Jefian Ayomi Calon Bintang dari Timur

Jefian Ayomi Calon Bintang dari Timur

179
SHARE
Para mantan pemain, pemain, dan pengurus PB Tangkas Intiland foto bersama setelah peluncuran logo baru di Jakarta, Rabu, 3 Mei 2017 (Foto: Ciarciar.com)

Rabu, 3 Mei 2017, saya memenuhi undang seorang teman untuk menghadiri acara rebranding sekaligus peluncuran logo baru Perkumpulan Bulutangkis (PB) Tangkas Intiland di Jakarta. Perubahan logo ini dilakukan setelah PT Intiland Developement Tbk melalui Yayasan Intiland bermitra dengan PB Tangkas. Intiland menyuntikkan dana segar untuk klub yang sudah menghasilkan para legenda bulutangkis Indonesia tersebut.

Pada acara ini, hadir para legenda bulutangkis lulusan PB Tangkas seperti mantan pemain ganda putra Ricky Soebagdja, mantan pemain ganda campuran Nova Widhianto, dan mantan pemain tunggal putra Marleve Mainaky. Hadir juga pemain yang sedang berkibar di sektor ganda putra, Marcus Fernaldi Gideon.

Selain itu, hadir pula para pemain yang sedang dalam pembinaan PB Tangkas Intiland, calon-calon bintang bulutangkis Indonesia masa depan. Di antara mereka, ada seorang sosok yang cukup menyedot perhatian saya. Seorang bocah berkulit hitam, tapi manis. Apalagi kalau ia tersenyum. Ia begitu mencolok di antara pemain yang putih dan tinggi-tinggi. Ia bermain suit-suitan dengan “kakak-kakak”-nya. Yang kalah mendapat sanksi cubit telinga diselingi deraian tawa. Dalam hati, saya bertanya siapa gerangan anak ini.

Begitu acara peluncuran logo baru ini dimulai, rasa penasaran saya mulai terjawab oleh Ketua Umum PB Tangkas Intiland, Justian Suhandinata. Ia secara khusus memperkenalkan bocah berusia 9 tahun itu. Namanya, Jefian Vinara Paskalis Jevianda Ayomi. “Panjang sekali, kolom di KTP saja tidak cukup,” katanya sambil merangkul bocah ini.

Jefian, panggilannya, adalah anak angkat Panglima Kostrad yang juga Ketua Umum PSSI, Letjen TNI Edy Rahmayadi yang dititipkan ke PB Tangkas. Tapi, kata Justian Suhandinata, mereka menerima Jefian bukan karena ia anak angkat jenderal bintang tiga itu, melainkan karena ia betul-betul anak berbakat. “Untuk anak seusianya, ia luar biasa. Ia yang terbaik di levelnya. Bahkan, tidak kalah dari atlet-atlet yang berada di atasnya. Kalau wartawan mau tahu, silahkan datang dan lihat sendiri. Boleh juga adu dengan Jefian, dijamin pasti Anda kalah,” ujarnya.

Setelah acara, saya coba mengajaknya ngobrol. Ia tampak malu-malu dan takut bicara. Tapi karena didorong “kakak-kakaknya”, Jefian mulai menjawab sejumlah pertanyaan. Jefian bercerita, ia lahir di Merauke 23 Maret 2008. Sejak usia empat tahun, ia sudah mengenal bulutangkis dari ibunya. Meskipun, sang mama bukan seorang atlet bulutangkis. Kesukaannya pada olahraga tepok bulu ini kemudian membuahkan hasil. Ia menjuarai turnamen di Merauke.

Diboyong

Bakatnya tercium oleh Edy Rahmayadi. Ia kemudian diboyong ke Jakarta dan dititipkan ke PB Tangkas. Ia baru menimba ilmu bulutangkis di sana selama 1,5 tahun terakhir. Pertama ke Jakarta, ia diantar ayah ibunya. Kemudian, mereka kembali ke Merauke. Sekarang, ayah ibunya ikut pindah ke Jakarta mendampingi Jefian.

Di PB Tangkas, Jefian mengikuti jadwal latihan yang padat. Sehari, ia mengikuti dua kali sesi latihan, masing-masing sesi berdurasi dua jam. Pagi pada pukul 08.00-10.00 dan sore hari pukul 15.00-17.00 WIB. “Latihannya berat, tapi saya bisa mengikutinya dengan baik,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Jefian bercita-cita ingin menjadi seorang pemain tunggal putra. Karena itu, pebulutangkis idolanya adalah pemain asal Cina, Lin Dan. Sedangkan untuk pemain Indonesia, idolanya adalah Marcus Fernaldi Gideon, pemain ganda putra yang merebut All England, India Open, dan Malaysia Open sepanjang 2017. Fernaldi adalah juga jebolan PB Tangkas.

Justian Suhandinata yakin, Jefian akan menjadi pemain hebat di masa mendatang mengikuti jejak Fernaldi. Ia memiliki bakat yang lebih dari anak-anak lain. “Uniknya lagi, dia ini pemain kidal. Kalau dia sukses menjadi seorang pebulutangkis hebat, ini baru menjadi sensasi yang sangat positif,” kata Justian.

Justian menyerahkan misi menjadikan Jefian sebagai seorang pemain bulutangkis hebat kepada tim pelatih PB Tangkas Intiland. Kata Justian, hasilnya baru akan terlihat setelah 7-8 tahun menjalani pendidikan. Artinya, sinar Jefian baru akan terlihat ketika ia berusia 18-19 tahun. “Masa yang lain bisa sukses, yang ini tidak,” katanya setengah bercanda.

Sekarang, kita tinggal menunggu bersinarnya bintang Jefian. Mudah-mudahan, testimoni Justian Suhandinata tidak meleset. Semoga, dengan bantuan para pelatih di PB Tangkas Intiland, ia bisa menjadi pemain tunggal putra yang tangguh seperti Lin Dan dan bisa membangkitkan sektor tunggal putra Indonesia yang lagi melempem sejak Taufik Hidayat pensiun. (Alex Madji)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY