Home Umum Kegalauan di Danamon Run 2018

Kegalauan di Danamon Run 2018

118
0
SHARE
Sejumlah pelari memasuki garis finis Danamon Run 2018. (Foto: Ciarciar.com)

Minggu 25 November 2018, saya ikut lari Danamon Run 2018 yang mulai dan finis di ICE Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang. Ambil kategori 10K. Kategori lainnya, 5K, 15K, dan 21K. Saya belum berani naik ke kelas 15K, apalagi 21K atau setengah maraton, karena dalam latihan belum pernah menempuh jarak sejauh itu. Rekor terjauh baru 12K. Itu pun bukan dalam lintasan lomba lari resmi, tetapi latihan sendiri.

Sebenarnya, ada juga godaan untuk mengambil jarak 15K pada Danamon Run 2018, tetapi khawatir tidak finis atau terjadi apa-apa. Apalagi, Race Director yang juga Race Director IdeaRun, penyelenggara lomba lari ini, Safrita Ayana mengingatkan peserta untuk tidak memaksa diri. Meskipun, di sepanjang trek, ada tim medis dan ambulans. Sebab kita berlari untuk kesehatan. “Selamat berlari,” ucapnya saat memberi sambutan singkat sebelum melepas pelari di garis awal pada pukul 05.15 WIB.

Danamon Run 2018 ini memang sangat unik. Pada saat bersamaan membuat pelari “galau”. Bahkan ada yang terkecoh. Sejak awal pendaftaran, peserta tidak diberi kesempatan untuk memilih berlari pada kategori tertentu. Pilihan dilakukan saat berlari di lintasan. Hal ini memang memberi kebebasan kepada pelari untuk memilih kategori sesuai kemampuan masing-masing sekaligus memberi pengalaman baru.

Hal seperti ini tidak saya temukan pada lomba-lomba lari sebelumnya. Saya selalu memilih/mendaftar atau didaftarkan untuk lari pada kategori 5K atau 10K. Jadi, jauh sebelumnya sudah ada pilihan. Karena itu pula, BIB yang diterima juga sesuai kategori yang dipilih saat mendaftar.

Nah, di Danamon Run 2018, saya termasuk yang sempat galau. Di persimpangan pertama antara kelompok 5K dan 10K, 15K, dan 21K, saya masih mantap sesuai rencana awal. Sejak semula, saya memang ingin lari 10K. Kegalauan terjadi di persimpangan saat kelompok 10K berpisah dengan kelompok 15K dan 21K. “10K ke kanan, 15K dan 21K ke kiri,” begitu teriak petugas trek dengan pelantang. Meskipun, di situ juga ada denah yang bisa dilihat semua pelari.

Saya sempat ingin belok kiri hendak ambil 15K. Namun segera sadar. Jangan-jangan saya tidak akan sampai garis finis. Karena khawatir, lalu mantapkan pada pilihan semula dan segera belok kanan di jalur 10K. Sejak melewati persimpangan itu, masih ada dua simpangan lagi untuk kelompok 15K dan 21K. Namun saya sudah mantap di 10K. Saya pun fokus di jarak itu hingga akhirnya menyentuh garis finis dengan catatan waktu satu jam dan 10 menit.

Rekaman ini lebih lambat dari catatan waktu sebelumnya di Bali Marathon 2018. Ketika itu, saya mencatatkan rekor pribadi satu jam dan empat menit untuk kategori yang sama. Padahal dari sudut race, Bali Marathon lebih menantang karena ada tanjakan. Di Danamon Run 2018, jalurnya flat alias datar.

Melihat catatan waktu yang melambat itu, saya mencoba memeriksa dan segera menemukan penyebabnya. Ternyata, karena saya mampir di hampir setiap water station alias stasiun air minum. Hanya dua water station yang saya lewati. Di Bali Marathon 2018, saya nyaris tidak berhenti di satu water station pun. Sebab saya percaya hidrasi saya cukup bagus.

Mengapa saya berhenti untuk minum? Cerita jatuhnya korban meninggal pada Borobudur Marathon 2018 hanya seminggu sebelum Danamon Run ini membuat saya lebih sadar. Kabar di sejumlah grup WA menyebutkan, pelari full marathon yang meninggal itu karena terlalu memaksa diri dan mengalami dehidrasi. Sejumlah artikel yang beredar belakangan juga membuat saya lebih memerhatikan masalah hidrasi. Korban meninggal pada ajang lari juga terjadi di Bali Marathon 2018, September lalu, di nomor 10K. Pengalaman- pengalaman inilah yang memantik kesadaran supaya berlari dengan selamat.

Kembali ke cerita keunikan Danamon Run 2018. Setelah mendapat medali, dua buah pisang, dan dua botol minuman, saya nguping obrolan seorang pelari dengan rekannya saat sambil peregangan otot. Seorang pelari pria mengaku kecele dengan keunikan yang diciptakan pada kegiatan lari tersebut. Tadinya, ia ingin lari 10K tapi keburu belok di lintasan 5K. Jadilah dia hanya berlari 5K pagi itu.

Saya tidak terlalu memerhatikan belokan 5K. Saya main belok saja,” ujarnya sambil tersenyum kepada temannya yang juga sedang basah kuyup setelah menghabiskan jarak 10K.

Keunikan-keunikan ini pada akhirnya menciptakan sensasi tersendiri. Mungkin bukan hanya untuk saya yang sempat galau atau bapak tadi yang kecele, tetapi juga 5.000 pelari lain yang mengambil bagian pada lomba ini. Pada akhirnya, pengalaman-pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa tagline yang diusung pada kegiatan ini, “Finismu, Pilihanmu” tercapai. (Alex Madji)