti ini, maka seberapa bagus pun rencana dalam pikiran kita, pasti tidak akan berjalan. Karena itu, cara berpikirnya dibalik: segera mulai dan mengelola pontensi kegagalan secara baik guna meraih kesuksesan.

Namun, kedua, kesuksesan itu bukan hanya hasil usaha dan kerja keras manusia. Meskipun kita sudah memulai dan menjalankannya dengan prinsip-prinsip ilmu yang ketat, tapi restu dari Yang Di Atas juga sangat menentukan. Mungkin, ini sedikit naif. Namun, dalam konteks masyarakat yang percaya, hal ini patut diperhitungkan. Pengalaman Hariyanto Arbi tadi menjadi fakta.

Karena itu, sukses tidaknya sebuah usaha juga sangat ditentukan oleh Penyelenggaraan Ilahi atau Providentia Dei, selain usaha dan kerja keras manusia. Maka, mari segera memulai. Sisanya, serahkan kepada Yang Di Atas. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY