Home Umum Kejutan Debat I, dari Menghafal Sampai Baca Puisi

Kejutan Debat I, dari Menghafal Sampai Baca Puisi

644
0
SHARE
Sumber Foto: Tirto.id

Debat pertama Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta sudah berakhir Jumat 13 Januari 2017 malam. Publik Jakarta sudah mulai melihat siapa calon pemimpin sebenarnya, siapa hanya cocok jadi motivator di televisi dan mana yang masih harus belajar banyak bagaimana menjadi seorang pemimpin.

Sebelumnya, saya menulis tentang daya kejut yang bakal muncul pada debat tersebut. Fokusnya pada sosok pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang belum diketahui publik bagaimana mereka berdebat dengan dua pasangan lainnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Sebab, mereka tidak pernah hadir pada undangan debat-debat “swasta” sebelumnya.

Baca Artikel Ini: Menunggu Kejutan dari Debat Cagub DKI

Apa yang saya duga sebelumnya ternyata benar. Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni betul-betul mengejutkan. Agus tampil percaya diri. Suaranya tinggi dari awal sampai akhir. Diselingi penggunaan Bahasa Inggris di sana sini, seperti growth with equity dan beberapa istilah lainnya. Persis ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kerap menggunakan Bahasa Inggris di tengah pidato. Bedanya, SBY selalu lebih kalem. Suaranya tidak setinggi Agus kalau lagi bicara.

Justru Agus terlihat kalah kalem dari Ahok yang biasanya bicara emosional. Kalau Anies, tidak perlu dikatakan. Ia selalu tampil tenang di atas panggung dengan diksi yang enak didengar. Tapi, saya kok melihat Anies ini lebih cocok jadi motivator seperti Mario Teguh daripada menjadi gubernur. Apa yang disampaikannya tidak konkret dan di awang-awang. Dia bicara akhlak dan moral, tapi bagaimana caranya, tetap buram.

Sumber Foto: Dailymail.co.id
Sumber Foto: Dailymail.co.id


Dugaan bahwa Agus bakal gagap menjawab pertanyaan dan serangan dari Ahok-Djarot serta Anies-Sandiaga tak terlalu tampak. Meskipun jawaban atas pertanyaan dari dua pasangan ini tidak memuaskan. Tidak substantif. Ia kelihatan tidak berkutik ketika di-”tonjok” Ahok soal bantuan tunai sementara warisan SBY saat jadi presiden dua periode yang dinilai tidak mendidik rakyat.

Sebaliknya, ia menyerang Ahok dengan penggusuran. Ia pertanyakan di mana hati nurani Ahok-Djarot ketika menggusur karena meninggalkan derita rakyat Jakarta korban gusuran. Serangan yang sama dilakukan Anies terhadap Ahok. Tapi jawaban pasangan petahana ini sangat meyakinkan. Ahok bilang, mereka tidak menggusur sembarangan. Hanya memindahkan/merelokasi warga dari bantaran kali ke tempat hunian yang layak dan manusiawi. Dan, mereka takkan merelokasi bila rumah susunnya belum siap. Itulah cara yang paling manusiawi memperlakukan warga di bantaran kali. Sebaliknya, membiarkan warga kebanjiran, hidup tidak sehat, dan tidak layak di bantaran kali adalah tindakan/kebijakan yang tidak manusiawi.

Yang paling telak adalah jawaban Ahok bahwa jangan hanya menjual program tidak menggusur demi memenangi pilkada. Sebab tidak mungkin menormalisasi kali dan waduk tanpa memindahkan warga dari bantaran. Sementara pada saat yang sama pasangan nomor satu dan tiga bertekad mengatasi banjir. Itu kan ironis. Karena itu, saya menilai, ini pukulan paling telak untuk pasangan Agus-Sylvi dan Anies-Sandi yang menjual program tidak menggusur. Dengan kata lain, janji tidak menggusur hanya tipu-tipu menjelang pilkada atau akal bulus hanya untuk memenangi pilgub. Alhasil, senjata makan tuan.

Kejutan paling mencengangkan saya adalah penampilan Sylviana Murni. Setelah lama ditunggu publik berbicara karena dominasi Agus, ia muncul hanya seperti membaca puisi. Bahkan deklamasi. Ia juga “dipukul” Anies saat mengatakan, jawaban Sylvi atas pertanyaannya tentang pengawasan orang asing tidak nyambung. Ahok juga melayangkan “pukulan upper cut” dengan menyebutnya tak paham aturan keuangan. Ini betul-betul mengejutkan.

Lalu siapa bintang pada debat pertama ini? Meski pasangan Agus-Sylvi tampil mengejutkan, saya menilai, pasangan Ahok-Djarot menjadi bintang pada debat pertama ini. Mereka unggul dalam segala hal, terutama program yang realistis dan terukur. Lebih dari itu, sebagai petahana, sebagian dari program-program mereka sudah dirasakan oleh warga DKI Jakarta seperti sungai-sungai yang bersih, ruang terbuka, berkurang drastisnya titik-titik banjir, serta trotoar-trotoar yang mulai lebar dan memanjakan pejalan kaki.

Hanya saja, bagi saya, keunggulan Ahok-Djarot itu tidak mengejutkan karena mereka sudah diunggulkan dari awal. Yang mengejutkan saya adalah penampilan Agus yang percaya diri meski terlihat menghafal dan Sylvi yang berpuisi dan berdeklamasi di atas panggung. (Alex Madji)