Home Inspirasi Jemput Kesuksesan dengan Bisnis Kue

Jemput Kesuksesan dengan Bisnis Kue

732
0
SHARE
Sumber Foto: http://manisnacks.com

Selasa, 17 Januari 2016 saya bertemu teman lama, Kurniadi. Kami pernah sekantor dan sama-sama di Desk Olahraga. Tapi, Mei 2016, ia mengajukan diri masuk dalam paket program pengurangan karyawan. Ketika itu, ia ingin meloncat jadi seorang entrepreneur di bidang distribusi air galon dan elpiji. Rencana bisnis sudah dibuat lengkap dengan segala macam perhitungan pengeluaran dan pendapatan. Sayang, ia mentok di modal.

Keputusan memilih “pensiun dini” dengan harapan pesangon yang lumayan bisa dipakai jadi modal usaha. Namun, sebelum ia pergi, saya sempat mengusulkan untuk menekuni usaha kue yang sudah ia mulai bersama istrinya. Usaha ini sudah ril menghasilkan duit, meski masih kecil. Singkat cerita, Kurniadi pun akhirnya pendi alias pensiun dini.

Setelah enam bulan lebih tidak bertemu, hari itu ia datang untuk mengakhiri keanggotaannya di koperasi karyawan. Ia bercerita banyak tentang kegiatannya selama tidak menjadi karyawan kantoran lagi sambil menyeruput kopi saset di kantin. Di luar hujan lebat mengguyur.

Dari ceritanya, ia ternyata batal mewujudkan rencana distribusi air dan elpiji. Kata istrinya yang punya aliran darah dagang dari orang tuanya, ia bakal gagal di usaha tersebut karena tidak punya pengalaman. Karena itu, dana yang tadinya disediakan untuk jadi modal awal usaha tersebut dipakai untuk renovasi rumah sehingga rumahnya sedikit lebih lega. Kurniadi sempat sedikit galau karena ambisi awalnya tidak terwujud.

Dengan dana sisa pesangon, Kurniadi bersama istri akhirnya memilih menekuni bisnis kue yang mereka sudah mulai cukup lama. Bedanya, sekarang sekalanya sedikit lebih besar. Kurniadi yang juga pintar masak itu bekerja seperti tukang sayur. Malam hari ia bikin adonan lalu goreng sebelum dijual pagi harinya. Siang hari ia beristirahat. Itu menjadi rutinitasnya dalam beberapa bulan terakhir.

Cara menjualnya pun masih sederhana dan tradisional sekali. Pemasaran dilakukan dari mulut ke mulut. Ia juga menjual dengan cara menitip ke beberapa kios di sekitar perumahannya di Bojong, Bogor. “Saat ini baru nitip di tiga kios,” ceritanya sambil menyulut kretek.

Selain itu, ia juga promosi ke beberapa instansi pemerintah seperti puskesmas di dekat kompleks perumahannya. Ia juga sedang memasukkan penawaran ke beberapa instansi pemerintah lainnya di Bogor. “Lumayan ada yang memesan. Bonusnya, kalau ada pegawai puskesmas yang bikin hajatan keluarga, pesan kuenya ke saya. Pernah, LIPI di Cibinog memesan sampai 650 kotak. Saya bekerja keras selama tiga hari dan harus merekrut tenaga lepas untuk memenuhi permintaan ini,” ceritanya lebih jauh.

Dapur Dora

Karena permintaan mulai meningkat, Kurniadi membeli freezer serta oven yang lebih besar dan bagus dengan cara mencicil. Ini sebagai antisipasi kalau-kalau ada permintaan lebih besar lagi. “Saya bilang ke istri, kita harus siap untuk menerima pesanan lebih besar lagi,” ujar ayah tiga anak ini menantang istrinya.

Foto: Mama Mega
Foto: Mama Mega

Agar tampilannya lebih menarik, ia meminta teman di kantor membuat disain yang cukup cantik dengan merek dagang “Dapur Dora”. Merek ini kemudian dipasang di kotak kuenya. “Ini usaha rumahan masih kecil-kecilan om,” imbuhnya.

Dengan hasil usaha ini, Kurniadi bisa terus menghidupi keluarganya. Meskipun, belum terlalu besar dan tidak sebesar gaji terakhir yang diterimanya sebagai karyawan. “Kalau dihitung-hitung secara bulanan, belum setara dengan gaji di sini om. Tapi setengahnya sudah dapat,” ceritanya lebih lanjut.

Tapi menjadi pekerja mandiri seperti ini memiliki banyak tantangan. Istilah Kurniadi, ada banyak kerikil dan bahkan batu-batu besar yang menjadi penghalang. Paling besar, kata dia, adalah diri sendiri. Karena itu, ia terus memotivasi diri dan istri agar tidak goyah serta fokus pada usaha ini. Sebab, fokus dan ketekunan, meski menghadapi berbagai kerikil, niscaya di ujung sana ada cahaya harapan akan kesuksesan besar.

Kurniadi menyimpan cita-cita besar. Usaha kue “Dapur Dora” menjadi langganan kantor-kantor pemerintah dan swasta dengan produksi 1.000 kotak per hari. Ini mimpi. Dan, Kurniadi sedang menuju ke sana. Ia sedang membangun fondasi guna mewujudkan mimpi tersebut. Saya pun hanya bisa mengucapkan, selamat menjemput kesuksesan Om Kurniadi. (Alex Madji)