Home Inspirasi Kemanusiaan Karya Besar Seorang Penderita Skizofrenia Bernama Pakwi

Karya Besar Seorang Penderita Skizofrenia Bernama Pakwi

1529
1
SHARE
Dwi Putro Mulyono Jati atau Pakwi sedang melukis di Bentara Budaya Jakarta (Foto: Ciarciar.com)

Sore itu, Kamis, 10 Oktober 2013, Dwi Putro Mulyono Jati atau yang akrab dipanggil Pakwi terus menarikan jemarinya di atas kanvas. Dia tidak peduli dengan para pembicara yang bersahut-sahutan pada diskusi  “Pameran Art Brut Pakwi” di Bentara Budaya Jakarta.

Dia serius mewarnai sketsa-sketsa gambar tokoh-tokoh wayang yang ditumpuk di sudut kanan atas mejanya. Sebuah penampi diletakkan di sudut kiri  untuk krayon berbagai warna. Jemarinya dengan lincah mengambil krayon-krayon itu. Sesekali dia memandang ke depan dengan tatapan serius. Tanpa ekspresi. Kemudian kembali menunduk memasuki dunianya. Dunia melukis. Hanya dalam tempo 10 menit, mewarnai satu lukisan kelar.

Sebelumnya, mulai Senin 9 September 2013, Pakwi menggores di atas kanvas sepanjang 88 meter dengan lebar 1,2 meter. Seluruh kanvas itu rampung digambari Pakwi hanya dalam tempo 4 hari 15 jam, dan 40 menit atau jauh lebih cepat dari prediksi beberapa orang. Pendiri ArtBrut, Joko Kisworo bercerita bahwa banyak keunikan tingkah Pakwi ketika berhadapan dengan kanvas kosong. Lelaki kelahiran Yogyakarta 10 Oktober 1963 ini mulai tidak betah melihat kanvas itu. Hasratnya untuk segera mengisi sangat tinggi. “Sampai kewalahan mencegah Pakwi untuk jangan melukis dulu, karena harus disaksikan MURI,” kata Joko.

Begitu dibolehkan, dia pun mulai melukis wayang. Ini pilihan Pakwi sendiri. Tanpa suruhan. Tanpa perintah. Ketika dimulai, ada yang menduga bahwa lukisan ini akan selesai 7-9 hari. Ternyata meleset. Bayangkan. Sketsanya saja selesai dalam satu hari. Sketsa-sketsa itu tidak seluruh tubuh. Hanya potongan, rata-rata mulai perut ke atas. Ini pun bukan atas perintah Nawa Tunggal, adik nomor sembilan dan kini menjadi asistennya, tetapi murni ekspresi kebebasan Pakwi.

Pada hari kedua, Pakwi sempat mogok menggambar. “Mungkin ngambek. Enggak mau melukis. Kita bingung karena mau dicatat MURI, tapi kok enggak mau lukis. Dia berjalan. Tetapi ada kesukaan lain dari Pakwi, yaitu bermain air. Dia bisa bermain air selama tiga jam di kamar mandi. Dia masuk kamar mandi, menyirami kepala dan badannya. Kemudian, diajak lagi dan lama kelamaan mau melukis,” cerita Joko.

Tetapi setelah hari kedua, nafsu melukis Pakwi tak terbendung lagi. Dia melukis siang malam tanpa henti. Tidak tidur. Pada hari keempat, pekerjaan melukis di atas kanvas 88 meter tersebut rampung.

Hasilnya? Mencengangkan. Seluruh bidang kanvas dipenuhi gambar-gambar wayang Purwa dalam kisah Mahabrata yang diadaptasi masyarakat Jawa. Lukisan indah dan mengagumkan ini kemudian meraih penghargaan MURI dan ditempel melingkar memenuhi dinding ruang pameran Bentara Budaya Jakarta.

Bukan hanya itu. Masih ada satu kanvas cukup besar berisi gambar dua tokoh wayang yang dipamerkan dalam ruangan tersebut. Sementara gambar-gambar wayang yang digores di atas kanvas ukuran jauh lebih kecil dibagikan secara gratis kepada pengunjung.

Jumlah lukisan Pakwi sudah tak terhitung banyaknya. Objeknya bukan hanya wayang. Dia bisa menggambar berbagai jenis burung. Pernah, dia menghasilkan 400 lukisan burung hanya dalam seminggu. Pakwi sangat produktif. Karena itulah dia layak digelari sebagai seorang seniman dan pelukis besar.

Skizofrenia

Pakwi berdiri di depan lukisannya pada pameran di Bentara Budaya Jakarta. (Foto: Ciarciar.com)
Pakwi berdiri di depan lukisannya pada pameran di Bentara Budaya Jakarta. (Foto: Ciarciar.com)

Tetapi Pakwi adalah seorang penyandang disabilitas mental. Dia juga tidak bisa bicara dan mendengar. Untuk yang terakhir ini, dia menggunakan alat bantu. Pakwi mengalami skizofrenia sejak masa kanak-kanak. Meski dilahirkan prematur, putra kedua dari 10 bersaudara pasangan FX Sri Mulyono dan Martina Suminah ini bertumbuh normal seperti anak-anak lainnya hingga usia Sekolah Dasar (SD). Tetapi mulai kelas III SD, kualitas pendengaran dan wicaranya menurun. Di sekolah normal, dia dua kali tidak naik kelas. Kemudian dipindahkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB).

Selama di sana, Pakwi tidak mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, seperti anak-anak lainnya. Tetapi ada satu hal mencolok di sini yakin kemampuan melukisnya muncul. Hobi lainnya ketika itu adalah menonton wayang kulit. Lalu pada usia 18 tahun, dia mulai tertarik pada lawan jenis. Perkembangan ini menjadi penanda bahwa Pakwi mengalami gangguan mental. Sebab, tidak seperti biasanya, dia berubah menjadi pemarah. Suka memukul adiknya serta suka menantang orang-orang di sekitarnya dengan mata melotot dan mulut seolah menahan amarah.

Pakwi sempat menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, kemudian dirawat jalan dan putus obat. Sempat pula melakukan rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Perhatian keluarga terhadap Pakwi mulai mengendur setelah ayahnya, FX Sri Mulyono, meninggal pada 1996, disusul Martina Suminah pada 1998.

Tetapi mulai 2001, Nawa Tunggal mengambil alih tanggung jawab mengurus sang kakak. Nawa yang kini bekerja sebagai wartawan Kompas itulah yang kemudian membimbing Pakwi menjadi seorang seniman besar. Seorang pelukis hebat. “Pada 2001, saya pulang dari Malang ke Yogyakarta. Di Benteng Kulon, saya ketemu Pakwi. Wajahnya lusuh. Sakunya penuh puntung rokok. Ketika di pojok Beteng Kulon, komunikasi bisu. Saya ajak pulang, tetapi enggak mau. Akhirnya pulang juga pada sekitar pukul 4-5 sore. Ketika pulang dia merasa lapar. Saya memberinya uang. Ini sebetulnya normal. Tidak gila karena masih bisa minta uang. Dia beli mie ayam dan sisa uangnya dikembalikan,” cerita Nawa mengenang.

Bakat melukis masa kecil Pakwi kemudian terendus oleh Nawa. Ketika itu, dia diberitahu adik bungsunya bahwa Pakwi melukis sepanjang 25 meter pada tembok. Mendengar itu, Nawa tertegun. Untuk membuktikan cerita sang adik, dia lalu membeli empat kertas manila dan disodorkan kepada Pakwi. Astaga. Hanya dalam tempo dua jam empat kertas itu sudah penuh gambar. “Waktu itu saya berpikir, Pakwi bisa dialihkan energinya buat sesuatu yang positif. Saya heran ketika Pakwi melukis, tetangga juga banyak yang heran. Tetangga memberi hormat pada Pakwi. Anak-anak remaja mengaku Pakwi pintar melukis,” tuturnya.

Menurut Nawa, yang kini menjadi asisten Pakwi, ada manfaat kegiatan melukis yaitu untuk menjaga kewarasan. Melukis menjadi bagian dari aktivitas menjaga kewarasan bagi mereka yang mengidap skizofrenia. Melukis bagi Pakwi adalah sebuah terapi kesembuhan. Pakwi, kata Nawa, memiliki ingatan yang sangat tajam dan kuat. Tokoh-tokoh wayang yang muncul dalam lukisan-lukisannya adalah hasil rekaman pada masa kanak-kanak dan remaja yang sangat gemar menonton wayang.

Pakwi mampu menggambar apa saja. Bukan hanya tokoh-tokoh wayang. Lukisan-lukisan burung yang juga dipamerkan pada ruang lain Bentara Budaya selama Oktober 2013 juga bagus-bagus. Kalau tidak melukis wayang, Pakwi suka melukis gunung seperti yang diajarkan guru-guru SD kepada murid-muridnya.

Dengan melukis, Pakwi menunjukkan kehebatannya. Dengan melahirkan karya besar di bidang seni lukis, Pakwi mau menunjukkan bahwa dia tidak boleh dianggap sebagai sampah masyarakat dan tidak disebut gila.

Dia justru menjadi inspirasi bagi orang yang secara mental tidak mengalami kelainan agar mengikis stigma gila dari kepalanya bagi mereka yang mengalami disabilitas mental yang juga lazim disebut penyandang gangguan mental. Sebab ternyata, orang-orang seperti ini juga mampu menghasilkan karya-karya besar dan memukau. Bahkan melebihi orang-orang normal, seperti yang diperlihatkan Pakwi pada dinding Bentara Budaya Jakarta yang sudah tercatat pula di rekor MURI. (Alex Madji)